Hancurkan Dominasi Arab Saudi! Ini Alasan Tersembunyi UEA Keluar dari OPEC

Hancurkan Dominasi Arab Saudi! Ini Alasan Tersembunyi UEA Keluar dari OPEC

Ekonomi | sindonews | Minggu, 3 Mei 2026 - 18:10
share

Dunia dikejutkan oleh keputusan Uni Emirat Arab (UEA) yang resmi menyatakan keluar dari keanggotaan OPEC pada 28 April 2026. Langkah ini mengakhiri aliansi selama hampir 60 tahun dan mengguncang pasar minyak global.

Ekonom ternama dari Johns Hopkins University, Steve Hanke menyebut fenomena ini dengan istilah yang sangat provokatif: "Take the money and run" (Ambil uangnya dan lari). Menurutnya, UEA tidak lagi bisa berkompromi dengan kuota produksi OPEC di tengah ancaman kehancuran infrastruktur akibat perang.

“Awalnya, sebagian OPEC menghalangi. Sekarang perang di Iran menimbulkan bahaya jauh lebih besar untuk waktu yang lama ke depan," bebernya.

Baca Juga: UEA Keluar dari OPEC, Guncang Pasar Energi Global

Dalam pengumuman resminya kepada publik, UEA memang tidak menyebutkan soal konflik Teluk. Namun dalam siaran persnya menyatakan: “Keputusan ini mencerminkan visi strategis dan ekonomi jangka panjang UAE serta profil energi yang berkembang, termasuk percepatan investasi dalam produksi energi domestik.”

Tercantum juga konfirmasi bahwa UAE berupaya meningkatkan produksi melampaui pembatasan yang dilakukan OPEC. Hal ini disampaikan dengan nada merendah, demi menghindari kepanikan di pasar minyak.

UAE berjanji untuk menghadirkan “produksi (minyak) tambahan ke pasar secara bertahap dan terukur, sesuai dengan permintaan dan kondisi pasar.”

Baca Juga: Daftar Negara yang Keluar dari OPEC dalam Tujuh Tahun Terakhir

Steve Hanke, yang pernah menjabat sebagai Dewan Penasihat Keuangan UEA (2008-2014), mengungkapkan bahwa Abu Dhabi telah lama memiliki model ekonomi untuk memompa minyak secepat mungkin.Beberapa tahun sebelumnya, dikembangkan sebuah model ekonomi yang membahas seberapa cepat sebuah negara kaya minyak seharusnya memproduksi dengan mengasumsikan berbagai tingkat penurunan harga minyak mentah, atau yang disesuaikan dengan inflasi.

Proyeksi itu menentukan tingkatan di mana cadangan kehilangan nilai, ketika semakin lama mereka tetap di dalam tanah. Semakin cepat penurunan harga per barel dalam dolar yang diproyeksikan di pasar dunia, semakin cepat sebuah negara seharusnya memompa untuk memaksimalkan keuntungan.

Hanke mengungkapkan alasan UEA sederhana, namun mematikan bagi kartel minyak. Ancaman energi hijau, dimana UEA khawatir nilai minyak akan terus merosot di masa depan akibat masifnya teknologi berkelanjutan (solar, hidrogen, dan bahan bakar pesawat ramah lingkungan).

Berdasarkan model Hanke, jika harga minyak di masa depan diprediksi turun, maka sebuah negara harus memompa sebanyak-banyaknya hari ini untuk memaksimalkan profit. Sementara itu UEA telah berinvestasi besar-besaran untuk mencapai kapasitas 5 juta barel per hari, namun kuota OPEC selama ini justru mencekik ambisi tersebut.

Tekanan UEA kepada OPEC terkait pembatasan produksi, sedikit banyak memperburuk hubungannya dengan Arab Saudi, ditambah kedua negara juga bentrok dalam dukungannya terhadap pihak-pihak yang bertikai, baik di Yaman maupun Sudan

Faktor Perang Iran: Titik Didih Hubungan dengan Saudi

Meskipun UEA menyebut alasan visi strategis jangka panjang dalam siaran pers resminya, Hanke menegaskan bahwa perang dengan Iran adalah pemicu utama yang mendorong UEA keluar. Serangan drone Iran ke fasilitas kilang Ruwais dan terminal minyak Fujairah telah mengubah perhitungan risiko UEA. "Masalahnya bergeser dari sekadar penurunan harga jangka panjang, menjadi kemungkinan bahwa di masa depan mereka mungkin tidak bisa menjual minyak sama sekali karena Iran mengendalikan Selat Hormuz atau secara berkala menghancurkan sebagian infrastrukturnya," jelas Hanke.

Kondisi ini diperparah dengan retaknya hubungan UEA dan Arab Saudi akibat perbedaan sikap dalam konflik di Yaman, Sudan, hingga pengakuan diplomatik terhadap Somaliland dan Israel.

Konsekuensi Tak Terduga bagi Pasar Global

Keluarnya UEA dari OPEC membuka pintu bagi negara tersebut untuk membanjiri pasar dengan minyak mentah, tanpa terikat kuota. Hal ini diprediksi akan melemahkan kekuatan Saudi, ketika Arab Saudi kehilangan sekutu paling potensialnya di kawasan Teluk dalam mengatur harga minyak dunia.

Adanya potensi perang harga baru jika UEA memutuskan untuk meningkatkan produksi MINYAK secara agresif guna mengamankan dana cadangan nasional mereka sebelum konflik meluas. Dengan infrastruktur yang kini terancam serangan udara, stabilitas pengiriman minyak dari Teluk ke Asia berada dalam risiko tertinggi.

“UAE sekarang memiliki insentif besar untuk memiringkan produksi minyak ke masa kini dan menjauhi masa depan,” kata Hanke.

Perang AS bersama Israel melawan Iran penuh dengan konsekuensi yang tidak terduga. Tidak ada yang lebih besar daripada kejutan pada 28 April bahwa anggota setia OPEC selama hampir 60 tahun akan pergi.

Topik Menarik