Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengakui adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan terhadap operasional bisnis perseroan saat ini. Selain dipicu oleh fluktuasi nilai tukar rupiah, tekanan tersebut diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada lonjakan harga komoditas global.
Direktur Finance Unilever Indonesia, Neeraj Lal memaparkan, bahwa inflasi dalam bisnis perseroan utamanya bersumber dari kenaikan harga bahan baku utama, mulai dari komoditas kelapa sawit hingga bahan kemasan.
"Saya pikir yang pertama adalah, ya, ada tekanan inflasi yang kita lihat. Itu berasal dari dua/tiga hal. Itu berasal dari situasi di Timur Tengah, terutama bahan-bahan berbasis minyak bumi, bahan kimia, kemasan. Itu juga minyak sawit. Dan tentu saja, juga tentang nilai tukar mata uang asing. Jadi ya, ini menciptakan tekanan inflasi dalam bisnis," jelas Neeraj dalam konferensi pers RUPS Unilever Indonesia, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga: Lowongan Unilever Future Leaders Programme 2026 Dibuka, Fresh Graduate dan Profesional Muda Bisa Daftar
Menghadapi tantangan mata uang, Neeraj mengungkapkan, bahwa pelemahan nilai tukar rupiah berimbas langsung pada biaya impor bahan baku perseroan. Namun Unilever Indonesia telah menyiapkan bantalan finansial berupa kinerja ekspor serta penerapan strategi lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan dampak devaluasi rupiah.
"Sekarang jika menyangkut mata uang, hal itu memang menimbulkan tekanan karena kami memiliki eksposur mata uang pada bahan baku yang kami beli. Kami juga memiliki penjualan ekspor yang membantu kami mengimbangi sebagian dari dampak tersebut. Selain itu, kami menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang membantu kami meredam sebagian dari penurunan nilai rupiah yang kami hadapi,” ungkap Neeraj.
Secara keseluruhan, manajemen menerapkan respons yang komprehensif agar perseroan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan volume penjualan sekaligus menjaga margin keuntungan yang sehat di tengah ketidakpastian.
"Kita mengambil respons yang sangat komprehensif untuk mengatasi tekanan inflasi, yang mencakup penetapan harga yang terkalibrasi, yang mencakup disiplin biaya, yang mencakup optimalisasi investasi, sehingga kita memiliki respons kompetitif yang baik dalam hal bagaimana kita menangani dan mengelola inflasi, sehingga kita tetap fokus pada memberikan pertumbuhan di atas pasar dan peningkatan margin yang moderat," jelasnya.
Sementara itu, Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap menegaskan, bahwa rencana ekspansi perusahaan di pasar domestik akan tetap berjalan secara konsisten dengan fokus utama mendorong pertumbuhan berbasis volume (volume-led growth). Strategi ini bakal dieksekusi melalui inovasi produk yang relevan dengan kebutuhan konsumen serta penguatan jaringan pasar.Baca Juga: Unilever Indonesia Catatkan Laba Bersih Rp2,2 Triliun di Semester I-2025
Meski demikian, manajemen memberikan sinyal kuat akan adanya penyesuaian harga jual produk pada paruh kedua tahun ini akibat akumulasi tekanan faktor eksternal tersebut. Sektor perawatan rumah tangga (home care) diproyeksikan menjadi lini bisnis yang paling terdampak kebijakan ini.
“Jadi terlepas dari pelemahan rupiah, situasi di Timur Tengah, atau faktor kuat lainnya, kami tetap fokus pada mendorong pertumbuhan berbasis volume di pasar saat ini. Dan hal ini akan kami lakukan melalui penguatan koneksi pasar yang tepat serta inovasi yang penting bagi konsumen Indonesia," terangnya.
"Sekarang, seperti yang juga disebutkan Neeraj, mengingat beberapa faktor eksternal ini, akan ada tindakan penyesuaian harga yang akan terjadi di paruh kedua tahun ini, terutama di sektor perawatan rumah tangga (home care) yang paling terdampak," pungkas Benjie.








