Waisak 2570 BE Disemarakkan dengan Gerakan Ekoteologi dan Kepedulian Lingkungan

Waisak 2570 BE Disemarakkan dengan Gerakan Ekoteologi dan Kepedulian Lingkungan

Nasional | sindonews | Jum'at, 8 Mei 2026 - 22:56
share

Kementerian Agama melalui Ditjen Bimas Buddha melaksanakan gerakan Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) dan membersihkan Rumah Ibadah Agama Buddha (RIAB), Dhammasekha, dan PTKB serta Fang Shen. Aksi ini untuk menyemarakkan Vesakha Sananda 2570 Buddhist Era.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Supriyadi menyampaikan bahwa kegiatan berbasis penguatan ekoteologi ini merupakan wujud implementasi menjalankan ajaran agama yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, namun juga bagi bangsa dan negara.

Baca juga: PP Hikmahbudhi-DPN Indonesia Berikan Beasiswa PKPA kepada 2.000 Mahasiswa

Dia menyataka bahwa peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era yang akan jatuh pada 31 Mei 2026 mendatang harus dibarengi dengan aktivitas-aktivitas yang akan semakin memperkuat dan menambah sukacita umat.

“Karena itulah kami Ditjen Bimas Buddha telah menggelorakan sebuah semangat menyemarakkan Waisak dengan gerakan sebulan persiapan-persiapan yang kita sebut dengan Vesakha Sananda,” kata Supriyadi saat membuka kegiatan di di STAB Maha Prajna Jakarta, pada Jumat (8/5/2026).

“Ini semua sebagai sebuah penganda, mari kita siapkan diri kita Kita semarakkan Hari Raya Waisak itu dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat yang nantinya akan membawa kebahagiaan sukacita,” sambungnya.

Baca juga: Kemenag dan KPK Perkuat Pondasi Umat Buddha Dalam Pencegahan Korupsi

Lebih lanjut, Dirjen juga menyampaikan bahwa Bimas Buddha telah mengimplementasikan kebijakan Menteri Agama melalui Surat Edaran Nomor 10 Tahun 2025 terkait kepedulian terhadap lingkungan.

Bimas Buddha telah menjalankan kebijakan tersebut dengan berbagai program, yakni pelatihan eco enzyme, dilanjutkan penuangan pada tangal 10 Mei 2026 mendatang, terkhusus pada hari ini digelar kegiatan juga gerakan 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle. “Artinya apa? Mari kita kurangi konsumsi-konsumsi yang kurang bermanfaat. Mari kita kendalikan nafsu kita. Kita makan, kita gunakan barang-barang konsumtif secara terukur agar tidak menyisakan barang konsumtif yang kita konsumsi,” jelasnya.

Gerakan untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mengolah tersebut perlu dikuatkan melalui pendekatan keagamaan yakni ekoteologi.

“Karena itu Mari kita kirakan bersama-sama secara serentak baik di rumah ibadah, baik di satuan pendidikan, baik di rumah. Semoga kita semua dapat berkontribusi dalam rangka menjaga dan melestarikan alam semesta sebagaimana ajaran kita, bahwa kita tidak dapat hidup sendiri, kita dengan alam semesta senantiasa berkaitan,” ajak Dirjen.

Senada dengan hal itu, Sekretaris Ditjen Bimas Buddha Triroso menyampaikan bahwa kegiatan umat Buddha yang hari ini dilaksanakan secara serentak merupakan sosialisasi dari gerakan ekoteologi yang pada hakikatnya secara nyata sudah tertuang dalam ajaran Buddha.

“Dan hari ini kita menyosialisasikan terkait juga ekoteologi, yaitu berkait dengan pelestarian lingkungan secara teologi, secara Buddhis, atau secara keyakinan lain. Berarti kita keyakinan secara Buddhis, tentu sebenarnya ekoteologi itu sudah ada di kita, di sutta-sutta juga sudah ada,” tutur Triroso, saat lakukan aksi bersih di Vihara Indraloka, Tangerang, Banten.

Sementara di tempat terpisah, Ketua Vihara Dhamma Metta Cikarang, Sukarya, mengucapkan terima kasih atas kedatangan para pegawai Ditjen Bimas Buddha yang telah bersama-sama melaksanakan Gerakan Ekoteologi dan fungsen, serta memberikan sejumlah alat kebersihan dan perlengkapan lainnya kepada vihara tersebut.

Secara umum kegiatan berbasis penguatan kepedulian terhadap lingkungan berbasis spiritualitas ini dilaksanakan serentak nasional dengan melibatkan OKB, serta berbagai elemen umat Buddha. ASN Ditjen Bimas Buddha sendiri, dalam gerakan serentak ini menebar aksi kebaikan pada sembilan titik lokasi yakni RIAB, Dhammasekha, serta vihara di kawasan Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Topik Menarik