Israel Sebenarnya Menderita Dihujani Rudal Iran, tapi Disensor Zionis

Israel Sebenarnya Menderita Dihujani Rudal Iran, tapi Disensor Zionis

Global | sindonews | Selasa, 10 Maret 2026 - 09:12
share

Israel sebenarnya menderita, baik kerusakan maupun korban jiwa, akibat serangan rudal dan drone balasan Iran sejak perang pecah 28 Februari. Namun, gambar penderitaan mereka jarang muncul di media mainstream dan juga jarang bertebaran di media sosial karena sensor ketat militer Zionis.

Praj Mohan Singh, seorang jurnalis India yang baru kembali dari Israel, mengungkap fakta tentang sensor tersebut. Singh mengatakan otoritas Israel membatasi liputan tentang dampak serangan Iran.

Baca Juga: Trump: Perang Iran Hampir Selesai, AS Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz

Menurutnya, para jurnalis tidak dapat mengakses rumah sakit yang berisi jenazah atau merekam lokasi kehancuran akibat serangan rudal dan drone Iran.

 

Singh mengatakan beberapa rudal Iran bahkan menghantam tanpa sirene peringatan berbunyi. Ini bertentangan dengan jaminan resmi rezim Zionis.

Kementerian Kesehatan Israel mengatakan 13 orang tewas dan 1.929 luka-luka dalam serangan balasan Iran sejak 28 Februari.

“Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu Anda apa pun, Anda tidak dapat mengunjungi rumah sakit yang berisi jenazah, dan ketika terjadi insiden, kami bahkan tidak tahu di mana itu terjadi,” katanya kepada Al Jazeera.Menurut Singh, otoritas pendudukan Israel juga mencegah jurnalis untuk merekam kerusakan yang disebabkan oleh serangan Iran.

Kesaksiannya telah beredar luas di platform media sosial, di mana para pengguna menggambarkannya sebagai bukti sensor militer Israel yang ketat selama perang terbaru ini.

Singh menggambarkan apa yang menurutnya merupakan perbedaan antara pernyataan resmi Zionis Israel dan kondisi di lapangan. “Rudal Iran terkadang menyerang tanpa sirene peringatan,” katanya.

Menurut Singh, beberapa warga sipil tewas bahkan di dalam tempat perlindungan meskipun pemerintah Israel telah menjamin bahwa fasilitas tersebut akan memberikan perlindungan. Hanya saja, kata dia, para wartawan dicegah untuk mendokumentasikan kerusakan tersebut.

Contoh kejanggalan lain adalah NBC News merekam rudal-rudal Iran menghantam Tel Aviv. Tapi, anehnya informasi tentang lokasi dampak dan tingkat kerusakan tidak diungkapkan secara publik.Laporan sebelumnya oleh Al-JazeeraOpen Source Unit menganalisis foto udara yang diterbitkan oleh platform Israel yang tidak tunduk pada sensor militer. Analisis tersebut mengidentifikasi lokasi serangan rudal di kompleks perumahan.

Menurut laporan tersebut, rudal tersebut langsung menghantam tempat perlindungan, menyebabkan kerusakan luas pada rumah-rumah di sekitarnya.

Media Israel juga menerbitkan kesaksian dari penduduk di Beit Shemesh, di mana orang-orang menggambarkan kekuatan serangan rudal Iran. Beberapa penduduk mempertanyakan apakah sistem peringatan dini memberikan cukup waktu untuk mencapai tempat-tempat yang terlindungi.

Meskipun militer mengatakan peringatan telah diaktifkan, beberapa saksi mengatakan penduduk tidak memiliki cukup waktu untuk mencapai tempat perlindungan sebelum dampak terjadi.

Liputan media berbeda dengan kondisi Iran. Media-media Teheran secara terbuka melaporkan bahwa agresi gabungan AS-Israel telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dan melukai lebih dari 10.000 lainnya.

CNN Tak Sengaja Akui Sensor Israel

Saat aksi saling serang rudal antara Iran dan Israel meningkat, komentar yang dibuat oleh seorang reporter CNN selama siaran langsung telah memicu reaksi keras publik secara online.

Momen itu terjadi selama liputan serangan rudal Iran dan peluncuran pencegat Israel di Tel Aviv, ketika reporter tersebut secara tak sengaja mengatakan lokasi tertentu tidak dapat ditampilkan karena pembatasan.

Reporter tersebut mengatakan dalam siaran langsung bahwa pemerintah Israel tidak mengizinkan jurnalis untuk menunjukkan lokasi tertentu, khususnya tempat peluncuran rudal pencegat.

"Kami tidak menunjukkan itu kepada Anda..., karena pemerintah Israel tidak mengizinkan kami atau tidak ingin kami menunjukkan dari mana itu mungkin berasal," katanya.

Setelah pengakuan itu ditayangkan, beberapa pengguna media sosial bereaksi keras. Salah satu komentar pengguna media sosial berbunyi: “LOL mereka baru saja mengakui di siaran langsung TV bahwa Israel MENGONTROL media dan outlet berita Amerika.”Pengguna lain mendesak para jurnalis untuk tidak menahan diri dengan mengatakan, “@CNN Laporkan kebenaran. Jangan menahan diri! Itu adalah tanggung jawab Anda sebagai jurnalis.”

Namun, beberapa pengamat mengatakan bahwa ada alasan yang lebih sederhana di balik pembatasan penayangan lokasi jatuhnya rudal Iran.

“Sebenarnya jauh lebih sederhana, karena alasan Opsec, pemerintah Israel tidak menginginkan video tentang lokasi jatuhnya rudal. Itu akan memberi Iran verifikasi apakah rudal/drone mengenai targetnya atau tidak. Dan ini menguntungkan mereka,” tulis seorang pengguna media sosial.

Iran meluncurkan serangan rudal balistik baru beberapa menit setelah Israel mengeluarkan "sinyal aman", yang memicu bunyi sirene di seluruh Tel Aviv dan Beersheba. Dengan meningkatnya korban jiwa di Beit Shemesh, muncul pertanyaan apakah Pasukan Pertahanan Israel dan Iron Dome kewalahan.

Di tengah klaim bahwa Iran menyerang kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Presiden Israel Isaac Herzog memperingatkan Teheran dan proksinya agar tidak memperluas perang, sementara militer Israel (IDF) melancarkan serangan "ekstensif" baru terhadap target rezim Iran.

Topik Menarik