Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel, dan Lingkungan

Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel, dan Lingkungan

Nasional | sindonews | Rabu, 3 Juni 2026 - 16:30
share

Oleh: Ilfi Nur DianaGuru Besar dan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang serta Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026.

Tahun 2026 menjadi tonggak sejarah baru penyelenggaraan haji Indonesia. Untuk pertama kalinya pelayanan haji berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah. Momentum ini bukan sekadar perubahan nomenklatur kelembagaan, melainkan ujian apakah reformasi tata kelola haji benar-benar mampu menghadirkan layanan yang lebih inklusif, manusiawi, dan berkelanjutan.

Biaya haji tahun ini mengalami penurunan sekitar dua juta rupiah, sekalipun biaya transportasi mengalami kenaikan, tetapi tidak dibebankan pada jemaah. Lantas bagaimana kualitas layanan pada jemaah tahun ini? Dengan penurunan biaya tersebut, apakah memengaruhi penurunan kualitas layanan?

Saya sebagai amirah Haji perwakilan dari tokoh masyarakat ingin memastikan penyelenggaraan haji tahun ini terlaksana dengan baik. Oleh sebab itu saya mengikuti secara langsung dan mengamati pelaksanaan ibadah haji. Sejak kedatangan di tanah suci Arafah saya melakukan koordinasi dengan PPIH Arab Saudi, Ketuam, KUKI, rumah sakit, dan mengunjungi jemaah di sektor-sektor untuk mendengarkan keluh kesah dan aspirasi jemaah.

Amirah Haji yang efektif oleh Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Dr. KH. Mochamad Irfan Yusuf mempunyai tugas melakukan pengawasan selama berlangsungnya ibadah dengan otoritas Arab Saudi serta berkoordinasi langsung dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Haji Arab Saudi. Selain itu juga bertugas melakukan pengawasan dan evaluasi untuk memastikan fasilitas dan pelayanan penyelenggaraan haji sesuai dengan transparansi, akuntabel, dan layanan kesehatan bagi jemaah sesuai standar yang ditetapkan. Juga bertugas melakukan pelayanan dan perlindungan jemaah, khususnya bagi jemaah haji usia dan risiko tinggi, serta sebagai representasi kehadiran negara dalam mendampingi dan memberikan dukungan moral kepada jemaah selama berada di Arab Saudi.Dari sisi tata kelola, KEMENHAJ telah mempersiapkan dengan matang terkait persiapan pemberangkatan, operasional di tanah suci, pelaksanaan ARMUZNA (Arafah, Muzdalifah, Mina), hingga kepulangan kembali ke Indonesia, juga melakukan perbaikan sistem untuk memastikan pencatatan yang secure, efektif, efisien, serta menjangkau seluruh kebutuhan oleh pemerintah Saudi. Sehingga Pemerintah Saudi memberikan apresiasi kepada KEMENHAJ Indonesia karena pelaksanaan haji tahun ini dinilai lebih baik dan lebih tertib.

Begitu juga mengenai parkir berdasarkan arah para jemaah haji, sekalipun masih ada kekurangan yang masih perlu ditingkatkan perbaikan di tahun depan. Lantas bagaimanakah layanan haji yang dirasakan oleh para jemaah haji tahun ini?

OPTIMALISASI LAYANAN

Kementerian Haji dan Umrah telah melakukan transformasi pada tahap pertama ini. Transformasi tersebut berfokus pada digitalisasi, transparansi, efisiensi, dan peningkatan layanan jemaah. Tentu saja, transformasi ke depan masih perlu terus diupayakan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Saya melakukan kunjungan dan survei kepada para jemaah terkait layanan yang diterima dan dirasakan. Rata-rata mereka merasa puas terhadap sejumlah layanan, seperti konsumsi, transportasi, akomodasi, dan kesehatan.

Dari sisi konsumsi, para jemaah merasa kebutuhan mereka terpenuhi dengan baik karena setiap hari mendapatkan tiga kali makan berupa fresh meal dengan menu khas Nusantara. Dari sisi transportasi, mereka juga merasa terbantu dengan adanya bus selawat yang melayani antar-jemput dari berbagai sektor menuju Masjidil Haram.

Adapun dari sisi akomodasi, kondisinya cukup beragam dengan kelebihan dan kekurangan di masing-masing sektor. Terdapat hotel yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Masjidil Haram, tetapi waktu tempuhnya lebih cepat, yakni sekitar 20 menit, dibanding hotel yang lokasinya lebih dekat namun membutuhkan waktu perjalanan lebih lama karena harus memutar arah menggunakan bus selawat.Dari sisi layanan kesehatan, setiap kloter didampingi tenaga kesehatan yang terdiri atas satu dokter dan satu perawat. Para tenaga kesehatan dinilai responsif dalam memberikan layanan. Selain tenaga kesehatan di tiap kloter, terdapat pula klinik satelit di setiap sektor serta KKHI (Klinik Kesehatan Haji Indonesia).

Namun demikian, jumlah tenaga kesehatan dinilai masih kurang karena jemaah haji dengan risiko tinggi mencapai 84,1 persen, sedangkan jumlah lansia mencapai 21,9 persen. Selain itu, KKHI tidak melayani rawat inap karena sesuai aturan pemerintah Arab Saudi, batas waktu pelayanan hanya empat jam. Jika jemaah membutuhkan perawatan lebih dari empat jam, mereka harus dirujuk ke rumah sakit yang bekerja sama, yakni Saudi German Hospital. Akan tetapi, sebagian besar jemaah enggan dirujuk karena adanya larangan pendampingan keluarga.

LAYANAN ARMUZNA

Terdapat dua syarikat yang menyediakan layanan di Armuzna, yakni Syarikat Rakeen dan Duyuful Bait. Berdasarkan informasi dari para jemaah, layanan transportasi dinilai cukup baik meskipun di beberapa sektor masih terjadi keterlambatan armada menuju Armuzna. Kondisi tersebut disebabkan penutupan jalan dan kemacetan di sejumlah rute.

Adapun layanan konsumsi di Armuzna menggunakan sistem RTE (Ready to Eat) sebagai langkah mitigasi keterlambatan suplai makanan. Karena bersifat praktis, makanan dapat didistribusikan sebelum pelaksanaan Armuzna. Selain RTE, disediakan pula makanan ringan seperti mi instan, buah, dan minuman. Para jemaah bahkan merasa persediaan makanan sangat berlebih hingga banyak yang dibawa kembali ke hotel.

Dari sisi akomodasi, tenda di Arafah maupun Mina dinilai cukup memadai. Namun, persoalan utama yang dikeluhkan jemaah adalah antrean toilet yang panjang, terutama bagi jemaah perempuan.

Kondisi ini terjadi karena jumlah jemaah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, yakni mencapai 55,8 persen dari total sekitar 203 ribu jemaah Indonesia. Selain itu, perempuan umumnya membutuhkan waktu lebih lama saat menggunakan toilet dan memiliki intensitas penggunaan yang lebih sering, khususnya bagi mereka yang mengalami gangguan siklus haid.

TRANSFORMASI LAYANAN RAMAH PEREMPUAN, DIFABEL, DAN LANSIA

Dari catatan penyelenggaraan haji tahun ini, tata kelola sudah berjalan cukup baik dengan penerapan mitigasi risiko. Salah satunya melalui pembagian keberangkatan jemaah ke Armuzna dalam tiga gelombang, yaitu pagi, siang, dan sore hari, guna mengurangi kepadatan dan keterlambatan. Meski demikian, masih ditemukan keterlambatan armada di beberapa sektor akibat kemacetan. Karena itu, perlu penekanan kepada syarikat penyedia transportasi agar armada datang lebih awal sesuai jadwal keberangkatan.Selain masalah transportasi, akomodasi di Armuzna juga memerlukan penambahan jumlah toilet, khususnya bagi perempuan dan penyintas difabel. Begitu pula di kawasan Jamarat, jemaah masih kesulitan menemukan toilet. Jika memungkinkan dan mendapat izin pemerintah Arab Saudi, toilet portable khusus jemaah Indonesia dapat menjadi solusi.

Privasi tenda antara laki-laki dan perempuan juga perlu diperhatikan. Di samping itu, bimbingan ibadah khusus perempuan sangat diperlukan, baik melalui buku saku maupun pengarahan yang lebih intensif mengenai fikih perempuan, lansia, dan fikih petugas.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim, salah satunya melalui pengurangan sampah plastik. Setiap jemaah memang mendapatkan tumbler saat di Armuzna, tetapi belum tersedia dispenser atau fasilitas air minum isi ulang yang memadai. Akibatnya, jemaah masih mengonsumsi air kemasan botol kecil 220 ml.

Rata-rata satu jemaah membutuhkan sekitar 10 botol per hari. Jika dikalikan 203 ribu jemaah Indonesia saja, maka diperlukan lebih dari dua juta botol plastik dalam sehari. Jumlah tersebut tentu akan jauh lebih besar jika dihitung secara global. Karena itu, penyediaan dispenser atau air minum portable di hotel dan Armuzna menjadi kebutuhan penting.

Layanan berbasis digital sebenarnya telah tersedia, tetapi mayoritas jemaah belum memiliki literasi digital yang memadai atau belum memahami fasilitas digital yang ada. Misalnya, barcode pada gelang jemaah yang dapat digunakan untuk mitigasi jika tersesat, maupun aplikasi Kawal Haji yang memungkinkan jemaah menyampaikan laporan dan aduan layanan.Namun, tidak banyak jemaah yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Hal ini dimungkinkan karena mayoritas jemaah berlatar pendidikan SD hingga SMA yang mencapai sekitar 64,2 persen, atau karena sosialisasi yang belum dilakukan secara masif. Oleh sebab itu, diperlukan sosialisasi tertulis dan pendampingan yang lebih intensif terkait layanan digital.

Dari sisi pelayanan kesehatan, penambahan jumlah tenaga kesehatan sangat diperlukan, terutama menjelang dan pasca pelaksanaan Armuzna ketika kebutuhan layanan medis meningkat. Selain itu, layanan terapi psikologis juga dibutuhkan untuk memitigasi kondisi kelelahan mental, disorientasi, hingga demensia, terutama pada jemaah lansia.

Karena itu, petugas tidak hanya berasal dari PPIH Arab Saudi, tetapi juga petugas kloter dan daerah harus mendapatkan pelatihan khusus agar siap mendampingi jemaah lansia. Di sisi lain, terdapat masukan terkait penertiban jasa kursi roda bagi lansia, khususnya pasca-Armuzna saat pelaksanaan tawaf ifadah dan tawaf wada agar tarif tidak dipermainkan, mengingat biaya sewanya dapat mencapai 700 riyal.

Haji masa depan bukan hanya haji yang sukses secara ritual, tetapi juga haji yang memuliakan perempuan, melindungi lansia dan difabel, memanfaatkan teknologi secara inklusif, serta menjaga kelestarian lingkungan. Ukuran keberhasilan haji tidak lagi sekadar berapa banyak jemaah diberangkatkan, tetapi seberapa bermartabat mereka dilayani.

Topik Menarik