Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Lampaui Krisis 1979

Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Lampaui Krisis 1979

Ekonomi | sindonews | Sabtu, 4 Juli 2026 - 21:07
share

Konflik bersenjata di Iran memicu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah dengan kehilangan produksi harian mencapai lebih dari 14 juta barel per hari (bph) atau setara 13,6 dari proyeksi permintaan minyak global tahun ini. Skala gangguan tersebut melampaui berbagai krisis energi sebelumnya, termasuk embargo minyak Arab 1973–1974 dan Revolusi Iran 1979.

"Puncak kehilangan pasokan selama konflik ini telah melampaui 14 juta barel per hari, yang mewakili sekitar 13,6 dari proyeksi permintaan minyak global tahun ini," demikian laporan International Energy Agency (IEA) dikutip dari Reuters pada Sabtu (4/7/2026).

Baca Juga:Akankah Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Hadiri Pemakaman Ayahnya?

Berdasarkan data IEA, angka kehilangan pasokan tersebut jauh lebih besar dibandingkan embargo minyak Arab 1973–1974 yang menyebabkan gangguan sekitar 4,5 juta barel per hari maupun Revolusi Iran 1979 yang mencapai 5,6 juta barel per hari.

Konflik yang berlangsung saat ini juga berdampak terhadap berbagai sumber energi secara bersamaan, mulai dari minyak mentah, gas alam, bahan bakar olahan, hingga pasokan pupuk dunia. Kondisi tersebut dinilai memperlihatkan tingginya kerentanan pasar energi global di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan perdagangan internasional.Sebagai langkah stabilisasi pasar, IEA telah melepas minyak dari cadangan strategis dalam jumlah rekor mencapai 400 juta barel. Selain itu, sekitar seperlima produksi liquefied natural gas (LNG) global asal Qatar turut terdampak akibat konflik tersebut.

IEA melaporkan akumulasi kehilangan pasokan minyak dari produsen di kawasan Teluk telah melampaui 1 miliar barel. Jika konflik terus berlangsung, total kehilangan pasokan diproyeksikan dapat mencapai sekitar 1,5 miliar barel minyak dari pasar global.

Meski terdapat kesepakatan gencatan senjata sementara, gangguan pasokan energi diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Dampak terhadap pasokan gas bahkan diproyeksikan dapat berlangsung lebih lama dan memengaruhi stabilitas energi global.

Baca Juga:Iran Tawarkan Kembali Ekspor Minyak ke Jepang setelah Vakum sejak 2019Secara historis, Revolusi Iran 1979 masih tercatat sebagai krisis dengan dampak kumulatif terbesar, yakni sekitar 4,3 miliar barel minyak hilang selama tiga tahun. Namun, dari sisi kehilangan pasokan harian dan luasnya gangguan lintas sektor energi, konflik Iran saat ini dinilai menjadi guncangan terbesar sepanjang sejarah.

Analis menilai perubahan dinamika geopolitik serta tingginya ketergantungan pasar global terhadap rantai pasok energi lintas negara membuat dampak konflik saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan krisis minyak pada dekade sebelumnya.

Krisis tersebut juga menjadi pengingat bagi negara-negara konsumen energi, termasuk Indonesia, mengenai pentingnya diversifikasi sumber energi dan penguatan cadangan strategis nasional guna mengurangi risiko gejolak ekonomi akibat konflik geopolitik global.

Topik Menarik