Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi

Said Iqbal soal Sinyal Masuk Kabinet Prabowo: Kita Tunggu Pengumuman Resmi

Nasional | sindonews | Jum'at, 5 Juni 2026 - 07:04
share

Ridwan al-MakassaryDosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

FAJAR bulan ke-empat Perang Iran vs Amerika Serikat sedang menunjukkan paradoks yang nyata. Para diplomat dari para pihak yang bertikai menegosiasikan perdamaian. Bahkan, di Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio telah memberikan kesaksian penting di hadapan Kongres bahwa Iran bersedia membicarakan aspek-aspek program nuklir yang sebelumnya dianggap tabu.

Sebuah konsesi diplomatik yang beberapa bulan sebelumnya tampak mustahil. Sedangkan, pada saat yang sama, para jenderal dari pihak Amerika Serikat (AS) dan Iran sibuk menyiapkan peta serangan berikutnya. Singkatnya, ketika ruang negosiasi diplomatik mulai membuka pintu damai, namun, langit Kawasan Teluk kembali dipenuhi asap dan suara ledakan.

Perang modern, memang, menunjukkan bahwa diplomasi dan kekerasan tidak selalu berjalan berlawanan arah. Keduanya acap bergerak bersamaan, saling menekan, saling melengkapi, bahkan, saling menyandera. Ketika AS menyerang Pulau Qeshm, sebuah titik strategis di dekat Selat Hormuz, maka Iran menyerang target-target yang dikaitkan dengan kehadiran militer Amerika di Kuwait dan Bahrain.

Akibatnya, bandara Internasional Kuwait terbakar. Satu orang tewas dan puluhan lainnya terluka. Dalam hal ini, kubu Teheran menyatakan Washington hanya memahami bahasa rudal dan serangan balasan Iran sebagai “respons awal”. Sedangkan Washington menyahuti dengan mengatakan sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat.Dalam perang ini, kebenaran acap menjadi korban pertama, di mana masing-masing pihak memproduksi versi realitas mereka masing-masing. Amerika Serikat mengatakan negosiasi diplomatik mengalami kemajuan. Namun, media Iran mengatakan komunikasi dengan mediator telah berhenti.

Lebih jauh, kubu Iran menyatakan operasi balas dendam baru saja dimulai. Dua narasi berbeda hidup berdampingan. Keduanya saling bertabrakan di ruang informasi global.

Karenanya, perang Iran 2026 mesti dilihat bukan hanya sebagai pertempuran militer, tetapi juga pertempuran persepsi. Perkembangan terkini menunjukkan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (Kongres) Amerika Serikat akhirnya mengesahkan resolusi untuk menghentikan perang.

Ia dimaksudkan sebagai teguran politik paling keras terhadap Presiden Donald Trump sejak perang berkecamuk. Meskipun Trump diperkirakan akan memveto keputusan tersebut, pesan politiknya jelas bahwa kesabaran rakyat Amerika Serikat mulai habis.

Sejauh ini, perang telah menghasilkan biaya ekonomi, politik, dan moral yang terus membengkak. Lebih jauh, keretakan terbit dalam poros yang sejak awal mendorong konfrontasi. Hubungan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memasuki titik paling tegang. Netanyahu ingin mempertahankan tekanan militer, sedangkan Trump melihat peluang kesepakatan.

Singkatnya, aliansi yang melahirkan perang kini mulai dipenuhi perbedaan mengenai cara mengakhirinya. Di sinilah ironi geopolitik bekerja.

Memulai perang jauh lebih mudah daripada mengakhiri perang. Para pemimpin biasanya memiliki banyak alasan untuk menyerang, tetapi sedikit jawaban tersedia ketika ditanya bagaimana konflik akan diselesaikan.

Sementara itu, pasar global mulai memberikan vonisnya sendiri. Harga minyak kembali mendekati 100 dolar per barel.

Investor, yang sebelumnya berharap pada perdamaian, kini kembali memasukkan risiko perang berkepanjangan ke dalam perhitungan mereka. Setiap rudal yang ditembakkan di Teluk Persia tidak hanya mengguncang kawasan, namun juga mengguncang meja makan keluarga di Jakarta, Nairobi, Delhi, hingga São Paulo. Singkatnya, perang ini telah melampaui batas geografisnya. Ia bersalin rupa menjadi perang yang harga mahalnya dibayar oleh dunia. Memang, pasar berharap pada perdamaian.

Namun, militer bersiap menghadapi eskalasi. Dunia berdiri di antara dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah lahirnya kompromi besar yang mengakhiri perang memasuki fajar bulan keempat.

Kemungkinan kedua adalah siklus balas dendam yang semakin luas hingga menyeret lebih banyak negara Teluk ke dalam perang. Di antara dua kemungkinan itu, rakyat biasa tetap menjadi pihak yang paling rentan.

Namun, perkembangan paling penting justru mungkin datang dari Teheran. Rubio mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran kini mulai terlibat langsung dalam proses negosiasi. Jika benar demikian, maka ini merupakan perubahan strategis terbesar sejak perang dimulai.

Dalam sistem politik Iran, keputusan final tidak lahir dari ruang konferensi diplomat, melainkan dari lingkaran kekuasaan tertinggi negara. Untuk pertama kalinya sejak perang, ada kemungkinan bahwa pembicaraan damai bukan lagi sekadar manuver taktis, melainkan bagian dari kalkulasi strategis yang lebih serius. Meski demikian, optimisme harus tetap dijaga dengan hati-hati. Sejarah Timur Tengah dipenuhi perundingan yang gagal beberapa jam sebelum kesepakatan dicapai. Ia juga dipenuhi gencatan senjata yang dilanggar bahkan sebelum tinta perjanjiannya mengering.

Kini perang Iran mengajarkan satu pelajaran penting, yaitu perang ini belum mencapai titik klimaksnya. Sebagaimana disebut di awal, Kongres Amerika berkata berhenti (enough is enough). Namun, Trump tampaknya berkata belum.

Iran membuka pintu negosiasi dan pada saat yang sama juga menembakkan rudal. Pungkasannya, mereka yang menunggu penerbangan di bandara Kuwait, dan sebagian warga dunia yang cemas melihat harga minyak naik.

Mereka yang tidak memiliki kursi dalam negosiasi tetapi harus menanggung seluruh akibatnya. Dan, mungkin inilah tragedi terbesar perang ini.

Bukan pada jumlah rudal yang ditembakkan, melainkan pada kenyataan bahwa ketika para pemimpin menegosiasikan perdamaian, dunia mesti bersabar mendengarkan suara ledakan.

Topik Menarik