Trump Bawa Pasukan Miliarder Terkaya Rp15.097 Triliun ke China, Apa Misinya ke Beijing?
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak main-main dalam kunjungan kenegaraan pertama ke China di masa jabatannya yang kedua ini. Tak tanggung-tanggung, Trump memboyong pasukan elit yang terdiri dari 5 miliarder terkaya dunia dengan total kekayaan gabungan mencapai USD870 miliar atau setara Rp15.097 triliun (dengan kurs Rp17,353 per USD) untuk bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pekan ini.
Langkah spektakuler ini diambil di tengah ketegangan perdagangan yang memuncak, berkecamuknya perang AS-Israel melawan Iran, dan perlombaan senjata Kecerdasan Buatan (AI) yang kian sengit. Pertemuan tingkat tinggi ini disebut-sebut sebagai penentu arah ekonomi global untuk dekade berikutnya.
Daftar Orang Paling Berkuasa yang Ikut ke China
Berdasarkan laporan Bloomberg, rombongan Diplomasi Dolar Trump ini mencakup nama-nama besar yang mengendalikan teknologi dan keuangan dunia, seperti Elon Musk dari Tesla dengan kekayaan mencapai USD823,3 miliar untuk menyandang gelar sebagai orang terkaya di dunia.Baca Juga: Daftar Teratas Keluarga Arab Terkaya di 2026, Dinasti Asal UEA Punya Harta Rp296,3 Triliun
Lalu ada juga Stephen Schwarzman dari Blackstone, raja ekuitas swasta pemilik harta kekayaan USD40,5 miliar. Selanjutnya Tim Cook dari Apple (USD2,9 miliar), Larry Culp dari General Electric (USD1,8 miliar) dan Larry Fink dari BlackRock (USD1,3 miliar).
Selain mereka, CEO Boeing Kelly Ortberg, serta pimpinan Goldman Sachs dan Citigroup juga ikut dalam total 17 eksekutif top AS yang terbang ke Beijing. Mereka termasuk di antara miliarder yang diperkirakan akan bepergian ke Beijing bersama Trump.Misi Utama: Minyak Iran dan Pesawat Boeing
Kunjungan yang sempat tertunda sejak Maret akibat perang di Iran ini membawa agenda yang sangat mendesak. Trump dilaporkan akan mendesak Xi Jinping untuk membantu AS membuka kembali Selat Hormuz. Mengingat China adalah pembeli minyak terbesar Iran, pengaruh Beijing dianggap sebagai kunci untuk mengakhiri kebuntuan energi global.Baca Juga: Harta Kekayaan Taipan ASEAN Lenyap Rp1.000 Triliun Imbas Perang IranDi sisi lain, Boeing dikabarkan tengah memfinalisasi pesanan raksasa sebanyak 500 pesawat 737 Max dari China. Jika kesepakatan ini diteken, itu akan menjadi kemenangan ekonomi besar bagi Trump di awal masa jabatan keduanya.
Sementara itu jajaran eksekutif lain yang dilaporkan diundang ke China yakni Dina Powell McCormick dari Meta, Brian Sikes dari Cargill, Chuck Robbins dari Cisco, Sanjay Mehrotra dari Micron, Cristiano Amon dari Qualcomm, Ryan McInerney dari Visa, Michael Miebach dari Mastercard, Jacob Thaysen dari Illumina, dan Jim Anderson dari Coherent dilaporkan termasuk di antara eksekutif lain yang diundang.
Perang Dingin AI: Gencatan Senjata atau Kompetisi?
Agenda yang tak kalah panas adalah masa depan Kecerdasan Buatan (AI). AS dan China kini sedang berlomba menjadi penguasa sektor yang tumbuh paling cepat ini. Meski CEO Nvidia, Jensen Huang, dilaporkan tidak ikut dalam rombongan kali ini, pengaruhnya sebagai penasihat AI Trump tetap membayangi meja perundingan.Kedua pemimpin negara dikabarkan akan memulai kembali pembicaraan resmi untuk mengelola persaingan AI agar tidak berubah menjadi permusuhan terbuka. Trump bahkan sempat menulis di Truth Social bahwa ia mengharapkan "pelukan besar dan hangat" dari Xi Jinping sebagai simbol rekonsiliasi.









