AS dan Saudi Kompak Serang Irak, Milisi Syiah PMF: Eskalasi yang Berbahaya

AS dan Saudi Kompak Serang Irak, Milisi Syiah PMF: Eskalasi yang Berbahaya

Global | sindonews | Rabu, 29 Juli 2026 - 14:31
share

Milisi Syiah yang dikenal Pasukan Mobilisasi Populer Irak (PMF) mengatakan delapan anggotanya tewas dalam serangan gabungan Saudi-AS di lokasi mereka di seluruh Irak, dan empat lainnya terluka.

PMF mengatakan pasukan AS dan Saudi telah menyerang markas besarnya di berbagai wilayah Irak.

Dalam sebuah pernyataan, PMF mengatakan serangan tersebut merupakan "eskalasi yang sangat berbahaya" dan pelanggaran kedaulatan Irak serta lembaga keamanan resmi.

Ditambahkan bahwa pihak berwenang terkait sedang memantau situasi di lapangan sementara penilaian kerusakan dan penghitungan korban jiwa masih berlangsung.

Bahkan, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi telah mengadakan pertemuan darurat Dewan Menteri untuk Keamanan Nasional hari ini menyusul serangan mematikan AS-Arab Saudi terhadap negara itu semalam.

Kantor Al-Zaidi mengatakan "pernyataan terperinci mengenai peristiwa dan keputusan yang diambil" akan dirilis setelah pertemuan tersebut. Ali al-Zaidi diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada hari Kamis, beberapa hari setelah ia memerintahkan badan keamanan Irak untuk menyelidiki serangan pesawat tak berawak di Arab Saudi.

Sebelumnya, Arab Saudi dan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada Rabu pagi bahwa serangan udara gabungan menargetkan milisi yang didukung Iran di Irak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Amerika dan infrastruktur energi Saudi.

Kementerian Pertahanan Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan itu “sebagai tanggapan terhadap serangan drone baru-baru ini” dan bahwa pertahanan udara Saudi telah “mencegat dan menghancurkan beberapa drone yang mencoba menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur dan wilayah Riyadh…. diluncurkan dari wilayah Irak dan dilakukan oleh milisi teroris yang bersekutu dengan Iran”.

“Kerajaan menekankan bahwa mereka tidak mencari eskalasi tetapi akan menanggapi setiap agresi yang dihadapinya.”Dalam sebuah pernyataan, PMF – yang merupakan kelompok payung bagi milisi Irak yang didukung, dilatih, dan setia kepada Iran – mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan “eskalasi yang sangat berbahaya” dan pelanggaran terhadap kedaulatan Irak dan lembaga keamanan resmi.

Perlawanan Islam di Irak, sebuah kelompok bersenjata yang memproklamirkan diri sebagai kelompok perlawanan yang didukung oleh Iran, membantah peran apa pun dalam serangan terhadap Arab Saudi. Mereka mengatakan klaim Saudi adalah “rekayasa” dan bahwa “tindakan bodoh Saudi apa pun akan ditanggapi dengan keras”.

Masalah PMF selalu menjadi isu yang kontroversial antara pemerintah Irak dan AS serta negara-negara tetangga lainnya. Berdasarkan hukum Irak, PMF adalah bagian dari pasukan keamanan negara dan melapor langsung kepada panglima tertinggi yang juga merupakan perdana menteri. Pemerintah Irak sebelumnya gagal untuk mengendalikan kekuatan kelompok-kelompok bersenjata ini yang terkadang menyerang kedutaan AS di Baghdad dan pangkalan-pangkalan di seluruh Irak sesuka hati dan menolak perintah pemerintah atau militer.

Sekarang Arab Saudi mengatakan menegaskan kembali haknya untuk membela diri dan untuk merespons pada waktu yang tepat.

Kemudian, kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran telah mengutuk serangan AS-Arab Saudi terhadap Pasukan Mobilisasi Populer Irak.

“Kami menganggapnya sebagai tindakan keji, pengecut, dan tidak sah.”

"Ini adalah agresi ekstrem yang melanggar semua hukum dan piagam internasional, dan merupakan serangan terang-terangan terhadap kedaulatan Irak dan serangan terhadap rakyat Irak dalam semua komponen dan orientasinya," kata Houthi dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan oleh Al Masirah TV.

Topik Menarik