Dalil-dalil Mengumandangkan Kalimat Talbiyah bagi Jemaah Haji
Dalil mengumandangkan kalimat Talbiyahbagi jemaah haji penting diketahui umat Muslim. Apa saja dalilnya? Berikut ulasan dan penjelasannya.
Seperti diketahui, jemaah hajiyang sedang menuju Tanah Suci biasanya serentak membaca Talbiyah yang menjadikan suasana perjalanan semakin khidmah dan khusyuk.
Talbiyah sendiri merupakan kalimat khusus yang diucapkan seseorang yang telah berniat untuk beribadah haji atau umrah. Talbiyah merupakan pernyataan untuk memenuhi panggilan Allah sekaligus tauhid.
Kalimat Talbiyah digemakan oleh para jamaah haji sejak awal pemberangkatan hingga memasuki Masjidil Haram. Kalimat talbiyah dibaca lantang beriringan terus menerus oleh jamaah haji hingga melempar jumrah aqabah pada 10 Zulhijjah.
Dalil-dalil Kalimat Talbiyah
Berkenaan dengan talbiyah, kitab tafsir Qurtubi 2/125 mengupasnya dalam surat Al-Hajj ayat 27:قَالَ : فَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ قَالَ : كَيْفَ أَقُوْلُ ؟ قَالَ قُلْ : يَا اَيُّهَا النَّاسُ أَجِيْبُوْا رَبَّكُمْ ثَلَاثَ مِرَارٍ فَفَعَلَ فَقَالُوْا : لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ قَالَ : فَمَنْ أَجَابَ يَوْمَئِذٍ فَهُوَ حَاجٌّArtinya: "Allah berfirman: Serulah manusia untuk melaksanakan haji. Nabi Ibrahim menjawab: Bagaimana aku mengucapkan seruan itu? Allah berfirman: Ucapkanlah, wahai manusia, penuhilah panggilan Tuhan kalian semua, tiga kali. Maka Nabi Ibrahim melaksanakannya. Kemudian mereka menjawab : Labbaika Allahumma Labbaik.
Baca juga:Mengapa Kalimat Talbiyah Dibaca Saat Haji? Ini Sejarah dan Asal-usualnya
Allah lalu berfirman: Siapa saja yang pada hari itu menjawab, maka dia berhaji."
Adapun kalimat talbiyah yang masyhur dan dicontohkan oleh Rasulullah juga para sahabat adalah: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Labbaika Allahumma Labbaika, Labbaika la Syarika laka Labbaika, innal hamda wan nikmata laka wal mulk, la syarika laka.
Artinya : "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh, segala puji, nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."
Bacaan talbiyah hukumnya sunnah dibaca dengan keras sebagaimana hadis riwayat dari Khallad bin Saib al-Anshari dari ayahnya, bahwa Rasulullah mengisahkan:
حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ عَنْ خَلَّادِ بْنِ السَّائِبِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي أَوْ مَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ أَوْ بِالْإِهْلَالِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَاArtinya: "Jibril mendatangiku dan menyuruhku agar memerintahkan kepada para sahabatku, atau siapa saja yang bersamaku untuk mengangkat suaranya ketika talbiyah atau ihlal (melafadkan niat dan mengucapkan talbiyah dalam Haji). Yang dikehendaki perawi memilih salah satunya (HR. Ahmad)"
Hadis lain dalam Sahih Bukhari juga disebutkan:
حَدَّ ثَناَ سُلَيْماَنُ بْنُ حَرْ بٍ حَدَّ ثَناَ حَمَّا دُ بِنْ زَيْدٍ أَيُّو بَ عَنْ أَبِي قِلاَ بَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَلَ صَلَّي النَّبِيُّ صَلَّي اللّٰهُ عَلَيّهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ اَلْظُّهْرَ أََرْبَعًا وَالْعَصْرَ بِذِي الْحُلَيْفَةِ رَكْعَتَيْنِ وَسَمِعْتُهُمْ يَصْرُخُوْنَ بِهِمَا جَمِيْعاً
Artinya: "Nabi melaksanakan salat duhur di Madinah empat rakaat dan salat asar di Dzul Hulafiah dua rakaat. Dan aku mendengar mereka membaca talbiyah dengan mengeraskan suara mereka pada keduanya haji dan umrah" (HR. Bukhari) Dari kedua redaksi ini dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca talbiyah pada saat melaksanakan haji dan umrah hukumnya sunnah.
Cara membacanya disunnahkan secara keras sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Sebab dalam kalimat talbiyah berisi memenuhi panggilan beribadah kepada Allah dan meneguhkan ketauhidan. Syekh Said dalam kitab Busyral Karim menyatakan bahwa sighat talbiyah yang dianjurkan adalah yang dicontohkan oleh Rasulullah:
وصيغته المحبوبة تلبيته صلى عليه وسلم
Artinya: "Sighat /bacaan talbiyah yang dianjurkan adalah talbiyah yang dibaca oleh Rasulullah." (Lihat Syekh Sa’id bin Muhammad Baasyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 519).
Oleh karena itu, seyogyanya jamaah haji membaca talbiyah yang biasa dibaca oleh Nabi dan para sahabat. Bacaan talbiyah sebaiknya disertai dengan menghayati makna yang terkandung di dalamnya, sebagai tanda telah memenuhi panggilan Allah dan berpegang teguh pada ajaran tauhid.
Baca juga:Bacaan Talbiyah Haji: Lafal, Arti, dan Keutamaannya










