Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi, Iran Justru Menolak Akhiri Konflik

Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi, Iran Justru Menolak Akhiri Konflik

Global | sindonews | Senin, 16 Maret 2026 - 06:13
share

Militer Israel mengumumkan bahwa mereka berencana untuk melanjutkan perangnya bersama Amerika Serikat (AS) melawan Iran setidaknya hingga tiga minggu lagi. Sebaliknya, Teheran juga menyatakan tidak akan akhir perang sampai pasukan Washington hengkang dari wilayah Teluk.

“Kami memiliki ribuan target di depan mata,” kata juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin kepada CNN, yang dilansir Senin (16/3/2026).

Baca Juga: Langka, Penasihat Trump Desak AS Nyatakan Menang lalu Kabur dari Perang Iran

“Kami siap, berkoordinasi dengan sekutu AS kami, dengan rencana setidaknya hingga hari raya Paskah Yahudi, sekitar tiga minggu dari sekarang. Dan kami memiliki rencana yang lebih mendalam bahkan hingga tiga minggu setelah itu,” lanjut Defrin.

 

Dia mengatakan militer Israel tidak bekerja menurut stopwatch atau jadwal waktu. "Tetapi lebih untuk mencapai tujuan kami, yaitu untuk melemahkan rezim Iran secara signifikan," paparnya.

Menurutnya, serangan AS-Israel terhadap Iran telah mendorong kelompok Hizbullah Lebanon untuk memasuki konflik, tidak seperti perang 12 hari musim panas lalu, ketika kelompok itu memilih untuk tetap berada di luar konflik.“Pada bulan Juni, mereka memahami bahwa itu adalah kampanye terbatas di Iran, jadi mereka tidak menyerang. Sekarang setelah semuanya terungkap, mereka ikut serta,” kata Defrin.

Ketegangan meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran Menolak Akhiri Perang

Sementara itu, Iran mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan mengakhiri perang sampai pasukan AS keluar dari wilayah Teluk Persia. Tekad Teheran ini disampaikan anggota dewan penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaee.

Rezaee, yang merupakan pensiunan mayor jenderal dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menambahkan bahwa Teheran juga akan meminta ganti rugi penuh atas kerusakan yang terjadi dan jaminan keamanan yang kuat dari Washington.

“Kehadiran pasukan AS di Teluk Persia telah menjadi faktor utama penyebab ketidakamanan selama 50 tahun terakhir," katanya dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi SNN Iran."Mustahil untuk menjamin keamanan di sana kecuali Amerika Serikat menarik diri dari kawasan tersebut, dan negara-negara regional, khususnya Iran dan Oman, mengambil kendali atas Selat Hormuz,” lanjut Rezaee.

"Akhir perang juga ada di tangan kami," imbuh Rezaee.

Menurut Rezaee, Republik Islam Iran telah berhasil "menghancurkan prestise Amerika", dan pada akhirnya akan muncul dari konflik yang sedang berlangsung sebagai kekuatan dengan "kedudukan yang lebih besar di kawasan ini".

Dalam sebuah unggahan di X pada Rabu pekan lalu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menulis, "Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini... adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan [internasional] yang tegas menentang agresi di masa depan."

Keesokan harinya, media Iran merilis pidato publik pertama pemimpin tertinggi yang baru diangkat, Mojtaba Khamenei, di mana dia juga bersumpah untuk menuntut ganti rugi dari musuh.

Topik Menarik