Viral Lansia di Lombok Barat Hidup Sebatang Kara Tercatat Meninggal, Legislator Perindo Dorong Perbaikan Data Sosial

Viral Lansia di Lombok Barat Hidup Sebatang Kara Tercatat Meninggal, Legislator Perindo Dorong Perbaikan Data Sosial

Nasional | sindonews | Sabtu, 18 April 2026 - 11:32
share

Ketepatan data sosial menjadi kunci dalam memastikan bantuan pemerintah dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Ketika pendataan belum sepenuhnya akurat, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh kelompok rentan, sekaligus memengaruhi upaya penguatan ekonomi kerakyatan hingga ke daerah.

Hal tersebut mencuat setelah kondisi Inak Reme, seorang lansia di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) viral di media sosial. Dia diketahui hidup dalam keterbatasan tanpa pernah menerima bantuan sosial. Di sisi lain, dia justru tercatat telah meninggal dalam sistem data pemerintah.

Baca juga: Ketua Ombudsman Jadi Tersangka, Partai Perindo Dorong Evaluasi Menyeluruh Proses Seleksi Lembaga Kuasi Negara

Situasi ini menjadi perhatian Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lombok Barat dari Partai Perindo, Syamsuriansyah. Dia menilai perlu adanya penguatan dalam sistem pendataan serta peningkatan kehadiran layanan publik di lapangan.

"Motivasi pelayanan publik pejabat di Lombok Barat, saya anggap rendah. Kalau mereka tinggi, kita tidak akan menemukan masyarakat yang masih kurang, seperti Inak Reme dan Amak Mahnun," ujar Ketua DPD Partai Perindo Lombok Barat ini, Kamis (16/4/2026).

Dia menekankan pentingnya memastikan bahwa data yang dimiliki pemerintah benar-benar mencerminkan kondisi riil masyarakat.

Baca juga: Partai Perindo Kutuk Kekerasan Seksual di FHUI, Dorong Penegakan UU TPKS dan Perlindungan Korban

"Ada kok yang tugasnya turun ke lapangan. Tapi apakah mereka turun? Sampaikah mereka di masalah masyarakat itu?" ujarnya.

Menurutnya, kehadiran langsung di lapangan menjadi bagian penting dalam memastikan program pemerintah berjalan tepat sasaran. "Itu harusnya dipahami dan dimiliki," imbuh Ketua Fraksi Partai Perindo DPRD Lombok Barat tersebut.Dia mengungkapkan, Inak Reme belum tercatat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), meski tergolong masyarakat rentan. "Beliau ini tidak masuk dalam DTSEN. Ternyata beliau ini dianggap sudah meninggal," kata dia.

Kondisi tersebut membuat bantuan sosial yang seharusnya menjadi penopang kehidupan masyarakat belum dapat dirasakan secara optimal.

Di lapangan, Inak Reme hidup sebatang kara di rumah sederhana berukuran sekitar 4x4 meter di Dusun Mapak Reong, Desa Kuranji Dalang, Kecamatan Labuapi. Rumah tersebut berdinding triplek dengan lantai tanah tanpa ventilasi, serta belum dilengkapi fasilitas dasar.

Dalam keseharian, dia mengandalkan bantuan dari tetangga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Kepala Dusun Mapak Reong, Jumiri membenarkan kondisi tersebut dan menyebut keberadaan Inak Reme baru teridentifikasi saat pendataan menjelang Pemilu."Inak Reme ini adalah warga kami. Beliau ini teridentifikasi atau secara identitasnya kelihatan setelah ada pemilihan kemarin waktu pendataan penduduk lewat Panitia Pemungutan Suara (PPS)," tuturnya, Rabu (15/4/2026).

Syamsuriansyah menilai, kondisi ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pendataan dan pelayanan sosial secara lebih menyeluruh.

Dengan pembaruan data yang lebih akurat dan peningkatan koordinasi di lapangan, diharapkan bantuan sosial dapat tersalurkan secara tepat dan berkelanjutan, sekaligus mendukung penguatan ekonomi kerakyatan agar masyarakat rentan dapat hidup lebih layak.

Dia juga mendorong agar seluruh pihak terus bersinergi dalam memastikan tidak ada lagi warga yang luput dari perhatian.

Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kualitas pelayanan publik sekaligus menghadirkan perlindungan yang lebih merata bagi masyarakat.

Topik Menarik