Sepak Terjang Matah Ati, Istri Pangeran Sambernyawa yang Jadi Panglima Pasukan Khusus Wanita Mangkunegaran
KESUNYIAN kawasan hutan di pesisir selatan Desa Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah mendadak tercerabut. Bunyi desing peluru dan ledakan mesiu tiba-tiba memekakkan telinga. Butiran peluru melesat dan pedang terhunus siap menebas setiap lawan.
Anak panah juga melesat kencang lepas dari tali busur. Pertempuran sengit dengan pasukan Belanda itu akhirnya dimenangkan Pasukan Estri Puro Mangkunegaran yang dipimpin Matah Ati.
Baca juga: Pangeran Sambernyawa Pimpin Pasukannya dengan Semboyan Tiji Tibeh, Bikin Belanda Kocar-kacir
Kala itu, pasukan kolonial Belanda babak belur dan kocar kacir usai dihancurkan melalui serangan penuh heroik dari pasukan khusus Mangkunegaran yang beranggotakan para wanita. Pasukan Khusus Wanita yang disebut Pasukan Estri dari Pura Mangkunegara tersebut, dipimpin seorang panglima wanita bernama Matah Ati.
Dikisahkan dari laman puromangkunegaran, pertempuran sengit di kawasan hutan perbukitan Desa Selogiri, yang dilakoni Pasukan Estri di bawah kepemimpinan Matah Ati tersebut, terjadi pada awal tahun 1700-an. Mereka berbaur dengan pasukan Pangeran Sambernyawa, bergerilya melawan kolonial Belanda.
Pasukan Estri tersebut, terdiri dari prajurit caping, prajurit gandewa, dan prajurit senapan. Pasukan estri yang membaur dengan pasukan Pangeran Sambernyawa, menggunakan formasi setengah lingkaran mengepung pasukan Belanda.
Baca juga: Kisah Pangeran Sambernyawa, Pendiri Mangkunegaran yang Sepak Terjangnya Ditakuti BelandaKorban berjatuhan, darah membasahi kawasan hutan di perbukitan Selogiri. Perang besar itu, berakhir dengan kemenangan dari pasukan estri yang bergabung dengan pasukan gerilya Pangeran Sambernyawa.
Kehebatan pasukan estri Mangkunegaran, tak lepas dari peran Pangeran Sambernyawa yang membentuknya. Pengaren Sambernyawa mewarisi Sultan Agung, dalam membentuk pasukan khusus wanita tersebut.
Pasukan khusus wanita tersebut dibentuk dari para perempuan desa yang dilatih keprajuritan oleh Pangeran Sambernyawa. Pasukan khusus wanita ini, memiliki panglima seorang wanita yang sangat tangguh dan pemberani, bernama Matah Ati.
Matah Ati adalah istri Pangeran Sambernyawa. Dalam perjuangan melawan kolonial Belanda, Matah Ati begitu setia menemani Pangeran Sambernyawa di tengah medan perang yang begitu mematikan. Matah Ati dikenang sebagai panglima pasukan estri yang sangat tangguh, dan pemberani.
Pasukan Estri Berisikan Prajurit Mematikan (H2)
Memiliki suara merdu saat menyanyikan tembang-tembang Jawa, dan kelenturan tubuh saat menari dengan iringan gamelan klasik. Para anggota Pasukan Estri ternyata sangat tangkas dalam berperang. Mereka ahli menggunakan berbagai senjata, dan sangat mematikan saat berada di medan perang.
Pasukan estri ini, merupakan prajurit setia yang mengawal Pangeran Sambernyawa saat berada di medan perang menghadapi pasukan Kompeni Belanda, hingga saat Pangeran Sambernyawa memimpin Praja Mangkunegaran, dengan gelar KGPAA Mangkunegara I.Keberadaan pasukan estri tersebut, tentunya menjadi terobosan di tengah tradisi Jawa, yang biasa menempatkan wanita sebagai konco wingking, yakni sebagai pengurus rumah tangga untuk melayani suami dan keperluan dapur.
Melalui pembentukan pasukan estri, para wanita tersebut dengan penuh keberanian tampil di garis depan pertempuran. Tak hanya piwai bertempur di medan laga, dengan segala kemampuan menggunakan senjata serta ilmu kanuragan. Prajurit pasukan estri, juga mampu berkesenian dan mengurus pekerjaan rumah.
Disebutkan, anggota pasukan estri digembleng oleh dengan berbagai ilmu dan strategi perang, termasuk perang gerilya. Di antaranya dhedemitan, weweludhan, dan jejemblungan.
Kemampuan perang gerilya dhedhemitan, yakni mampu bergerak tanpa mampu dilihat musuh seperti hantu. Sedangkan kemampuan ilmu perang weweludan, adalah setiap prajurit mampu bergerak dengan licin seperti belut, agar tidak mudah tertangkap lawan.
Sementara ilmu strategi perang jejemblungan, adalah pasukan yang mampu bergerak seperti orang gila di medan perang. Di mana para prajurit beertempur tanpa rasa takut untuk menghadapi lawan, serta rintangan di medan laga.
Mereka mampu bergerak dengan senyap layaknya pasukan khusus modern yang tak dapat dideteksi pasukan lawan, lalu melakukan serangan kilat yang mematikan, kemudian kembali berkamuflase untuk mempertahankan diri.
Para prajurit wanita yang tergabung dalam pasukan estri, dilatih untuk mahir menggunakan panah, pedang, keris, senapan, meriam, hingga ilmu kanuragan. Mereka juga memiliki kemampuan berkuda, sehingga gesit bergerak di tengah pertempuran, untuk menerobos pertahanan lawan.Tak hanya olah kanuragan dan senjata, prajurit wanita ini juga dilatih membaca, menulis, berksenian, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, hingga bercocok tanam untuk bertahan hidup dalam jangka waktu panjang.
Bagi prajurit wanita yang telah berumahtangga, mereka memiliki peran ganda. Sebagai istri yang harus tetap melayani suami dan mengurus rumah, namun mereka juga harus tetap menjalankan tugas-tugas keprajuritan, baik sebagai pasukan tempur, pengawal, mapun teliksandi atau mata-mata.
Selama berada di Istana Mangkunegaran, prajurit wanita ini juga memiliki tugas menghibur tamu-tamu kerajaan, karena mereka bisa menjadi sinden, wiyogo, serta memainkan tarian bedhaya, srimpi, munggeng kelir, hingga taledhekan. Sebagai bagian dari prajurit tempur, para wanita tersebut memiliki jiwa korps yang kuat. Mereka sangat setia kawan, dan sangat disegani oleh lawan-lawannya.
Pasukan Estri Ladrang Mangungkung beranggotakan 60 prajurit wanita pilihan. Mereka selalu mengendarai kuda, dan memiliki senapan, dan wedung yang merupakan senjata khusus untuk para wanita. Para prajurit wanita pilihan ini, juga bertugas mengawal keselamatan istri KGPAA Mangkunegara I, serta para wanita keluarga Mangkunegaran.
Legiun Mangkunegaran (H2)
Keberadaan pasukan estri tetap dipertahankan, setelah Pangeran Sambernayawa atau KGPAA Mangkunegara I wafat. Pasukan khusus beranggotakan para wanita tersebut, bergabung dalam pasukan yang lebih besar, yakni Legiun Mangkunegaran.
Pasukan Legiun Mangkunegaran ini dibentuk dan dikembangkan oleh Mangkunegara II, pada tahun 1808. Mangkunegara II memiliki visi yang sangat kuat dalam pembentukan pasukan elite tempur Legiun Mangkunegaran.Tak hanya mengadopsi Grande Armee, pembentukan Legiun Mangkunegaran juga mengadopsi Legionnaire atau Legiun, sebuah organisasi militer Perancis, yang berarti pasukan bala tentara. Pasukan tempur dari Tanah Jawa ini, mengadopsi militer Perancis secara fisik, persenjataan, taktik, dan organisasi.
Untuk pembentukan pasukan Legiun Mangkunegaran, Mangkunegara II sampai harus mendatangkan pelatih profesional yang merupakan perwira-perwira militer Belanda, Perancis, dan Inggris. Para perwira tersebut, bertugas menggembleng para prajurit Legiun Mangkunegaran.
Para prajurit yang tergabung dalam Legiun Mangkunegaran, mendapatkan pelatihan untuk pergerekan pasukan dengan mobilitas tinggi menggunakan kuda, baik untuk pasukan infanteri, kavaleri, maupun artileri. Mereka memiliki kemampuan bertahan dalam pertempuran jangka panjang, dan keahlian anti gerilya.
Iwan Santosa dalam bukunya yang berjudul "Legiun Mangkunegaran (1808-1942)", menyebutkan pembentukan Legiun Mangkunegaran tak lepas dari peran serta Kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte, tepatnya saat Perancis menguasai Hindia Belanda.
Legiun Mangkunegaran menjelma menjadi kekuatan pasukan militer paling modern di Asia. Iwan Santosa dalam tulisannya menyebutkan, Legiun Mangkunegaran merupakan pembaruan radikal di bidang militer yang terjadi jauh sebelum adanya restorasi Meiji di Jepang, dan tumbangnya Dinasti Qing di China.
Legiun Mangkunegaran termasuk di dalamnya Pasukan Estri Ladrang Mangungkung, telah terlibat dalam banyak pertempuran. Mulai dari perang Jawa tahun 1825-1830, perang Aceh tahun 1873, menumpas bajak laut di Bangka, pada tahun 1919-1920.
Pasukan ini juga terlibat dalam pertempuran sengit untuk mempertahankan Jawa, dari serangan Jepang, saat pecah perang dunia kedua pada tahun 1942. Legiun Mangkunegaran, mampu bertahan sampai masa kekuasaan Mangkunegara VII.










