Langka, Penasihat Trump Desak AS Nyatakan Menang lalu Kabur dari Perang Iran

Langka, Penasihat Trump Desak AS Nyatakan Menang lalu Kabur dari Perang Iran

Global | sindonews | Minggu, 15 Maret 2026 - 08:09
share

Seorang penasihat senior Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memperingatkan bahwa Washington mungkin sudah mendekati batas kemampuan yang dapat dicapai dengan aman dalam perang yang semakin meningkat dengan Iran.

Berbicara di podcast "All-In", penasihat AI dan mata uang kripto Gedung Putih, David Sacks, mendesak AS untuk melarikan diri atau mundur dari konflik sebelum semakin meluas di Timur Tengah.

Baca Juga: Iran Ledek Habis Trump usai Mengemis ke Banyak Negara agar Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

“Ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan kemenangan dan keluar,” kata Sacks, dengan alasan bahwa Washington harus mencari jalan keluar melalui negosiasi daripada mendorong eskalasi yang lebih dalam.

“Saya setuju bahwa kita harus mencoba menemukan jalan keluar,” ujarnya, seperti dikutip dari Palestine Chronicle, Minggu (15/3/2026).

Pernyataannya penting dan langka karena menantang narasi dominan yang datang dari Gedung Putih dan banyak tokoh Partai Republik yang terus menggambarkan perang sebagai keberhasilan strategis yang menentukan.

Sebaliknya, Sacks menyampaikan catatan yang jauh lebih hati-hati, menunjukkan bahwa semakin lama perang berlanjut, semakin tidak dapat diprediksi konsekuensinya.

Konsekuensi Bencana

Sacks memperingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk membalas dengan cara yang dapat menggoyahkan seluruh kawasan Timur Tengah.Salah satu skenario yang diuraikannya melibatkan serangan terhadap infrastruktur minyak Teluk dan pabrik desalinasi yang memasok air minum di seluruh Semenanjung Arab.

“Saya pikir ada sekitar 100 juta orang di Semenanjung Arab yang mendapatkan air mereka dari desalinasi,” kata Sacks.

Kerusakan pada fasilitas tersebut dapat memiliki konsekuensi kemanusiaan langsung di beberapa negara Teluk yang sangat bergantung pada air hasil desalinasi.

Sacks menggambarkan skenario tersebut sebagai “benar-benar bencana.”

Komentarnya mencerminkan kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa Iran mungkin akan merespons secara asimetris, menargetkan infrastruktur dan sistem ekonomi daripada hanya berfokus pada konfrontasi militer.

Posisi Israel Tertekan

Sacks juga memperingatkan bahwa perang tersebut dapat menciptakan tekanan serius pada Israel jika terus meningkat.Selama diskusi podcast, dia mencatat bahwa konfrontasi regional yang berkepanjangan dapat menguji sistem pertahanan udara Israel dan mengekspos negara tersebut pada tekanan rudal yang berkelanjutan.

Dalam percakapan yang sama, Sacks menggambarkan Iran sebagai pihak yang memegang apa yang disebutnya sebagai "saklar maut atas nasib ekonomi negara-negara Teluk."

Ungkapan tersebut merujuk pada kemampuan Iran untuk mengganggu infrastruktur ekonomi dan energi utama di seluruh wilayah jika perang semakin intensif.

Membentuk Kembali Kawasan

Pernyataan tersebut disampaikan tak lama sebelum Amerika Serikat melancarkan serangan bom besar-besaran di Pulau Kharg, Iran, sebuah terminal strategis tempat sebagian besar ekspor minyak Iran dimulai.

Serangan tersebut menyoroti betapa dalamnya perang telah menembus infrastruktur ekonomi dan strategis kawasan tersebut.

Pasar energi bereaksi dengan cemas terhadap konflik yang meluas, sementara negara-negara Teluk tetap terpapar risiko serangan balasan terhadap fasilitas minyak dan jalur pelayaran.Sementara itu, Iran dan kelompok-kelompok sekutunya terus melakukan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan target lainnya di seluruh wilayah, memperluas medan perang di luar serangan awal AS-Israel.

Hasilnya adalah konflik yang kini mencakup berbagai front di Asia Barat.

Debat yang Berkembang

Pernyataan Sacks menyoroti semakin lebarnya perpecahan di Washington mengenai seberapa jauh Amerika Serikat harus bertindak dalam konfrontasinya dengan Iran.

Secara publik, pemerintahan Trump terus menunjukkan kepercayaan diri bahwa kampanye militer tersebut melemahkan Teheran dan membentuk kembali keseimbangan kekuatan regional.

Namun di balik pesan tersebut, para pejabat dan sekutu politik tampaknya semakin terpecah mengenai langkah selanjutnya yang harus diambil.

Beberapa tokoh di dalam pemerintahan dan Partai Republik yang lebih luas mendorong eskalasi yang lebih dalam. Menteri Pertahanan Pete Hegseth berulang kali menggambarkan serangan tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melemahkan pengaruh regional Iran dan memulihkan daya jera.Trump sendiri telah menggabungkan retorika kemenangan dengan ancaman eskalasi lebih lanjut. Setelah mengumumkan serangan bom di Pulau Kharg Iran, dia mengeklaim pasukan AS telah "menghancurkan" target militer utama sambil memperingatkan bahwa infrastruktur minyak Iran juga dapat diserang jika Teheran bergerak untuk mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, kelompok yang lebih kecil namun semakin terlihat di dalam lingkaran Trump tampak waspada terhadap perang yang berkepanjangan.

Suara-suara tersebut berpendapat bahwa eskalasi yang berkelanjutan dapat menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik regional yang lebih luas yang melibatkan jaringan pasukan sekutu Iran di Lebanon, Irak, Yaman, dan tempat lain.

Seruan Sacks untuk "menyatakan kemenangan dan keluar" mencerminkan kekhawatiran tersebut.

Alih-alih menganjurkan tekanan militer tambahan, dia menyarankan Washington untuk menggunakan momen saat ini untuk mengeklaim keberhasilan dan mengejar jalan keluar melalui negosiasi sebelum konflik meluas lebih jauh.

Kontras antara posisi-posisi tersebut—eskalasi versus jalan keluar—menjadi salah satu pertanyaan politik utama yang membentuk respons Washington terhadap perang.

Topik Menarik