Iran Sebut Tak Akan Ada Perdamaian sampai Seluruh Pasukan AS Hengkang dari Teluk
Iran menyatakan tidak akan ada perdamaian di kawasan Teluk sampai seluruh pasukan Amerika Serikat (AS) meninggalkan kawasan tersebut. Pernyataan ini disampaikan anggota dewan penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaee.
Rezaee—yang merupakan pensiunan mayor jenderal dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—mengatakan bahwa tanpa penarikan pasukan militer Amerika, konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan AS tidak akan berakhir.
Baca Juga: Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi, Iran Justru Menolak Akhiri Konflik
Dia menambahkan, Teheran akan meminta ganti rugi penuh atas kerusakan akibat agresi AS dan Israel dan serta menuntut jaminan keamanan yang kuat dari Washington jika ingin perang berakhir.
"Kehadiran AS di Teluk Persia telah menjadi penyebab utama ketidakamanan selama 50 tahun terakhir," katanya dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi SNN Iran. "Akhir perang juga ada di tangan kami," ujar Rezaee.Menurut Rezaee, Republik Islam Iran telah berhasil "menghancurkan prestise Amerika", dan pada akhirnya akan muncul dari konflik yang sedang berlangsung sebagai kekuatan dengan "kedudukan yang lebih besar di kawasan ini".Militer AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran pada 28 Februari, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa komandan senior.
Pada hari-hari pertama kampanye militer, sebuah rudal jelajah Tomahawk AS menghantam sekolah putri Shajarah Tayyebeh, menewaskan sedikitnya 175 orang, sebagian besar anak-anak. Menurut otoritas Iran, lebih dari 1.300 warga sipil telah kehilangan nyawa mereka sejak serangan AS-Israel dimulai.
Israel Ingin Lanjutkan Perang 3 Minggu Lagi
Sementara itu, militer Israel mengumumkan bahwa mereka berencana untuk melanjutkan perangnya bersama AS melawan Israel setidaknya hingga tiga minggu lagi.“Kami memiliki ribuan target di depan mata,” kata juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, kepada CNN, yang dilansir Senin (16/3/2026).
“Kami siap, berkoordinasi dengan sekutu AS kami, dengan rencana setidaknya hingga hari raya Paskah Yahudi, sekitar tiga minggu dari sekarang. Dan kami memiliki rencana yang lebih mendalam bahkan hingga tiga minggu setelah itu,” lanjut Defrin.Dia mengatakan militer Israel tidak bekerja menurut stopwatch atau jadwal waktu. "Tetapi lebih untuk mencapai tujuan kami, yaitu untuk melemahkan rezim Iran secara signifikan," paparnya.
Menurutnya, serangan AS-Israel terhadap Iran telah mendorong kelompok Hizbullah Lebanon untuk memasuki konflik, tidak seperti perang 12 hari musim panas lalu, ketika kelompok itu memilih untuk tetap berada di luar konflik.
“Pada bulan Juni, mereka memahami bahwa itu adalah kampanye terbatas di Iran, jadi mereka tidak menyerang. Sekarang setelah semuanya terungkap, mereka ikut serta,” kata Defrin.










