Perang Iran vs AS-Israel Memanas, Indonesia Cari Jalur Perdagangan Baru
Pemerintah mulai mengalihkan jalur perdagangan ke negara-negara yang minim terdampak konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Langkah tersebut ditempuh untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok global, terutama perdagangan yang bergantung pada arus pelayaran di Selat Hormuz.
"Ketika global supply chain-nya terganggu, ini secara global kan pasti ada yang ekspornya terhambat, termasuk juga impornya terhambat," ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga:Iran Larang Total Ekspor Hasil Pertanian, Picu Kekhawatiran Pasar Global
Budi memastikan ketegangan ini memengaruhi neraca perdagangan termasuk kinerja ekspor ke negara-negara mitra utama di kawasan Eropa maupun Timur Tengah. Gangguan distribusi dinilai dapat memperlambat arus barang dan meningkatkan biaya logistik.
Atas dasar itu, Kemendag memetakan ulang arah perdagangan luar negeri dengan menyesuaikan dinamika geopolitik terkini. Pemerintah akan memastikan negara tujuan ekspor yang relatif stabil dan siap menyerap produk nasional."Kami cari diversifikasi pasar yang nnggak terdampak perang ini. Negara-negara yang belum terdampak kan masih banyak sebenarnya yang secara langsung seperti Asia Tenggara, kemudian Afrika, kami masuki untuk mengisi kekosongan," ungkapnya.
Baca Juga:Jenderal Tertinggi AS: Perang Melawan Iran Masih Jauh dari Selesai
Menurut Budi, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) termasuk yang terdampak akibat terganggunya rantai distribusi ekspor. Sebab itu, pemerintah akan memulai strategi diversifikasi pasar dari produk-produk UMKM yang dinilai lebih fleksibel dalam menjangkau pasar baru. "Sekarang akan kami mulai dari UMKM. UMKM itu kan biasanya kalau ekspor jangka pendek. Ekspor bisa ke mana-mana lebih fleksibel," ujar Budi.










