Ray Rangkuti Singgung Indonesia Masih di Level Ikut-ikutan dalam Politik Luar Negeri
Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai posisi Indonesia dalam politik luar negeri saat ini masih berada pada level yang rendah. Ray menanggapi pertanyaan mengenai posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran versus Amerika Serikat.
Menurut dia, dalam hubungan antarnegara terdapat beberapa tingkatan, mulai dari memiliki daya tawar, menjadi mitra sejajar, hingga sekadar mengikuti negara lain.
Baca juga: Kedaulatan di Era Algoritme: Setahun Politik Luar Negeri Prabowo
“Kalau berteman itu ada tahapan-tahapan juga. Pertama, tadi disebutkan kita punya daya tawar. Pak Nursi menyebut daya tawar itu ada kalau Anda punya sesuatu juga," ujar Ray dalam program Rakyat Bersuara iNews, Selasa (2/6/2026).
"Nah, kalau saya nggak punya gimana mendekatinya? Kira-kira begitu. Karena itu, selain ada daya tawar, ada jadi teman. Jadi oke, karena saya masih pada tahap begini, mungkin saya di sini dulu bersama Anda. Level saya itu beda dulu. Tapi di bawah itu ada lagi, ikut-ikutan. Yang paling bawah ini (posisi Indonesia) yang ikut-ikutan,” sambungnya.Menurut dia, kekayaan alam yang dimiliki Indonesia belum mampu menarik perhatian negara lain. Dia mencontohkan Iran yang tetap disegani meski memiliki keterbatasan dibandingkan Amerika Serikat dalam aspek militer.
“Iran itu kalau dikalkulasi persenjataan macam-macam sepanjang yang kita tahu, nggak sebanding itu dengan Amerika. Tapi yang nggak mereka dimiliki oleh yang lain, dia punya sikap. Punya sikap bahwa dia nggak mau ikut-ikutan orang. Dia mau dirinya sendiri. Nah, sikap itu yang membuat orang hormat. Nah, di kita nggak,” ungkap Ray.
Posisi Indonesia saat ini dalam politik luar negeri tidak terlepas dari cara pandang Presiden Prabowo. Dia kemudian membandingkan situasi saat ini dengan era Presiden pertama Indonesia Soekarno yang dinilainya mampu menempatkan Indonesia pada posisi yang lebih tinggi dalam percaturan global karena keberanian mengambil sikap.
“Kenapa level ketiga? Itu soal mindset pemimpinnya. Tadi Bung Nusri sudah mengatakan, apa hebatnya kita di zaman Soekarno, tapi kenapa kita masuk ke level satu? Sikap. Bung Karno berani,” tuturnya.









