Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

Nasional | sindonews | Jum'at, 24 Juli 2026 - 17:41
share

Moh PurwadiMahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (MKPI), UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

SAYA masih ingat betul bagaimana kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Duduk di barisan depan, mendengarkan kiai berceramah dengan khusyuk. Suara kiai menggema di antara dinding masjid yang tua. Jemaah mengangguk-angguk, kadang menangis, kadang tersenyum. Itulah dakwah, pertemuan langsung antara penceramah dan pendengar, antara hati dan hati.

Sore ini, di sebuah caffee, saya melihat pemandangan yang sangat berbeda. Seorang pemuda duduk sendirian, ponsel di tangan, earphone di telinga. Layar ponselnya menampilkan seorang ustaz dengan pakaian rapi, berbicara di studio dengan latar belakang hijau. Pemuda itu tersenyum, sesekali mengangguk, lalu melanjutkan scrolling ke video berikutnya.

Dakwah telah bermigrasi. Dari mimbar ke layar. Dari masjid ke genggaman. Dan pertanyaannya sekarang: apakah pesan yang sampai masih sama?

Dunia yang Berubah

Angka-angka berbicara dengan keras. Laporan We Are Social (2025) mencatat pengguna internet di Indonesia telah melampaui 220 juta orang, dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari. Tiga jam sehari. Dalam setahun, itu berarti lebih dari 45 hari penuh tanpa tidur, hanya untuk menggulir layar.Di sinilah dakwah menemukan panggung barunya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi mengatakan, audiens umat sekarang sudah berubah total. "Mereka adalah anak muda, Generasi X, milenial, Z, hingga Generasi Alpha. Mereka semuanya digital native, sementara kami kelompok tua yang imigran digital. Gap ini harus diatasi," ujarnya.

Tapi gap itu bukan sekadar masalah teknis, siapa yang bisa mengunggah video dan siapa yang tidak. Ia adalah masalah peradaban. Cara orang mencari agama telah berubah. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen populasi Indonesia kini didominasi oleh generasi muda yang sebagian besar memperoleh pemahaman keagamaan dari ruang digital, bukan dari lembaga otoritatif. "Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma," kata Masduki.

Bayangkan. Seorang anak di Sumatera bisa membentuk pemahaman keagamaannya bukan dari guru ngajinya, bukan dari kitab kuning yang diajarkan kiai, melainkan dari video viral yang muncul di beranda TikTok-nya. Pertanyaan yang diajukan bukan lagi kepada ustaz di masjid, melainkan ke mesin pencarian.

"Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma. Mereka bertanya ke mesin pencarian atau media sosial. Ini fenomena baru yang berpotensi berbahaya karena algoritma itu alat yang tekstual, memotong ayat tanpa konteks," tegas Masduki.

Ketika Algoritma Jadi Guru

Inilah yang disebut sebagai algorithmic religion—orientasi keagamaan yang terbentuk oleh sistem algoritma media sosial dan kecerdasan buatan. Sebuah realitas di mana otoritas keulamaan yang selama ini menjadi rujukan umat mulai terdesak oleh sistem digital yang mengatur arus informasi."Otoritas ulama itu saat ini sedang terancam. Dan yang mengancam itu adalah algoritma di dalam mesin internet, di Google, di AI, dan berbagai platform lainnya," ujar Masduki.

Sosiolog Manuel Castells, dalam bukunya The Rise of the Network Society, menjelaskan bahwa kita telah beralih ke era di mana informasi adalah sumber kekuatan utama. Masyarakat tidak lagi terorganisasi secara hierarkis dari atas ke bawah, melainkan dalam bentuk jaringan yang fleksibel dan terdesentralisasi.

Kekuasaan tidak lagi mengalir dari atas ke bawah. Ia menyebar, terfragmentasi, dan terus berubah. Otoritas tidak lagi melekat pada jabatan atau lembaga, tetapi pada siapa yang mampu memproduksi dan menyebarkan informasi yang dipercaya.

Ini bukan sekadar kekhawatiran berlebihan. Algoritma bekerja dengan logika yang sangat berbeda dari logika dakwah tradisional. Algoritma tidak menilai kebenaran. Ia membaca keterlibatan. Konten yang provokatif, kontroversial, dan emosional cenderung mendapatkan lebih banyak interaksi dan karenanya lebih banyak tayangan. Sementara itu, narasi moderat yang mengusung Islam wasathiyah seringkali kalah cepat dibanding narasi ekstrem dan radikal.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah fenomena echo chamber—ruang gaung digital di mana informasi tertentu diperkuat tanpa verifikasi. "Begitu kita membaca satu, maka akan datang lima dengan tema yang sama. Makin masif, makin dianggap kebenaran," kata Masduki, menggambarkan situasi post-truth di mana opini yang terus diperkuat algoritma bisa menggeser posisi fakta.

Di sinilah dakwah digital berada di persimpangan. Di satu sisi, ia membuka akses yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seorang dai dengan konten berkualitas bisa menjangkau jutaan orang dalam semalam—sesuatu yang tidak mungkin dicapai dari mimbar masjid mana pun. Penelitian menunjukkan bahwa dakwah digital mampu menjangkau khalayak yang lebih luas melalui platform media sosial, menggunakan video pendek, kolaborasi kreatif, dan elemen visual yang menarik.Di sisi lain, ia menghadirkan tantangan serius: komodifikasi agama, hilangnya konteks, dan tergerusnya otoritas keilmuan. Sekretaris Jenderal MUI mengingatkan bahwa viralitas bukanlah ukuran dakwah yang benar. Kebenaran hakiki, bukan viralitas, yang harus menjadi patokan.

Tapi ada kabar baik. Di tengah hiruk-pikuk digital, muncul upaya-upaya serius untuk menjembatani kesenjangan. Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, misalnya, mengadakan pelatihan manajemen media sosial untuk para asatidz dan santri—bukan untuk mengejar popularitas, tetapi untuk memperkuat peran pesantren dalam menyampaikan dakwah melalui media sosial.

"Kita tidak boleh kalah dari hal buruk. Media sosial harus menjadi ruang dakwah penuh kebaikan," tegas Ketua Umum Yayasan Al Umanaa, Ustaz Mahdi Karim. Ini adalah langkah kecil tapi penting: mengakui bahwa dakwah digital bukanlah musuh, melainkan medan baru yang harus diisi. "Kita harus hadir di ruang algoritma, agar umat tidak kehilangan arah dalam beragama." kata KH Masduki Baidlowi, Ketua MUI Bidang Infokomdigi.

Menemukan Jalan di Tengah Pusaran

Pada akhirnya, dakwah tetaplah dakwah. Ia adalah upaya mengajak kepada kebaikan, menyeru kepada kebenaran, dan membimbing kepada jalan yang lurus. Medium boleh berubah, platform boleh berganti, tetapi esensinya tetap sama: pertemuan antara pesan dan hati, antara penceramah dan pendengar.

Hanya saja, sekarang pertemuan itu terjadi di ruang yang berbeda. Bukan lagi di masjid yang sunyi, tetapi di layar yang terang. Bukan lagi dalam barisan yang rapi, tetapi di komentar yang bertebaran. Bukan lagi dengan anggukan khusyuk, tetapi dengan like dan share.Apakah ini kemunduran? Saya tidak yakin. Mungkin ini justru kesempatan. Kesempatan untuk menjangkau mereka yang tidak pernah datang ke masjid. Kesempatan untuk berbicara dengan mereka yang tidak pernah mendengar ceramah. Kesempatan untuk membawa pesan kebaikan ke tempat-tempat yang belum pernah disinggahi.

Tapi satu hal yang pasti: dakwah tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Seperti yang diingatkan MUI, para juru dakwah tak bisa lagi mengandalkan pola konvensional. Dunia telah berubah. Audiens telah berubah. Sekarang giliran dakwah yang berubah tanpa kehilangan ruhnya.

Kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Pemuda di caffee itu membuka ponselnya setiap pagi. Mungkin mereka sedang mencari hal yang sama: petunjuk, ketenangan, makna. Hanya jalannya yang berbeda.

Dan tugas kita, para dai, para ulama, para penulis, siapa pun yang merasa terpanggil adalah memastikan bahwa di jalan yang baru itu, cahaya kebenaran tetap menyala. Bahwa di tengah derasnya algoritma, pesan ilahi tetap sampai. Bahwa di antara jutaan konten yang bersaing, ada satu yang membawa kedamaian, bukan perpecahan.

Dari mimbar ke layar. Dari jemaah ke pengikut. Perjalanan ini baru saja dimulai. Dan kita semua penceramah maupun pendengar, imigran digital maupun native, adalah para perantau di dalamnya, mencari jalan pulang bersama.

Topik Menarik