Daging Kambing Dituding Picu Kolesterol dan Hipertensi, Ini Kata Menkes
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin kembali membagikan edukasi kesehatan lewat konten Budi Gemar Sharing (BGS) di Instagram. Dalam momen Iduladha tahun ini, ia pun membahas soal stigma daging kambing yang sering dianggap sebagai penyebab utama kolesterol hingga tekanan darah tinggi.
Budi menjelaskan bahwa kambing selama ini sering dijadikan “kambing hitam” setiap kali orang mengalami masalah kesehatan usai makan olahan daging kurban. Banyak orang mengira daging kambing adalah penyebab kolesterol karena lemak jenuhnya yang tinggi.
Baca juga: Benarkah Daging Kambing Jadi Penyebab Hipertensi? Ini Penjelasan Ahli IPB University
“Kasihan nih si kambing selalu dituduh menjadi kambing hitam. Dibilang kolesterolnya tinggi lah, lemak jenuhnya tinggi,” ujar Budi dalam videonya.
Padahal, Budi menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia mengungkap, kandungan lemak jenuh pada daging kambing justru lebih rendah dibandingkan daging sapi.Di mana per 100 gramnya, lemak jenuh pada daging kambing hanya 0,72 gram, sementara sapi 3 gram.
“Per 100 gram, lemak jenuh yang ada di daging kambing itu hanya 0,72 gram. Sedangkan lemak jenuh yang ada di daging sapi, 3 gram,” jelasnya.
Budi juga membandingkan kandungan kolesterol beberapa jenis daging. Daging kambing disebut memiliki kandungan kolesterol sekitar 64 mg per 100 gram, lebih rendah dibanding daging sapi yang mencapai 73 mg maupun ayam sekitar 76 mg.
Karena itu, ia menilai masyarakat perlu memahami bahwa konsumsi daging kambing tidak selalu identik dengan lonjakan kolesterol ataupun hipertensi. Menurut Menkes, faktor yang lebih berpengaruh terhadap naiknya kolesterol saat Iduladha adalah cara memasak daging.
Namun ia juga tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga porsi makan dan tidak berlebihan saat menikmati hidangan Iduladha.
“Jangan tinggalkan daging kurban kalian, atur aja jumlahnya agar tetap sehat,” tulis Budi.










