Kalimantan Selatan Jaga Stabilitas Pangan di Tengah Tekanan Inflasi
Ketahanan pangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan kinerja positif di tengah tekanan inflasi nasional dengan stabilitas harga dan peningkatan kesejahteraan petani. Kondisi tersebut menjadi indikator penting bahwa sistem pangan daerah tidak hanya mampu menjaga pasokan, tetapi juga mempertahankan daya beli masyarakat.
"Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup keterjangkauan dan keberlanjutan produksi bagi masyarakat," ujar Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin dalam keterangan pers, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga:Pemprov Kalsel Pastikan Pengelolaan Kas Daerah Transparan,Terencana, dan Bertanggung Jawab
Sepanjang triwulan I-2026, inflasi di Kalimantan Selatan tercatat masih dalam batas aman, dengan laju bulanan sebesar 0,2 pada Januari, meningkat menjadi 0,86 pada Februari, dan kembali melandai ke 0,5 pada Maret. Pola ini menunjukkan gejolak harga masih terkendali dan tidak berdampak signifikan terhadap konsumen.
Di sisi lain, kesejahteraan petani turut menguat tercermin dari peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dari 121,1 menjadi 126,53 pada Maret 2026. Kenaikan ini menunjukkan petani tetap memperoleh margin yang baik di tengah dinamika harga, sehingga keseimbangan antara produsen dan konsumen dapat terjaga.Capaian tersebut diperkuat dengan posisi Kalimantan Selatan sebagai peringkat pertama nasional dalam Indeks Ketahanan Pangan 2025 dengan skor 81,98. Surplus beras yang mencapai sekitar 1,2 juta ton juga menegaskan peran daerah ini sebagai lumbung pangan utama di regional Kalimantan.
Pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi dan diversifikasi pangan guna meningkatkan nilai tambah. Pengembangan beras premium, beras analog berbahan singkong, hingga komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat ekonomi petani sekaligus menjaga stabilitas harga.
Baca Juga:Penasihat Ahli Kapolri: Gerakan Pangan Murah Polda Kalsel Bantu Masyarakat Jelang Lebaran
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, menegaskan bahwa hilirisasi diarahkan agar hasil pertanian tidak hanya berhenti di produksi. "Kita dorong agar hasil pertanian tidak berhenti di produksi, tetapi memberi nilai tambah bagi petani," ujarnya.
Selain itu, penguatan lumbung pangan masyarakat juga menjadi strategi penting dalam menjaga stabilitas pasokan. Hingga kini, ratusan unit lumbung pangan telah difokuskan pada pengelolaan cadangan dan distribusi untuk meredam gejolak harga di tingkat lokal.
Adapun tantangan seperti fluktuasi harga global, perubahan iklim, dan keterbatasan infrastruktur masih perlu diantisipasi. Pemerintah daerah menargetkan penguatan sistem pangan berbasis data dan digitalisasi agar kebijakan lebih tepat sasaran dan ketahanan pangan tetap berkelanjutan.










