Rupiah Sentuh Rp17.883 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Belum Hambat Aktivitas Ekonomi
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi yang kuat.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan media asing dalam konferensi pers Persiapan Operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5). Ia menyebut pemerintah telah mengantisipasi depresiasi rupiah dalam penyusunan anggaran negara, sehingga pelemahan kurs hingga level saat ini dinilai masih berada dalam batas yang dapat dikelola.
"Dari sisi anggaran, kami telah memperhitungkan depresiasi rupiah mendekati tingkat saat ini, jadi anggaran saya masih aman meskipun rupiah melemah ke tingkat sekarang. Secara teoritis, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan?" kata Purbaya.
Baca Juga: Purbaya Santai Tanggapi Rupiah Tembus Rp17.800: Nggak Ada Masalah
Ini Kado Prabowo untuk Buruh di May Day 2026: Ratifikasi Konvensi ILO 188 hingga Perpres Ojol
Ia menilai penguatan ekonomi domestik akan menjadi faktor utama yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang. Menurutnya investor asing, terutama investor penanaman modal asing langsung (FDI), akan terus tertarik menanamkan modal di negara dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan.
Purbaya juga mengklaim Indonesia masih memiliki kinerja pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Bahkan, menurutnya, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi kedua di antara negara-negara anggota G20 setelah India.
"Pertumbuhan kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara, bahkan di G20 kita berada di peringkat kedua setelah India. Jadi, prospek ekonomi kita kuat dan pelemahan rupiah belum memberikan efek pelemahan pada aktivitas ekonomi kita," tegasnya.
Baca Juga: Mengulik Biang Kerok Terkaparnya Rupiah Lawan Dolar Singapura ke Rp14.000, Sesuai Ramalan?
Selain faktor domestik, Purbaya juga menyoroti potensi membaiknya kondisi global dalam beberapa bulan ke depan. Ia menilai perkembangan geopolitik yang lebih kondusif berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah."Dan saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang, yang berarti gangguan yang sampai batas tertentu melemahkan rupiah juga akan hilang, sehingga itu berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan juga rupiah yang lebih kuat," lanjut Purbaya.
Untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dalam jangka pendek, pemerintah terus berkoordinasi dengan bank sentral guna menjaga pasar keuangan tetap kondusif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung stabilitas pasar obligasi agar kenaikan imbal hasil (yield) tidak terlalu tajam.
Menurut Purbaya, langkah tersebut bertujuan mengurangi risiko kerugian modal (capital loss) bagi investor asing yang memegang obligasi domestik sehingga dapat membantu menjaga arus modal tetap berada di dalam negeri.
"Jadi pada dasarnya, kami membangun koordinasi yang erat dengan Bank Sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Dan dengan kerja sama yang baik, saya percaya pada akhirnya kita akan dapat memulihkan kepercayaan terhadap rupiah," tutupnya.










