Kampus Berdampak, UNJ Hadirkan Solusi Nyata Lewat Pengabdian dan Riset Inovatif
Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Pengabdian kepada Masyarakat yang didukung Program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen institusi dalam memperluas dampak riset dan pengabdian masyarakat untuk mendukung pencapaian 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
FGD yang berlangsung di Aula Bung Hatta UNJ tersebut dihadiri oleh media dan berbagai mitra pengabdian. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memaparkan capaian program sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemangku kepentingan.
Baca juga: Program Genera-Z Berbakti Kembali Digelar, Ajak Mahasiswa Kembangkan Desa Wisata
Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ, Ifan Iskandar, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menunjukkan sejauh mana kontribusi UNJ dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui pendidikan dan pengabdian.Ia mencontohkan keberhasilan program pengabdian masyarakat di Subang pada 2024 yang mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan saat itu, Nadiem Makarim. Program tersebut berhasil mengembangkan desa menjadi desa wisata mandiri yang kini menjadi model pengembangan desa wisata di Indonesia.
“Keberhasilan di Subang kami lanjutkan dengan merintis pengembangan desa wisata di Bulak, Indramayu sejak 2024. Kini memasuki tahun kedua, fokusnya lebih mengerucut pada pemberdayaan masyarakat melalui sektor pariwisata,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ifan menekankan perubahan paradigma dalam penelitian dan pengabdian masyarakat. Menurutnya, sejak 2025 pemerintah mendorong konsep “kampus berdampak” yang menitikberatkan pada kebermanfaatan langsung bagi masyarakat.
“Jika sebelumnya fokus pada pengembangan konsep dan teori, kini penelitian dan pengabdian harus menghasilkan dampak nyata. UNJ sudah memulainya melalui program desa wisata di Subang yang kini direplikasi di Indramayu,” tambahnya.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNJ, Iwan Sugihartono, menegaskan bahwa pengabdian masyarakat tidak sekadar menjadi hilirisasi riset, tetapi juga sarana transformasi sosial berkelanjutan.“Pengabdian harus menghasilkan perubahan nyata dalam menyelesaikan persoalan sosial, dengan fokus pada pemberdayaan masyarakat, kewilayahan, dan kewirausahaan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Inovasi, Sistem Informasi, dan Pemeringkatan UNJ, R A Murti Kusuma W, menyebut program EQUITY-LPDP mampu meningkatkan visibilitas serta dampak pengabdian UNJ di tingkat nasional maupun global.
Rektor UNJ, Komarudin, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat dampak pengabdian. Ia menyebut perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem inovasi yang terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam sesi diseminasi, berbagai praktik baik ditampilkan. Umiatin menyoroti pentingnya penerapan penelitian antropometri untuk pengembangan desain dan ergonomi yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia.
Ahmad Rifqy Ash Shiddiqy memaparkan program RSSG (Rintisan Sekolah Swasta Gratis) yang dikembangkan bersama Pemerintah Kota Depok sebagai solusi akses pendidikan.Sementara itu, Tesaannisa menghadirkan inovasi Pojok Konseling Sastra dan Ruang Kreatif Anak berbasis bibliokonseling di Rusunawa Jatinegara Kaum bekerja sama dengan Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) VII.
Di bidang seni budaya, Deden Haerudin memperkenalkan Tari Manuk Bulak yang dikembangkan melalui pendekatan art by research bersama masyarakat Desa Bulak dan berpotensi menjadi daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Adapun inovasi teknologi ditunjukkan melalui program ARUNA (Alat Robotik untuk Navigasi dan Angkut Sampah Berbasis Kapal) yang dipaparkan oleh Nur Azisah untuk pengelolaan sampah di wilayah Muara Angke, Jakarta.










