KNKT: Masinis Argo Bromo Sempat Ngerem' 1,3 Km Sebelum Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur

KNKT: Masinis Argo Bromo Sempat Ngerem' 1,3 Km Sebelum Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur

Nasional | sindonews | Kamis, 21 Mei 2026 - 18:11
share

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap temuan terbaru kasus tabrakan kereta api (KA) antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada Senin 24 April 2026 lalu. Terungkap bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya sudah mulai melakukan pengereman sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi terjadinya tabrakan.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan temuan itu dalam rapat bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026). Rapat ini membahas secara khusus kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi.

Baca juga: Evakuasi Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Selesai, 15 Orang Tewas dan 84 Luka-luka

“Masinis sudah mulai ngerem di 1,3 km sebelum lokasi tabrakan pak. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek,” kata Soerjanto dalam paparannya.

Kemudian, penjelasan Ketua KNKT itu diinterupsi oleh Ketua Komisi V DPR Lasarus yang mempertanyakan apakah jarak pengereman tersebut cukup untuk menghentikan laju kereta, sebelum terjadi tabrakan.

Menjawab pertanyaan tersebut, Soerjanto menjelaskan bahwa jika masinis melakukan pengereman maksimal, KA Argo Bromo Anggrek seharusnya bisa berhenti dalam jarak sekitar 900 meter hingga 1 kilometer.

Baca juga: Daftar Lengkap 36 Saksi yang Diperiksa Polisi terkait Tabrakan Kereta di Bekasi Timur

Sayangnya, kata dia, masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari pusat kendali hanya meminta pengereman secara bertahap sambil terus membunyikan klakson.

“Tapi karena dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35 artinya banyak banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum,” ujarnya menjelaskan.Penjelasan itu kembali disela oleh Lasarus dengan menyoroti adanya selisih jarak sekitar 300 meter apabila pengereman maksimal dilakukan sejak awal.

“Padahal kalau dia ngerem benar 900-1 km sudah bisa berhenti?” tanya Lasarus.

“Iya,” jawab Soerjanto.

Kendati demikian, KNKT menegaskan bahwa pihaknya belum sampai pada kesimpulan investigasi untuk bisa menyampaikan hasil akhirnya.

Topik Menarik