Penumpukan Kapal di Selat Hormuz Picu Defisit Minyak Global 700 Juta Barel
Penutupan Selat Hormuz akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong defisit pasokan minyak global mendekati 700 juta barel hingga akhir April 2026. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi sekaligus meningkatkan risiko krisis pasokan berkepanjangan di pasar global.
"Sejumlah besar minyak tidak mencapai pasar selama periode ini, dan banyak kapal tertahan di Selat Hormuz. Bahkan jika jalur dibuka kembali, pemulihan pasar akan memakan waktu beberapa bulan," ujar Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak dikutip dari MEE, Senin (27/4/2026).
Baca Juga:Ekonom AS Jeffrey Sachs: Perang Iran Adalah Proyek yang Telah Lama Direncanakan
Data perusahaan energi Kpler menunjukkan defisit pasokan minyak terus melebar seiring terganggunya distribusi energi global. Harga minyak mentah Brent telah menembus USD100 per barel, sementara harga bahan bakar avtur melonjak di atas USD200 per barel, memaksa maskapai memangkas rute penerbangan dan sejumlah negara menerapkan pembatasan konsumsi bahan bakar.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyebut gangguan ini sebagai ancaman terbesar terhadap keamanan energi global. Dunia diperkirakan kehilangan sekitar 13 juta barel minyak per hari, melampaui dampak krisis energi pada 1970-an hingga gangguan pasokan gas Rusia pada 2022.Meski gencatan senjata telah diperpanjang, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih terhambat akibat blokade ganda oleh pihak yang berkonflik. Data pelayaran menunjukkan hanya segelintir kapal tanker yang mampu melintas setiap hari, jauh di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai lebih dari 100 kapal per hari.
Baca Juga:Kelangkaan Solar dan Asam Sulfat Meluas, Ancam Industri Tambang Global
Dampak signifikan juga dirasakan negara produsen minyak, seperti Irak, yang mengalami penurunan produksi hingga 70 di wilayah selatan. Penurunan tersebut turut menekan ekspor dan pendapatan negara dalam waktu singkat.
Kpler memperingatkan total pasokan minyak yang hilang berpotensi mendekati satu miliar barel jika gangguan berlanjut. Dalam skenario terburuk, harga minyak dapat melonjak hingga USD190 per barel, bahkan berisiko menembus USD200 per barel apabila krisis berkepanjangan. Dalam jangka pendek, pasar energi dunia diperkirakan masih menghadapi tekanan tinggi hingga distribusi kembali normal.










