Memperkuat Komunikasi Partisipatif Koperasi Untuk Ekonomi Kerakyatan
Rimba MahardikaHumas BSSN, Praktisi Ilmu Komunikasi Universitas Nasional
PERINGATAN Hari Koperasi Nasional ke-79 menjadi momentum penting tidak hanya bagi kebangkitan ekonomi kerakyatan, tetapi juga sebagai studi krusial dalam diskursus ilmu komunikasi.
Di tengah masifnya arus informasi global yang kapitalistik, koperasi menghadapi tantangan disrupsi yang menuntut strategi komunikasi partisipatif dan pendekatan framing yang tepat untuk merawat nilai-nilai gotong royong.
Dalam ilmu komunikasi, khususnya dalam ranah Komunikasi Pembangunan, terdapat pandangan bahwa komunikasi bukan sekadar proses pengiriman pesan satu arah (linear), melainkan pertukaran makna yang setara dan dialogis. Teori ini berakar dari pemikiran tokoh komunikasi seperti Paulo Freire yang menekankan pentingnya dialogue dan pembebasan dari penindasan struktural melalui kesadaran kritis (conscientization).
Jika dikaitkan dengan koperasi, koperasi itu sendiri adalah bentuk perwujudan organisasi komunikasi yang bersifat partisipatif. Prinsip "dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota" mencerminkan komunikasi sirkular di mana setiap individu memiliki hak suara yang sama.Dalam diskursus ini, koperasi berfungsi sebagai ruang publik (public sphere) di mana masyarakat akar rumput dapat berdialog, menegosiasikan kebutuhan ekonomi, dan merumuskan kebijakan bersama tanpa intervensi hierarki kekuasaan yang represif.
Framing dan Tantangan Identitas Koperasi
Di sisi lain, teori lain yang relevan adalah Teori Penetapan Agenda (Agenda-Setting Theory) dan Analisis Framing. Seringkali, media massa mendominasi narasi publik dengan nilai-nilai kapitalisme, konsumerisme, dan persaingan bebas, yang secara tidak langsung menyingkirkan koperasi dari radar wacana generasi muda.
Tantangan komunikasi utama bagi koperasi saat ini adalah bagaimana melakukan reframing (pembingkaian ulang) identitas mereka. Koperasi tidak lagi harus dikonotasikan sebagai "lembaga jadul atau konvensional," melainkan harus dibingkai ulang sebagai entitas yang modern, adaptif, digital, dan berdaya saing global. Hal ini sejalan dengan tema Hari Koperasi Nasional ke-79, yakni "Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya".
Contoh Kasus: Komunikasi Digital Koperasi dan Ekonomi KreatifSebagai contoh kasus nyata, mari kita lihat bagaimana Koperasi Pemuda di sektor agrikultur atau ekonomi kreatif mengadopsi komunikasi digital. Sebuah koperasi kopi di Jawa Barat menghadapi masalah menurunnya partisipasi anggota muda dan minimnya literasi pasar.
Untuk mengatasi hal ini, pengurus koperasi mengubah strategi komunikasi dari rapat fisik yang kaku menjadi komunikasi berbasis platform media sosial, seperti grup diskusi terpimpin di WhatsApp dan kampanye konten visual di Instagram serta TikTok.
Melalui komunikasi partisipatif ini, anggota muda didorong untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan melalui polling digital dan lokakarya interaktif daring. Hasilnya, terjadi peningkatan transparansi secara masif.
Anggota tidak hanya mendapatkan laporan keuangan secara real-time, tetapi juga merasa memiliki ruang untuk menyampaikan ide pemasaran kreatif.
Langkah ini sukses meningkatkan omzet koperasi, memperluas jangkauan pasar hingga ekspor, dan mengembalikan esensi gotong royong dalam format yang relevan dengan zaman modern.Refleksi Akhir
Pada puncak perayaan Hari Koperasi ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta (12/7/2026), Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan bahwa koperasi merupakan alat bagi masyarakat kecil untuk menghimpun kekuatan kebersamaan. Beliau mengibaratkan koperasi seperti sapu lidi yang akan menjadi kuat jika bersatu.
Filosofi ini sangat dekat dengan nilai-nilai komunikasi, di mana solidaritas massa dan kekuatan kolektif hanya bisa dicapai melalui saluran komunikasi yang inklusif, transparan, dan partisipatif.
Oleh karena itu, di usia yang ke-79, koperasi harus terus mentransformasikan diri bukan hanya dari segi tata kelola ekonomi, tetapi juga dari segi kapasitas komunikasinya. Dengan menguasai narasi digital dan menerapkan komunikasi partisipatif, koperasi akan mampu menembus batas demografis, menarik minat kaum muda, dan benar-benar menjadi soko guru perekonomian nasional yang berlandaskan asas kekeluargaan.










