Raksasa Migas AS Tumbang? Rugi Miliaran Dolar Akibat Perang Iran, Produksi Anjlok!

Raksasa Migas AS Tumbang? Rugi Miliaran Dolar Akibat Perang Iran, Produksi Anjlok!

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 10 April 2026 - 07:50
share

Dampak perang Amerika Serikat atau AS-Israel melawan Iran kini mulai merongrong keuangan raksasa energi dunia. Dua perusahaan migas terbesar AS, ExxonMobil dan Chevron melaporkan penurunan produksi yang signifikan serta kerugian finansial yang mencapai miliaran dolar akibat disrupsi operasional dan blokade di Selat Hormuz.

Dalam laporan terbaru kepada regulator AS, kedua perusahaan ini mengakui bahwa konflik di Timur Tengah telah menciptakan volatilitas pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Terutama bagi aset-aset yang terafiliasi dengan negara Barat.

ExxonMobil memberikan sinyal bahaya dengan potensi kerugian pendapatan hingga USD6,5 miliar atau setara Rp103 triliun. Perusahaan juga mencatat bahwa produksi minyak dan gas global mereka pada kuartal pertama 2026 bakal merosot sekitar 6 dibandingkan kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Bukan AS, Ini 4 Perusahaan China yang Menggarap Ladang Minyak Irak

Faktor utama kejatuhan ini adalah serangan terhadap fasilitas energi di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), di mana Exxon memiliki saham besar di sana. Beberapa kerusakan aset salah satunya fasilitas likuifaksi gas (LNG) di Qatar mengalami kerusakan parah.

Untuk berapa lama waktu pemulihan, manajemen Exxon menyatakan perbaikan akan memakan waktu yang sangat lama dan belum bisa memperkirakan kapan operasi penuh akan kembali normal. Sementara itu disebutkan juga kerugian yang disebabkan oleh fluktuasi harga (price swings) yang gila-gilaan selama konflik berlangsung bisa mencapai sekitar USD3,5 miliar hingga USD4,9 miliar

Kondisi tidak jauh berbeda juga dialami Chevron yang melaporkan penurunan angka produksi pada kuartal pertama 2026. Produksi mereka turun menjadi 3,8-3,9 juta barel setara minyak per hari, merosot dari angka 4,05 juta barel pada kuartal sebelumnya.

Baca Juga: Kurs Rupiah Membaik Diterpa Gencatan Senjata AS-Iran

Blokade di Selat Hormuz menjadi batu sandungan utama bagi jalur distribusi Chevron ke pasar internasional. Jalur vital yang mengalirkan seperlima pasokan minyak dunia tersebut kini menjadi area terlarang bagi pengiriman yang memiliki keterkaitan dengan negara-negara Barat.

Penurunan produksi dari raksasa migas AS ini diprediksi akan memperburuk situasi inflasi global. Para ekonom memperingatkan bahwa tingginya biaya energi yang berkepanjangan akan menghambat pertumbuhan ekonomi, terutama bagi negara-negara pengimpor bahan bakar (termasuk Indonesia).

Utusan khusus Kremlin, Kirill Dmitriev sebelumnya juga sempat memperingatkan bahwa pasar energi dunia tidak akan sembuh dalam semalam. "Pasar membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih dari guncangan ini, bahkan jika gencatan senjata mulai dilakukan," ungkapnya.

Topik Menarik