Perilaku Konsumen Berubah, Pemasar Wajib Pahami Generative Engine Optimization
Lanskap pemasaran digital tengah mengalami pergeseran fundamental seiring perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak mengandalkan kecerdasan buatan (AI) dalam mencari informasi dan mengambil keputusan pembelian. Kondisi ini menuntut brand untuk tidak lagi sekadar mengejar traffic, tetapi membangun sistem pertumbuhan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
"Perubahan lanskap digital tidak lagi hanya soal platform baru atau fitur iklan terbaru. Menurut Whizzy Growth, transformasi terbesar justru terjadi pada cara konsumen mencari informasi dan membuat keputusan pembelian," ujar CEO Whizzy Growth Tommy Soependi dikutip, Minggu (15/3/2026).
Baca Juga:YouTube Kehilangan Sumber Penghidupannya karena Iklan 5 Detik
Tommy menjelaskan bahwa pengguna kini semakin terbiasa mendapatkan jawaban instan dari sistem berbasis AI, bukan sekadar mencari informasi melalui hasil pencarian konvensional atau berselancar di media sosial dan marketplace. Fenomena ini memunculkan kebutuhan baru dalam strategi digital, yaitu Generative Engine Optimization (GEO).
Berbeda dengan Search Engine Optimization (SEO) yang berfokus pada peringkat halaman di mesin pencari, GEO adalah pendekatan optimasi konten yang dirancang agar brand dapat muncul sebagai referensi dalam jawaban yang dihasilkan oleh sistem AI. Strategi ini menekankan pada struktur informasi yang komprehensif, kredibilitas sumber, serta konsistensi data agar mudah dipahami oleh mesin pencari generatif.Menurut Whizzy Growth, tanpa fondasi sistem dan data yang kuat, brand berisiko kehilangan visibilitas di era generative search. Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan konten mereka mampu menjawab maksud pencarian pengguna secara utuh dan memiliki otoritas yang diakui di dunia digital.
Selain perubahan perilaku konsumen, Whizzy Growth juga menyoroti kesalahan umum brand yang terlalu bergantung pada kampanye jangka pendek. Model pemasaran berbasis boosting dan promo periodik dinilai tidak menciptakan stabilitas penjualan jangka panjang, meskipun dapat meningkatkan transaksi dalam waktu singkat.
"Karena itu, Whizzy Growth mendorong brand untuk membangun system-based growth, yaitu pendekatan yang mengintegrasikan berbagai komponen pemasaran dan operasional digital ke dalam satu ekosistem yang terukur," jelas Tommy. Sistem ini mencakup pelacakan pelanggan dari hulu ke hilir, integrasi iklan dengan marketplace, serta analitik berbasis profit.
Baca Juga:Tidak Ada Iklan di Gemini, Google Tolak Ikuti Jejak OpenAI
Pendekatan berbasis sistem menjadi semakin relevan karena ekosistem digital kini terhubung erat dengan berbagai platform commerce seperti Shopee dan TikTok. Fenomena social commerce, termasuk live shopping dan streaming commerce, mempercepat perubahan ini dengan menggabungkan iklan, konten, dan interaksi real-time dalam satu pengalaman pengguna.Di tengah biaya akuisisi pelanggan yang semakin kompetitif, Whizzy Growth menilai metrik tradisional seperti impresi dan klik tidak lagi cukup. Brand kini perlu memahami indikator yang lebih dekat dengan kesehatan bisnis, seperti margin, efisiensi skala, hingga nilai seumur hidup pelanggan (lifetime value).
"Tanpa orientasi profit yang jelas, pertumbuhan digital sering kali hanya terlihat besar di permukaan, tetapi tidak memiliki fondasi finansial yang kuat," tegas Tommy. Ia menambahkan bahwa integrasi antara data pemasaran dan data bisnis menjadi kunci, termasuk melalui pengembangan koneksi API yang memungkinkan data iklan terhubung langsung dengan sistem CRM.
Ke depan, kombinasi antara performance marketing, integrasi teknologi, serta kesiapan menghadapi GEO diperkirakan akan menjadi standar baru industri. Whizzy Growth menilai brand yang mampu beradaptasi cepat, baik dalam membangun sistem internal maupun strategi visibilitas di era AI, akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat.
"Perubahan terbesar digital marketing saat ini bukan lagi pada platform, melainkan pada cara konsumen mencari jawaban melalui sistem AI," pungkas Tommy. Di tengah persaingan yang semakin kompleks, membangun mesin pertumbuhan yang terukur, adaptif, dan berbasis profit menjadi langkah strategis agar bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berkembang secara berkelanjutan.










