Mama Papua Hadir di Pesta Media, Suarakan Upaya Menjaga Hutan

Mama Papua Hadir di Pesta Media, Suarakan Upaya Menjaga Hutan

Nasional | sindonews | Minggu, 12 April 2026 - 16:41
share

Masyarakat adat di Papua menyerukan agar semua pihak termasuk pemerintah, berkomitmen melindungi hutan-hutan di Bumi Cendrawasih. Bagi masyarakat adat, hutan adalah sumber penghidupan yang harus dijaga secara berkelanjutan.

Hal itu disuarakan oleh Marice Sianggo, tokoh perempuan adat dari sub-suku Nakna, Distrik Konda, Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, saat hadir di Pesta Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).

Dalam diskusi bertajuk “Suara Perempuan Adat, Masa Depan Hutan Papua dari Cerita ke Kemungkinan: Meliput Papua secara Konstruktif”, Marice menceritakan pentingnya menjaga hutan adat di sana.

Baca juga: AMSI Ungkap Fenomena AI Crawler Jadi Tekanan Baru Industri Media

“Hutan itu masih utuh. Kehidupan sehari-hari ada di hutan, susah senang itu di hutan. Jadi kami ini punya hutan kami jaga baik. Ada tempat keramat, ada tempat sejarah, itu semua ada. Jadi kami jaga hutan itu. Karena kami punya hutan adat,” kata Marice.

Dia menyebut hutan sebagai mama. Sebab segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari, ada di hutan. “Itu mama ada sagu, bawa pulang makan. Mama cari ikan, mama jalan ke hutan itu semua ada. Hutan itu yang melindungi mama. Kalau kami punya hutan rusak, berarti kami juga manusia rusak,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Fitri Hasibuan, Vice President Program Konservasi Indonesia, mengatakan hutan adat di Papua harus terus dijaga dan didampingi. Sebab baginya, menjaga hutan adalah bagian dari upaya melindungi ekosistem alam. Dia menyebut hutan di Sorong masih lebat, ditumbuhi aneka tanaman seperti mangrove dan gambut.

“Hutan di Sorong itu dipenuhi sagu alam dan itu adalah kekayaan. Ini adalah lokasi yang penting menyimpan banyak karbon. Ketika mama menjaga rumahnya, menjaga wilayahnya, itu juga menjaga ekosistem atas karbon. Sehingga yang kita takutkan perubahan iklim, krisis iklim, itu tidak terjadi,” kata Fitri.

Konservasi Indonesia, kata Fitri, sejak 2021 aktif mendukung masyarakat dan organisasi untuk melestarikan alam dan keanekaragaman hayati bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Khusus untuk isu Papua, upaya konservasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak masyarakat adat, termasuk hak atas tanah, partisipasi, dan pengetahuan lokal. “Kami punya visi yang sama menjaga hutan di Konda dan membantu ekonomi masyarakat. Semoga kerusakan tidak terjadi di hutan mama,” harapnya.

Diskusi ini juga menghadirkan jurnalis Margareth Aritonang sebagai narasumber. Menurutnya, isu perlindungan hutan di Papua harus lebih banyak diberitakan secara berbeda dan lebih konstruktif.

Dia mencontohkan, perempuan adat Papua sebetulnya memiliki peran penting dalam menjaga hutan sebagai ruang hidup. Namun, suara, pengetahuan, dan praktik mereka jarang diangkat sebagai bagian dari narasi utama.

“Sering kali cerita peran perempuan minim diceritakan. Padahal perempuan Papua punya peran penting,” katanya.

Margareth mengatakan perlu ada pendekatan jurnalisme konstruktif sebagai cara memperkaya narasi. Dia menekankan pentingnya kemampuan storytelling yang berpusat pada pengalaman perempuan adat saat meliput Papua. “Yang lebih konstruktif, tidak hanya ambil point of view pemerintah atau pejabat, tetapi juga masyarakat, perempuan, tetua adat,” kata dia.

Di akhir acara, peserta diajak membuat satu karya pendek yang berisi rencana peliputan dan tulisan singkat. Karya tersebut mengangkat cerita perempuan adat yang menghindari stereotip dan eksotisasi, serta mengandung perspektif konservasi berbasis hak.

Salah satu peserta, Aryo, mengangkat ide liputan mengenai hutan sebagai ruang aman bagi perempuan. Menurutnya, ketika hutan makin terancam, ruang hidup perempuan-perempuan di sana bakal makin sempit.

Diskusi dan lokakarya ini didukung oleh Konservasi Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam acara Pesta Media AJI Jakarta 2026. Setelah 14 tahun vakum, AJI Jakarta kembali menggelar acara ini dengan mengusung tema “Facing for Future, Collaboration for Our Nature” pada 11-12 April 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara jurnalis, pegiat lingkungan, akademisi, komunitas, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan berbagai isu penting yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

Tiga isu penting yang diangkat kali ini adalah: media, lingkungan hidup, dan kecerdasan buatan (AI), melalui berbagai format acara, mulai dari diskusi, lokakarya, pameran foto, pemutaran film, pembuatan zine, hingga penampilan seni.

Topik Menarik