Satkaara Berbagi 2026: Kolaborasi Sosial Inklusif untuk Teman Disabilitas

Satkaara Berbagi 2026: Kolaborasi Sosial Inklusif untuk Teman Disabilitas

Gaya Hidup | sindonews | Senin, 13 April 2026 - 17:53
share

Satkaara Communications kembali menghadirkan program kepedulian sosial tahunan Satkaara Berbagi 2026 dengan mengusung tema “Berbagi Tanpa Batas”, yang tahun ini secara khusus menyoroti pentingnya inklusi bagi teman-teman disabilitas.

Kegiatan diselenggarakan di Wisma Tuna Ganda Palsigunung, Cimanggis, Depok, sebagai wujud komitmen berkelanjutan dalam menciptakan ruang yang lebih inklusif dan penuh empati.

Mengangkat semangat bahwa kebaikan tidak mengenal batas, kegiatan ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang bermakna, tidak hanya bagi penerima manfaat, tetapi juga bagi seluruh pihak yang terlibat.

Baca juga: Mengenal Jalur College dan Akses Transfer ke Universitas Top AS

Salah satu momen utama dalam kegiatan ini adalah sesi hand stamp painting, di mana teman-teman disabilitas bersama relawan menciptakan karya kolektif melalui cap tangan berwarna-warni sebagai simbol kebersamaan, keberanian, dan harapan.Satkaara Berbagi merupakan program sosial yang diinisiasi oleh Satkaara Communications dengan fokus pada isu pendidikan, kesehatan ,termasuk kesehatan mental serta sosial.

Dalam implementasinya, program ini mengedepankan pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai mitra strategis sebagai bagian dari upaya menghadirkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Satkaara Berbagi melibatkan berbagai pihak, mulai dari rekan media, Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB), Satkaara Academy Community (SAC), mitra komunitas lain hingga mitra korporasi seperti PT IDX Solusi Teknologi Informasi (IDXSTI) dan Teppanku dari PT Patriosa Boga Grup.

Kolaborasi ini memperkuat upaya membangun ekosistem kepedulian sosial yang inklusif sekaligus mendorong kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan yang perlu dirangkul bersama.

Melalui tema Berbagi Tanpa Batas, kami ingin menegaskan bahwa setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki ruang untuk berekspresi, dihargai, dan dirayakan. Kegiatan ini bukan hanya tentang berbagi, tetapi tentang membangun koneksi yang setara dan bermakna,” ujar inisiator program Satkaara Berbagi, Ruth Andriani,melalui siaran pers, Senin (13/4/2026).

Menghadirkan Harapan Melalui Hand Stamp Painting Bersama Teman Disabilitas

Kegiatan di Wisma Tuna Ganda Palsigunung menjadi wujud konsistensi Satkaara Berbagi dalam merangkul penyandang disabilitas ganda.Dalam kegiatan ini, para mitra tidak hanya menyalurkan bantuan berupa sembako, peralatan elektronik, kebutuhan harian, serta dukungan uang tunai, tetapi juga hadir langsung untuk berbagi waktu dan menghibur para penghuni panti.

Namun, lebih dari sekadar bantuan material, kegiatan ini menekankan nilai kebersamaan sebagai inti utama. Hal ini tercermin dalam sesi hand stamp painting, di mana teman-teman disabilitas dan relawan bersama-sama meninggalkan jejak tangan sebagai simbol kehadiran, kesetaraan, dan harapan.

Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, Kristanti, mengapresiasi kehadiran Satkaara Berbagi bersama para mitra. Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan, tetapi juga perhatian dan kebersamaan yang sangat berarti.

Ia menjelaskan, sekitar 25 anak di wisma merupakan penyandang disabilitas ganda,sebagian telah berusia dewasa namun dengan perkembangan mental seperti anak-anak, dan banyak yang tidak lagi memiliki keluarga. Menurutnya, mereka tidak hanya membutuhkan perawatan, tetapi juga penerimaan dan kasih sayang, sehingga kegiatan seperti ini memberikan semangat baru, baik bagi anak-anak maupun para pendamping.

Direktur PT IDX Solusi Teknologi Informasi (IDXSTI), Asep Permata Suryana, turut menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin. “Terima kasih kepada para pengurus Wisma Tuna Ganda Palsigunung atas dedikasi luar biasa dalam merawat dan mendampingi saudara-saudara kita. Terima kasih juga kepada Satkaara yang telah menghadirkan momen ini. Kami diingatkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menghadirkan harapan,” ujar Asep.

Melalui cap tangan berwarna-warni di atas kanvas, setiap individu diajak untuk meninggalkan “jejak” yang merepresentasikan keberadaan, keberanian, dan keunikan mereka. Tidak hanya menjadi aktivitas kreatif, kegiatan ini juga menciptakan ruang aman bagi teman-teman disabilitas untuk mengekspresikan diri secara bebas dan bermakna.

“Setiap cap tangan yang tertinggal bukan hanya sekadar warna, tetapi juga cerita, semangat, dan harapan. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang sederhana, namun dapat dikenang dan dirasakan dampaknya dalam jangka panjang,” ujar Inisiator Program Satkaara Berbagi, Ruth Andriani.

Topik Menarik