Trump Main Klaim Iran Minta Gencatan Senjata, Teheran Langsung Menyangkal
Presiden Amerika Serikat (AS) mengeklaim bahwa Iran telah meminta bernegosiasi untuk gencatan senjata. Klaim tersebut langsung dibantah Teheran.
“Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin membuatnya karena persyaratannya belum cukup baik,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan NBC News.
Baca Juga: Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi, Iran Justru Menolak Akhiri Konflik
Ketika ditanya tentang persyaratan kesepakatan potensial untuk mengakhiri perang, Trump menjawab: “Saya tidak ingin mengatakan itu kepada Anda.” Tetapi dia setuju bahwa komitmen dari Iran untuk sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklir apa pun akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.
Komentar Trump muncul setelah Reuters melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah mengabaikan upaya untuk memajukan pembicaraan untuk mengakhiri perang.Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah keras klaim Trump. Menurutnya, Iran tidak tertarik untuk berdialog dengan Amerika Serikat.“Kami stabil dan cukup kuat. Kami hanya membela rakyat kami,” kata Araghchi kepada program “Face The Nation” CBS, yang ditayangkan Minggu (15/3/2026).
“Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus berbicara dengan Amerika, karena kami berbicara dengan mereka ketika mereka memutuskan untuk menyerang kami," ujarnya.
“Tidak ada pengalaman baik berbicara dengan Amerika," kesal Araghchi.
“Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi,” imbuh Araghchi.
Dia menambahkan bahwa Iran hanya siap untuk berbicara dengan negara-negara yang ingin bernegosiasi agar kapal tanker minyak tertentu dapat melewati jalur ekspor Selat Hormuz yang penting.“Saya tidak dapat menyebutkan negara tertentu, tetapi kami telah didekati oleh sejumlah negara yang ingin memiliki jalur aman untuk kapal mereka,” katanya.
Perang dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melakukan serangan udara gabungan terhadap Iran yang menewaskan banyak orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu; Ayatollah Ali Khamenei.
Iran langsung membalas dengan menembakkan rentetan rudal dan drone ke Israel dan pangkalan-pangkalan AS di seluruh Timur Tengah. Perang telah memasuki hari ke-16 pada hari Senin (16/3/2026).
Lebih dari 1.400 orang tewas di Iran. Di pihak Israel sebanyak 15 orang tewas, dan di pihak AS sebanyak 13 tentara tewas. Di negara-negara Arab Teluk, total 19 orang tewas. Sedangkan di Lebanon sekitar 850 orang tewas.










