Senator AS Ancam Arab Saudi Cs Jika Tak Mau Normalisasi Hubungan dengan Israel
Senator Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham telah mengancam Kerajaan Arab Saudi dan negara-negara Muslim lainnya jika menolak normalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords (Perjanjian Abraham). Dia mengatakan penolakan bergabung dengan Abraham Accords akan menghadapi konsekuensi berat.
"Jika memang sebagai hasil dari negosiasi untuk mengakhiri konflik Iran ini, sekutu Arab dan Muslim kita di kawasan itu setuju untuk bergabung dengan Abraham Accords, maka perjanjian ini akan menjadi salah satu yang paling penting dalam sejarah Timur Tengah," tulis Graham di X.
Baca Juga: Trump Paksa 8 Negara Muslim Ini untuk Dukung Perjanjian Abraham
Senator Partai Republik tersebut mengatakan bahwa bergabungnya Arab Saudi, Qatar, dan Pakistan ke dalam kesepakatan tersebut akan sangat transformatif bagi kawasan dan dunia, menggambarkannya sebagai langkah brilian dari Presiden AS Donald Trump.
Dia lantas menyampaikan pesan kepada Arab Saudi dan negara-negara lain, “Sekaranglah saatnya untuk berani demi masa depan Timur Tengah yang baru.”3 Motif Cole Tomas Allen Ingin Membunuh Donald Trump, Salah Satunya Menciptakan Tragedi Nasional
"Saya berharap, seperti yang disarankan Presiden Trump, Anda akan benar-benar bergabung dengan Abraham Accords yang secara efektif mengakhiri konflik Arab-Israel," imbuh senator sekutu dekat Trump tersebut.
Lebih lanjut, Graham melontarkan ancaman jika seruan bergabung dengan Abraham Accords tersebut ditolak. "Jika Anda menolak untuk menempuh jalan ini seperti yang disarankan oleh Presiden Trump, hal itu akan memiliki konsekuensi serius bagi hubungan kita di masa depan dan membuat proposal perdamaian ini tidak dapat diterima. Lebih lanjut, hal itu akan dilihat oleh sejarah sebagai kesalahan perhitungan besar," paparnya, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (26/5/2026).
Graham turut mendesak Presiden Donald Trump untuk tetap berkomitmen mencapai apa yang dia sebut sebagai kesepakatan yang baik dengan Iran, dan bersikeras agar Arab Saudi dan negara-negara lain bergabung dengan Abraham Accords sebagai bagian dari negosiasi. Graham menggambarkan proposal tersebut sebagai "brilian".










