Rusia Akan Bombardir Ibu Kota Ukraina Lagi, Desak AS Evakuasi Diplomatnya
Rusia berencana membombardir lagi Ibu Kota Ukraina, Kyiv. Untuk itu, Moskow mendesak Washington untuk segera mengevakuasi para diplomatnya dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kyiv.
Desakan evakuasi disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Bacaa Juga: Rudal Hipersonik Oreshnik Rusia Bombardir Ukraina, Negara-negara NATO Murka
“Pada 25 Mei, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov melakukan percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Selasa (26/5/2026).
“Sergey Lavrov menarik perhatian pada pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia tanggal 25 Mei, yang merekomendasikan agar Amerika Serikat, bersama dengan negara-negara lain yang memiliki misi diplomatik di Kyiv, memastikan evakuasi personel diplomatik dan warga negara lainnya dari Ibu Kota Ukraina,” lanjut pernyataan tersebut.Pemerintah Rusia pada hari Senin mengatakan bahwa militernya berencana untuk melancarkan lebih banyak serangan terhadap Kyiv, termasuk terhadap pusat-pusat pengambilan keputusan.Sebelumnya, militer Rusia membombardir Kyiv secara besar-besaran pada Minggu dini hari yang menewaskan empat orang dan melukai lebih dari 100 lainnya. Serangan ini diklaim sebagai respons atas serangan militer Ukraina terhadap asrama mahasiswa di Luhansk—wilayah Ukraina timur yang kini dikuasai Rusia. Serangan terhadap asrama itu menewaskan 21 orang.
Dalam serangan Minggu dini hari, Rusia mengerahkan rudal hipersonik Oreshnik berkemampuan nuklir yang memicu kemarahan negara-negara NATO sekutu Ukraina.
“Ini adalah puncaknya. Dalam keadaan ini, Angkatan Bersenjata Rusia akan melancarkan serangan sistematis terhadap kompleks industri militer Ukraina di Kyiv, termasuk lokasi tempat UAV dirancang, diproduksi, diprogram, dan dipersiapkan untuk digunakan,” imbuh Kementerian Luar Negeri Rusia.
Namun, Ukraina menggambarkan ancaman serangan lebih lanjut dari Rusia sebagai retorika belaka.
“Kami sekarang memberi tahu mitra kami bahwa mereka tidak boleh menyerah pada semua pemerasan Rusia ini,” kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha.










