China Tegas Salahkan AS dan Israel soal Iran Tutup Selat Hormuz
China secara tegas menyalahkan Amerika Serikat (AS) dan Israel atas ditutupnya sebagian Selat Hormuz oleh Iran. Menurut Beijing, akar penyebab gangguan lalu lintas maritim penting ini adalah agresi ilegal Washington dan Tel Aviv.
Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia ke jalur pelayaran global, telah mengalami penurunan aktivitas yang signifikan selama hampir sebulan. Selat ini membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga perlambatan ini menjadi perhatian utama bagi pasar energi global.
Baca Juga: Inggris Bentuk Koalisi 35 Negara untuk Buka Selat Hormuz
Dalam pernyataannya kepada wartawan, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan krisis tersebut berakar dari apa yang dia gambarkan sebagai tindakan militer yang melanggar hukum.
“Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” kata Mao.
Komentarnya mencerminkan kritik Beijing yang semakin langsung terhadap peran Washington dalam meningkatnya ketegangan regional, serta keselarasan Beijing dengan posisi Teheran terkait serangan baru-baru ini.Sebelumnya, dalam pidato nasional, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz harus bertanggung jawab untuk menjaga keamanannya.“Negara-negara yang menerima minyak melalui jalur tersebut harus menjaga jalur tersebut,” kata Trump, tanpa menguraikan langkah-langkah spesifik.
Pernyataan tersebut menandai perubahan nada, yang menunjukkan bahwa Washington mengharapkan sekutu dan mitra untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menjaga salah satu koridor maritim paling strategis di dunia.
Perlambatan lalu lintas melalui Selat Hormuz telah mulai membebani rantai pasokan global dan menimbulkan kekhawatiran tentang harga energi. Para analis memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat memicu ketidakstabilan ekonomi yang lebih luas, terutama bagi ekonomi yang bergantung pada impor di Asia dan Eropa.
Dengan ketegangan yang masih tinggi dan belum ada solusi yang jelas, risiko eskalasi lebih lanjut di kawasan ini tetap signifikan.
Prancis Kerahkan Kapal Perang
Sementara itu, Prancis mengerahkan sekitar selusin kapal perang, termasuk kelompok serang kapal induknya, ke Laut Mediterania, Laut Merah, dan juga berpotensi ke Selat Hormuz.Pengerahan aset-aset tempur itu sebagai bagian dari dukungan pertahanan Paris kepada sekutunya yang terancam oleh perang AS-Israel melawan Iran di Timur Tengah.
Berbicara di Siprus sebelum mengunjungi kapal induk Charles de Gaulle, yang tiba akhir pekan ini di Mediterania timur, Presiden Prancis Emmanuel Macron berusaha meyakinkan rekan sejawatnya dari Siprus setelah drone dicegat ketika menuju pulau itu pada pekan lalu.
"Ketika Siprus diserang, maka Eropa juga diserang," kata Macron setelah bertemu dengan Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis di Paphos, sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat (3/4/2026).
Negara-negara Eropa sebagian besar telah menjauhkan diri dari perang AS-Israel melawan Iran, yang berdampak ke negara-negara Arab Teluk dan menyeret Lebanon ke garis depan setelah kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah, ikut menyerang Israel.Namun, dengan jalur pelayaran di Timur Tengah yang terpengaruh dan harga minyak yang melonjak jauh di atas USD100 per barel, kekuatan-kekuatan Eropa bergulat dengan masalah bagaimana mempertahankan kepentingan mereka.
"Tujuan kami adalah untuk mempertahankan sikap defensif yang ketat, berdiri bersama semua negara yang diserang oleh Iran dalam pembalasannya, untuk memastikan kredibilitas kami, dan untuk berkontribusi pada de-eskalasi regional. Pada akhirnya, kami bertujuan untuk menjamin kebebasan navigasi dan keamanan maritim," kata Macron.
Aktivitas Angkatan Laut utama Uni Eropa di kawasan tersebut berpusat pada Aspides—Perisai dalam bahasa Yunani—sebuah misi Angkatan Laut Laut Merah yang diluncurkan pada awal tahun 2024 untuk melindungi kapal dari serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.
"Saya juga akan menambahkan suara saya kepada rekan-rekan Eropa saya yang lain untuk memperkuat operasi Aspides dengan lebih banyak kapal," kata Mitsotakis.
Cara Israel Bunuh Khamenei: Retas Kamera Lalu Lintas Teheran dan Ponsel untuk Melacak, lalu Dibom
"Hanya sedikit dari kita yang berpartisipasi, tetapi di sini juga kita perlu menunjukkan solidaritas Eropa kita secara lebih praktis," ujarnya.Macron, yang Angkatan Laut Prancis sudah menyediakan satu kapal perang untuk misi tersebut, mengatakan akan ada dua kapal secara total, tetapi secara keseluruhan Prancis akan mengerahkan delapan kapal perang, kelompok kapal induk, dan dua kapal induk helikopter ke wilayah tersebut.
Misi itu, kata Macron, pada akhirnya dapat mencakup Selat Hormuz untuk mendukung kapal-kapal komersial.
"Kami sedang dalam proses membentuk misi yang murni bersifat defensif, murni bersifat pengawal, yang harus dipersiapkan bersama dengan negara-negara Eropa dan non-Eropa, dan tujuannya adalah untuk memungkinkan, sesegera mungkin setelah fase paling intens dari konflik berakhir, pengawalan kapal kontainer dan tanker untuk secara bertahap membuka kembali Selat Hormuz," kata Macron, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.








