Iran Balas Dendam, Serang Israel dan Aset-aset AS di Timur Tengah

Iran Balas Dendam, Serang Israel dan Aset-aset AS di Timur Tengah

Global | sindonews | Jum'at, 3 April 2026 - 11:17
share

Iran bersama sekutunya telah menyerang Israel dan aset-aset Amerika Serikat (AS) di berbagai negara di Timur Tengah dengan rudal dan drone. Ini sebagai balas dendam setelah fasilitas industri negara Islam tersebut diserang militer Washington dan Tel Aviv.

Aksi saling serang ini menandai bahwa perang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski telah memasuki minggu kelima.

Baca Juga: Menhan Hegseth Minta Jenderal Top Angkatan Darat AS Mundur di Tengah Perang Iran, Ada Apa?

Serangan-serangan yang semakin menargetkan lokasi ekonomi dan industri juga telah meningkatkan kekhawatiran global akan gangguan yang lebih luas terhadap pasokan energi dan memperdalam dampak konflik di luar medan perang.

Iran mengatakan gelombang serangan terbarunya telah menghantam target di Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Israel sebagai balasan atas serangan AS-Israel sebelumnya terhadap fasilitas industrinya.

"Serangan tersebut termasuk [terhadap] industri baja Amerika di Abu Dhabi, industri aluminium Amerika di Bahrain, dan pabrik senjata Rafael milik rezim Zionis,” kata militer Iran, seperti dikutip dari AFP, Jumat (3/4/2026).

Militer Israel memperingatkan pada hari Jumat bahwa pertahanan udaranya beroperasi untuk menembak jatuh rudal yang ditembakkan dari Iran, meskipun belum ada laporan langsung tentang korban jiwa atau pun kerusakan.

Ledakan baru sebelumnya dilaporkan di wilayah Teheran, di mana stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan serangan AS-Israel menghantam jembatan di kota Karaj sebanyak dua kali—yang pertama menyebabkan korban sipil dan yang kedua menghantam saat tim darurat sedang merespons.

Presiden AS Donald Trump—yang pada hari Rabu mengancam akan mengebom republik Islam itu hingga "kembali ke Zaman Batu"—mempertahankan retorika kerasnya saat dia mem-posting di media sosial bahwa jembatan itu telah runtuh. Dia juga menjanjikan lebih banyak target lagi yang akan menyusul untuk dihancurkan.Dua pabrik baja terbesar di Iran terpaksa berhenti beroperasi akibat serangan berulang AS dan Israel, kata perusahaan-perusahaan tersebut.

Sementara itu, kelompok Houthi Yaman—salah satu sekutu Iran—mengatakan mereka telah melancarkan serangan keempat terhadap Israel, menembakkan rentetan rudal balistik ke target di wilayah Tel Aviv.

Terlepas dari pengeboman di Iran, banyak keluarga berkumpul di Taman Melat Teheran, dengan para pria merokok dan anak-anak bermain untuk menandai hari ke-13 setelah Nowruz, Tahun Baru Persia, ketika orang-orang secara tradisional berpiknik di luar ruangan.

Seorang warga mengatakan pos pemeriksaan yang dijaga oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah meningkat di seluruh kota.

“Mereka berkumpul di jalanan untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka masih berkuasa dan tidak ada yang akan berubah,” kata seorang pria berusia 30 tahun di Teheran, yang meminta namanya dirahasiakan.

Di Israel, perayaan Paskah berlanjut, meskipun beberapa orang merayakan hari raya tersebut secara diam-diam.

“Ini bukan pilihan pertama saya,” kata seorang penulis bernama Jeffrey saat makan di bunker Tel Aviv.

Ketegangan Selat Hormuz

Konflik tersebut juga telah meningkatkan tekanan pada pelayaran global, dengan Selat Hormuz—jalur untuk seperlima minyak dunia—secara efektif ditutup oleh Iran.

Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengumpulkan sekitar 40 negara untuk menuntut pembukaan kembali selat tersebut secara “segera dan tanpa syarat”, sementara Italia menyerukan koridor kemanusiaan untuk mencegah krisis pangan di Afrika.

Teheran mengatakan sedang menyusun kerangka kerja pasca-perang dengan Oman untuk mengawasi lalu lintas maritim, meskipun pembicaraan belum dimulai.

Sementara itu, Kepala Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Jasem Mohamed AlBudaiwi menyerukan dukungan PBB untuk melindungi pelayaran melalui selat tersebut, memperingatkan bahwa Iran telah memblokir kapal-kapal komersial dan memberlakukan syarat-syarat untuk pelayaran.

Bahrain telah mengusulkan rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan mengizinkan penggunaan kekuatan untuk memastikan transit bebas, meskipun langkah yang didukung AS ini telah memecah belah anggota menjelang pemungutan suara.

Dengan latar belakang tersebut, Trump telah memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut dapat menargetkan infrastruktur energi Iran jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.

Dia mengatakan Washington "mengincar target-target utama", termasuk pembangkit listrik, sambil juga menyarankan kepemimpinan baru Teheran dapat terbukti "lebih masuk akal" dalam potensi pembicaraan.Iran menolak tawaran AS sebagai "maksimalis dan irasional", mengatakan bahwa pesan-pesan telah disampaikan melalui perantara tetapi tidak ada negosiasi langsung yang sedang berlangsung.

Kementerian Kesehatan Iran mengatakan Institut Pasteur, sebuah pusat medis berusia seabad di Teheran, telah rusak parah akibat serangan AS.

Di Lebanon, kelompok militan Hizbullah—yang juga sekutu Iran—mengatakan telah meluncurkan drone dan roket ke Israel utara, sehari setelah serangan Israel di Beirut menewaskan seorang komandan senior, menurut dua sumber. Otoritas Lebanon mengatakan tujuh orang tewas dalam serangan itu.

Sebanyak 18 negara Eropa telah mendesak kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran di tengah kekhawatiran Israel dapat merebut wilayah di Lebanon selatan.

Amy Pope, kepala Organisasi Internasional untuk Migrasi, memperingatkan risiko sangat mengkhawatirkan akan pengungsian yang berkepanjangan.

Guncangan Global

Dampak ekonomi perang ini meluas jauh melampaui Timur Tengah, dengan negara-negara Teluk yang dulunya dianggap sebagai tempat aman kini berada di bawah ancaman langsung.

Pertahanan udara di Uni Emirat Arab mencegat rudal dan drone, sementara pasar global bereaksi dengan cemas terhadap eskalasi terbaru.Harga minyak melonjak hingga sekitar USD110 per barel pada hari Kamis setelah Trump memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut, bahkan ketika pasar saham kesulitan menentukan arah.

Para analis mengatakan pernyataan terbaru presiden gagal memberikan kejelasan tentang strategi keluar, dengan Jim Reid dari Deutsche Bank mencatat bahwa "tidak ada sinyal AS yang mencari jalan keluar segera".

Bank Dunia memperingatkan meningkatnya risiko inflasi, lapangan kerja, dan ketahanan pangan di seluruh dunia.

Maskapai penerbangan di China menaikkan biaya tambahan bahan bakar, sementara Malaysia meminta pegawai negeri sipil untuk bekerja dari rumah.

Pendapatan minyak Irak anjlok lebih dari 70 persen dari bulan ke bulan, kata seorang pejabat.

Pakistan juga menaikkan harga bahan bakar secara tajam, dengan harga bensin naik lebih dari 40 persen dan solar lebih dari 50 persen sebagai respons terhadap guncangan energi global.

Bahkan kerajaan Himalaya, Bhutan, pun merasakan dampaknya, dengan kekurangan bahan bakar yang memicu antrean panjang di ibu kota Thimphu. “Kami tidak berdaya,” kata warga setempat, Karma Kalden.

Topik Menarik