Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia

Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia

Ekonomi | sindonews | Selasa, 2 Juni 2026 - 09:36
share

Aktivitas pabrik di China menunjukkan pelemahan pada Mei 2026, menandakan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian terbesar kedua dunia tersebut. Perlambatan ini dipicu gangguan libur panjang serta tekanan dari permintaan global dan biaya produksi akibat konflik di Timur Tengah.

"Indeks PMI manufaktur turun ke level 50 dari 50,3 pada April mengindikasikan stagnasi aktivitas industri di tengah ketidakpastian global," demikian disampaikan Biro Statistik Nasional China dikutip dari Bloomberg, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga:Iran Diduga Gunakan Rudal China saat Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS

Data resmi menunjukkan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur berada tepat di ambang batas ekspansi dan kontraksi. Angka tersebut juga sejalan dengan perkiraan median ekonom yang disurvei Bloomberg, menandakan aktivitas industri cenderung stagnan.

Di sisi lain, aktivitas sektor non-manufaktur seperti konstruksi dan jasa mengalami peningkatan. Indeks sektor ini naik menjadi 50,1 dari 49,4 pada bulan sebelumnya, melampaui ekspektasi dan kembali ke zona ekspansi.Pelemahan di sektor manufaktur menambah sinyal perlambatan ekonomi China setelah kinerja kuat pada kuartal pertama. Pada April, berbagai indikator utama seperti produksi industri dan penjualan ritel mencatat pertumbuhan terlemah dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut mendorong ekonom mendesak pemerintah untuk memperkuat dukungan kebijakan. Menanggapi hal ini, bank sentral China menurunkan suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun ke level terendah sepanjang sejarah pada Mei.

Selain itu, pemerintah juga merilis rencana untuk membuka akses layanan publik seperti pendidikan dan kesehatan di kota-kota besar, termasuk bagi pekerja migran. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus mendorong konsumsi domestik.

Adapun di tengah tekanan domestik, kinerja ekspor China masih menunjukkan ketahanan. Sepanjang 2025, negara tersebut mencatat surplus perdagangan mencapai USD1,2 triliun, didorong oleh permintaan global terhadap produk teknologi dan kecerdasan buatan (AI).Baca Juga:Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia

Lembaga keuangan seperti Goldman Sachs dan Nomura memperkirakan ekspor produk terkait AI menyumbang sekitar setengah dari pertumbuhan ekspor pada April. Namun, kenaikan harga ekspor juga dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Iran.

Meski demikian, penguatan mata uang yuan menjadi tantangan baru bagi eksportir. Sekitar seperempat dari 5.500 perusahaan tercatat melaporkan kerugian akibat fluktuasi nilai tukar, yang meningkatkan beban biaya dan menekan profitabilitas.

Sementara itu, pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping belum menghasilkan terobosan signifikan. Namun, pembentukan dua komite baru di bidang perdagangan dan investasi berpotensi membuka peluang bisnis baru, termasuk rencana penurunan tarif untuk barang senilai sedikitnya 30 miliar dolar AS dari masing-masing negara.

Topik Menarik