Kisah Ristiana Artanti, Anak Buruh Proyek yang Berhasil Kuliah Gratis di UGM
Mimpi untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) masih terasa seperti sebuah keajaiban bagi Ristiana Artanti (19). Perempuan asal Karangsari, Kulon Progo, ini sempat diliputi kekhawatiran tidak dapat berkuliah karena kondisi ekonomi keluarganya yang serba terbatas.
Ayahnya, Rubikan (47), bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan yang tidak menentu, sementara sang ibu, Winarni (47), merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di Yogyakarta.
Baca juga: Kisah Salsabila, Anak Penjual Kelontong yang Lolos FEB UGM Jalur SNBP 2026
Risti memilih Program Studi Manajemen Informasi Kesehatan di Sekolah Vokasi UGM karena memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan. Kesempatan emas datang ketika dirinya berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Tidak hanya diterima tanpa tes, Risti juga memperoleh beasiswa Pendidikan Unggul dengan subsidi penuh atau UKT nol persen. Beasiswa tersebut membuatnya dapat menempuh pendidikan tinggi di UGM tanpa biaya kuliah.Baca juga: Kisah Deni Maulana, Anak PMI Yordania yang Sukses Jadi Mahasiswa Berprestasi UGM"Kalau soal perasaan, jujur, saya bingung dan masih belum percaya Tuhan memberi kesempatan yang benar-benar saya gak bakal kira bakal bisa masuk di Universitas Gadjah Mada," ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (12/6/2026).
Selain berprestasi di bidang akademik, Risti juga aktif mengikuti kegiatan marching band saat bersekolah di SMA Negeri 1 Wates. Bersama timnya, ia berhasil meraih berbagai penghargaan, termasuk dua kali menjadi juara umum tingkat kabupaten dan juara pertama tingkat provinsi.
Dalam menjalani aktivitas sekolah dan organisasi, Risti menerapkan manajemen waktu yang disiplin. Ia selalu menempatkan kewajiban akademik sebagai prioritas utama sebelum mengikuti kegiatan nonakademik.
Baca juga: Kisah Stanley Evander, Lulusan Doktor Tercepat UGM 2026 dengan Riset Kit Ekstraksi DNA
"Saya selalu disiplin membagikan waktu agar kegiatan ekstra tidak mengganggu akademik," kenangnya.Dukungan penuh juga diberikan oleh kedua orang tuanya. Meski sempat ragu karena keterbatasan ekonomi, mereka akhirnya mantap mendukung keinginan putri semata wayang mereka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Winarni mengaku sempat memikirkan kemampuan keluarga untuk membiayai kuliah anaknya. Dengan penghasilan yang tidak tetap, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi alasan untuk bersyukur.
"Pas dia utarakan pengen kuliah itu, saya mikirnya gini, apa bisa mendanai soalnya ekonomi kita, susah kayak gini, kadang-kadang ada, kadang-kadang gak. Bisa makan tiga kali sehari itu sudah bersyukur," tuturnya.
Meski demikian, Winarni tidak ingin mematahkan impian putrinya. Ia melihat Risti sebagai anak yang memiliki prestasi akademik membanggakan dan layak mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi.
Pengalaman masa lalunya yang tidak dapat melanjutkan sekolah karena keterbatasan ekonomi membuat Winarni bertekad agar anaknya memperoleh masa depan yang lebih baik."Dia ini kan ada prestasi juga di sekolahnya. Nilai-nilainya juga bagus. Kalau gak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengen meneruskan sekolah selanjutnya, gak mampu. Orang tua saya benar-benar gak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi," ungkapnya sambil menahan haru.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Rubikan. Sejak 1995, ia bekerja sebagai buruh proyek dengan penghasilan sekitar Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per hari ketika ada pekerjaan. Saat tidak ada proyek, ia mencari tambahan penghasilan dengan menggali batu putih di sekitar rumah untuk dijual.
Menurut Winarni, masa tersulit keluarga mereka terjadi saat awal pernikahan. Kala itu, keduanya memulai kehidupan dari nol. Bahkan ketika mengandung Risti hingga usia kandungan tujuh bulan, Winarni masih bekerja sebagai asisten rumah tangga di Yogyakarta.
"Saya dulu pas baru nikah sama Bapaknya, kan kerja jadi asisten rumah tangga di Jogja. Terus hamil, sampai umur tujuh bulan Risti dalam kandungan masih saya ajak kerja. Setelah tujuh bulan itu, baru saya berhenti. Sampai Risti umur dua tahun, saya kerja lagi. Saya ajak dia sambil ikut kerja, gitu," ceritanya.
Sejak kecil, Risti dibesarkan dengan nilai-nilai kebaikan, kerja keras, dan kedisiplinan dalam beribadah. Karena itu, Rubikan mengaku tidak pernah menyangka putrinya dapat diterima di UGM, mengingat latar belakang pendidikan kedua orang tuanya yang hanya lulusan SD dan SMP."Saya gak mengira kalau anak saya bisa masuk UGM, padahal orang tuanya gak sekolah, tapi anaknya bisa sekolah," katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Risti bersiap menyambut kehidupan sebagai mahasiswa baru UGM. Ia telah memiliki cita-cita untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya demi meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
"Saya sudah membayangkan bahwa setelah lulus itu saya akan bekerja di puskesmas dan juga di rumah sakit yang mungkin di daerah pelosok-pelosok, untuk meningkatkan kualitas pelayanan di masyarakat," pungkasnya.










