Perang AS-Iran Bikin Minyak Dunia Mendidih, Kadin Peringatkan Semua Mesti Waspada
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperingatkan konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) melawan Iran, berdampak pada melonjaknya harga minyak dunia. Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mewanti-wanti seluruh sektor usaha untuk waspada.
Anindya menilai, asumsi Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN akan terpengaruh dengan naiknya harga minyak dunia. Namun menurutnya, hal itu tidak bisa dilihat atau dianalisa dalam jangka waktu yang pendek.
"Itu setiap di atas dari 60 dolar AS, yaitu asumsi APBN tentu dampaknya akan terasa. Tapi memang kita mesti lihat dalam jangka satu bulan, dua bulan ini. Atau titik di atas 100 dolar AS, sekarang sudah di bawah 100 dolar AS. Kita mesti lihat stabilnya di mana," tutur Anin -sapaan akrab Anindya Bakrie- saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
Baca Juga: Defisit APBN di Bawah 3 Sulit Dijaga, Airlangga Siapkan Tiga Skenario Terburuk
Menurutnya, dampak konflik terhadap ekonomi dalam negeri perlu dilihat durasi perang terjadi. Namun Ia mengingatkan, segala dampak perlu diantisipasi, seperti melonjaknya harga minyak dunia.
"Sudah pasti kita mesti antisipasi dari kenaikan harga minyak, yang pasti dampaknya berhubungan juga dengan ruang daripada fiskal itu sendiri atau defisit APBN. Lalu juga dengan nilai tukar rupiah, suku bunga, inflasi, rantai pasok dan lain-lain. Ini semua benar-benar kita mesti hitung baik-baik," ungkapnya.
Terlepas dari itu, Anin memberikan cara dalam menyiasati iklim bisnis yang tak menentu seperti saat ini. Ia menilai, semua pelaku usaha perlu melakukan efisiensi. Pasalnya, kata dia, akan ada biaya lain yang tidak bisa dikendalikan.
Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Memanas, Ketua Kadin Peringatkan 3 Risiko Global Ini Perlu Diwaspadai
"Kita juga mesti berpikir bagaimana bekerja sama dengan pemerintah untuk memikirkan program-program prioritas mana yang kita mau dorong supaya efek putarnya itu cepat," ucap Anin.
Selain itu ia menilai, para pelaku usaha bisa berinvestasi di dalam negeri. "Karena merekalah yang sudah melalui siklus berkali-kali dan berani untuk investasi jangka panjang," ucapnya.
"Jadi kalau dilihat sektor mana, ya semua sektor mesti waspada, dan kita tidak menganggap enteng sama sekali. Bahkan kita lihat juga ada beberapa perusahaan yang sudah force majeur. Tapi juga kita tidak boleh panik," imbuh Anin.









