Krisis Energi Global, Moody's Prediksi Harga Minyak Bertahan di Kisaran USD100 per Barel
Lembaga pemeringkat internasional Moody's Ratings memproyeksikan harga minyak mentah jenis Brent bertahan di kisaran USD100 per barel sepanjang tahun ini akibat krisis di Selat Hormuz yang terus berlarut. Jalur perdagangan minyak paling krusial di dunia tersebut masih lumpuh selama hampir dua belas minggu setelah Iran membatasi perlintasan kapal sebagai aksi balasan atas operasi udara Amerika Serikat-Israel yang meletus sejak 28 Februari lalu.
"Sangat kecil prospek penyelesaian yang cepat dan bertahan lama antara AS dan Iran, yang berarti pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh masih sulit terjadi," tulis Moody's Ratings dalam laporan analisis terbaru, dikutip dari New Kerala, Senin (18/5).
Baca Juga:Lolos dari Blokade AS, Tanker Raksasa Pengangkut 2 Juta Barel Minyak Lanjut Berlayar ke Vietnam
Moody's menilai gangguan ini telah bergeser menjadi kendala pasokan arus energi global. Meskipun aktivitas pelayaran komersial dapat pulih sebagian dalam kurun waktu enam bulan ke depan, pasar minyak global diperkirakan akan tetap mengalami keterbatasan pasokan hingga memasuki musim gugur.
Badan Energi Internasional (IEA) turut memperkuat prospek suram tersebut melalui laporan bulanan yang merilis estimasi kehilangan pasokan kumulatif melebihi satu miliar barel sejak perang bermula, dengan penurunan produksi global mencapai 3,9 juta barel per hari sepanjang 2026. Akibatnya, kontrak berjangka minyak Brent ditutup melonjak di level USD109,26 per barel pada perdagangan Jumat (15/5), dan para analis memperingatkan harga dapat menembus USD130 hingga USD140 per barel bulan depan jika penutupan jalur laut terus berlanjut.Baca Juga:Jenderal Iran Balas Ancaman Agresi AS: Amerika Akan Menerima Pukulan Menghancurkan!
Di sisi lain, krisis geopolitik telah mengubah peta arus perdagangan minyak global karena memicu lonjakan ekspor minyak mentah dan produk petroleum AS ke rekor tertinggi akibat beralihnya pembeli Asia dan Eropa dari pasokan Timur Tengah. Berdasarkan data S&P Global, ekspor elpiji (LPG) dari AS menyentuh angka 3,3 juta barel per hari pada April dengan pasar China dan Jepang sebagai penyerap terbesar, sementara Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan selisih harga Brent-WTI akan melebar hingga USD15 per barel seiring langkah produsen AS memacu produksi demi mengisi kekosongan pasar.
Sementara itu, kebuntuan jalur logistik menyebabkan sekitar 1.600 kapal dagang terjebak di dalam Teluk Persia dan memangkas volume transit harian di selat tersebut hingga tersisa sebagian kecil dibanding sebelum perang. Upaya diplomasi pun kian menemui jalan buntu setelah kunjungan Presiden Donald Trump ke China gagal menghasilkan terobosan, terlebih kini Iran telah membentuk "Otoritas Selat Persia" secara sepihak untuk mengatur seluruh perlintasan kapal dengan syarat jaminan keamanan serta pencabutan sanksi ekonomi.
Menipisnya cadangan minyak global di tengah gangguan yang terus berlanjut ini dinilai para analis dari UBS berisiko memicu aksi pembelian panik (panic buying) di pasar jika dislokasi fisik pasokan energi semakin hebat.










