Infertilitas Makin Banyak Dialami Pasangan Muda Indonesia, Apa Penyebabnya?
JAKARTA, iNews.id - Kasus infertilitas atau gangguan kesuburan kini semakin banyak dialami pasangan muda di Indonesia. Kondisi ini bukan lagi persoalan yang hanya muncul pada usia di atas 40 tahun, tetapi juga mulai ditemukan pada pasangan usia produktif yang baru menikah.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan, infertilitas telah menjadi masalah kesehatan global yang angkanya terus meningkat. Hal ini membawa kekhawatiran tersendiri di tengah ancaman dunia yang semakin modern.
"Secara global, WHO mencatat sekitar satu dari enam orang di seluruh dunia mengalami infertilitas," ujar Dante dalam acara relaunching Klinik Yasmin RSCM di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Di Indonesia, persoalan kesuburan juga tidak bisa dianggap kecil. Data 2022 menunjukkan sekitar 6 juta pasangan usia subur membutuhkan intervensi medis untuk menangani gangguan fertilitas.
Lebih lanjut, banyak orang masih menganggap infertilitas sepenuhnya berasal dari pihak perempuan. Padahal, faktor laki-laki menyumbang angka yang cukup besar.
Pakar Endokrin dan Fertilitas Prof Budi Wiweko mengungkapkan, sekitar 35 persen kasus gangguan kesuburan justru berasal dari masalah sperma. "Justru 35 persen gangguan kesuburan itu faktor sperma," kata Prof Budi.
Menurutnya, stigma yang selama ini berkembang membuat banyak pasangan langsung memeriksakan kondisi istri ketika sulit memiliki anak, sementara pemeriksaan pada suami sering terabaikan.
Karena itu, salah satu pendekatan yang kini mulai diterapkan di layanan fertilitas adalah pemeriksaan awal pada pihak laki-laki terlebih dahulu.
"Jadi, salah satu inovasi di Klinik Yasmin, nomor satu diperiksa suaminya dulu," lanjutnya.
Di sisi lain, gangguan kesuburan pada perempuan, kata Prof Budi, paling banyak disebabkan gangguan pematangan sel telur. Kondisi tersebut umumnya ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur hingga nyeri haid berlebihan.
"Kalau untuk penyebab perempuan paling besar gangguan pematangan telur, pasien siklus haid tidak teratur, pasien nyeri haid," jelas Prof Budi.
Fakta lain yang juga terungkap terkait kasus infertilitas ini adalah kesehatan reproduksi secara menyeluruh memiliki peran dalam masalah kesuburan ini. Hal itu disampaikan Kepala Klinik Yasmin RSCM dr Gita Pratama, SpOG(K).
Karenanya, di Klinik Yasmin tidak hanya menangani masalah infertilitas tapi juga gangguan haid, endometriosis, PCOS, keguguran berulang, ginekologi remaja, menopause, dan preservasi fertilitas.
Dalam kesempatan yang sama, dr Gita menjelaskan bahwa gaya hidup modern ikut memengaruhi meningkatnya kasus infertilitas pada pasangan muda. Kurang tidur, stres berkepanjangan, obesitas, pola makan buruk, hingga kebiasaan merokok dapat memengaruhi kualitas sperma maupun sel telur.
Selain itu, banyak pasangan kini menunda memiliki anak karena alasan pekerjaan dan finansial.
"Padahal, kualitas reproduksi perempuan akan menurun seiring bertambahnya usia, terutama setelah usia 35 tahun," ujar dr Gita.
Sementara itu, biaya program fertilitas juga masih menjadi tantangan bagi banyak pasangan muda. Untuk membantu memperluas akses layanan kesehatan reproduksi, Klinik Yasmin RSCM menjalin kerja sama dengan Bank Negara Indonesia (BNI).
Melalui kolaborasi tersebut, pasangan yang menjalani program bayi tabung atau IVF dapat memanfaatkan fasilitas cicilan 0 persen hingga 12 bulan menggunakan kartu kredit BNI. Selain itu, tersedia pula program tabungan berjangka Tapenas IVF dan Tapenas Persalinan untuk membantu pasangan menyiapkan biaya kehamilan dan persalinan secara bertahap.
Masalah infertilitas sebenarnya tidak selalu berujung pada ketidakmampuan memiliki anak. Dengan pemeriksaan sejak dini, banyak kasus gangguan kesuburan dapat ditangani melalui perubahan gaya hidup, terapi hormonal, inseminasi, hingga program bayi tabung.
Karena itu, dokter mengingatkan pasangan muda untuk tidak menunda pemeriksaan apabila setelah satu tahun menikah dan rutin berhubungan tanpa kontrasepsi belum juga memperoleh kehamilan.
"Infertilitas bukan hanya soal punya anak atau tidak, tetapi juga tentang kesehatan reproduksi yang perlu dijaga sejak usia muda," ungkap dr Gita.










