Hubungan Virus Hanta dan Warisan Ilmuwan Korsel Terungkap

Hubungan Virus Hanta dan Warisan Ilmuwan Korsel Terungkap

Teknologi | sindonews | Senin, 11 Mei 2026 - 20:54
share

Profesor Lee Ho Wang adalah orang pertama yang berhasil mengisolasi virus Hanta dari paru-paru hamster pada tahun 1976, dan juga mengembangkan vaksin pertama di dunia untuk melawan penyakit tersebut, yang disebut Hantavax, pada tahun 1988.

Prestasi penelitian almarhum ahli virologi Korea Selatan, Lee Ho Wang, tentang virus Hanta kembali menarik perhatian menyusul dugaan wabah yang terkait dengan virus tersebut di kapalpesiarMV Hondius di lepas pantai Spanyol.

Menurut koresponden VNA di Seoul, Arsip Nasional Korea menyatakan bahwa Profesor Lee Ho Wang adalah orang pertama yang berhasil mengisolasi virus Hanta dari paru-paru hamster pada tahun 1976, dan juga mengembangkan vaksin pertamadi duniauntuk melawan penyakit tersebut, yang diberi nama Hantavax, pada tahun 1988.

Ini dianggap sebagai kasus langka di mana seorangilmuwanberhasil mengidentifikasi penyebab penyakit dan mengembangkan vaksin pencegahannya.

Penelitian Profesor Lee Ho Wang berawal dari upaya untuk menemukan penyebab penyakit yang dulunya dikenal sebagai "demam berdarah Korea," yang menyerang lebih dari 3.000 tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa selama Perang Korea (1950-1953) di dekat perbatasan antar-Korea saat ini. Karena mencurigai tikus sebagai sumber infeksi, mulai akhir tahun 1960-an, Lee mengumpulkan lebih dari 3.000 tikus di daerah perbatasan. Untuk mendukung penelitiannya, ia mengatasi berbagai kesulitan, termasuk risiko tertular penyakit tersebut.

Dari sampel tikus yang ditangkap di dekat Sungai Hantan, yang mengalir melalui provinsi Gangwon dan Gyeonggi, Profesor Lee Ho Wang mengidentifikasi virus penyebabnya dan menamakannya virus Hantaan, yang kemudian dikenal luas sebagai hantavirus. Pada tahun 1980, ia selanjutnya mengidentifikasi varian virus Seoul.Menurut penelitian, virus Hanta ditularkan ke manusia terutama melalui kontak dengan air liur, urin, atau feses hewan pengerat yang terinfeksi. Berdasarkan temuan ini, tim peneliti melakukan uji coba vaksin mereka sendiri sebelum komersialisasi.

Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) menyatakan bahwa strain virus yang beredar di Korea Selatan memiliki tingkat kematian kurang dari 5. Pada tahun 2024, negara tersebut mencatat 373 kasus infeksi, sebagian besar di daerah pedesaan.

Namun, strain virus yang diduga terkait dengan wabah MV Hondius diyakini memiliki tingkat kematian hingga 40 dan umumnya ditemukan di Amerika Selatan, khususnya di daerah dekat Pegunungan Andes.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) meyakini risiko bagi Korea Selatan tetap rendah karena hewan pengerat yang membawa virus berbahaya ini tidak hidup di negara tersebut.

Namun, para pejabat menyarankan orang-orang yang bepergian ke Amerika Selatan untuk menghindari kontak dengan tikus liar dan area yang mungkin mengandung kotoran tikus.

Para ahli mengatakan bahwa meskipun virus Hanta masih beredar di seluruh dunia, saat ini belum ada pengobatan yang terbukti efektif sepenuhnya.

Topik Menarik