Harga Gas Melonjak di Tengah Gejolak Timur Tengah, Eropa Sudah Naik 50
Pasar gas di seluruh dunia terguncang setelah ketegangan di Timur Tengah semakin memanas, dimana ada risiko terhambatnya pasokan melalui Selat Hormuz semakin tinggi. Harga acuan gas alam Eropa terpantau sudah naik tajam, seiring meningkatnya risiko pengiriman melalui laut imbas perang Amerika Serikat atau AS vs Iran.
Gas acuan Eropa melonjak sekitar 50, untuk mencetak kenaikan harian terbesar sejak Maret 2022 setelah sebagian besar kapal LNG berhenti melewati Selat Hormuz selama akhir pekan. Jalur air yang sempit di antara Iran dan Oman itu merupakan titik krusial bagi sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas global.
Lonjakan ini diperparah oleh serangan drone di kompleks LNG utama QatarEnergy di Ras Laffan, yang memaksa produksi dihentikan. Selain itu pasar minyak mentah juga kembali naik, dengan Brent melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan karena eskalasi lebih lanjut membatasi aliran energi dari kawasan tersebut.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Naik Mulai Maret 2026, Ini Daftar TerbarunyaDi seluruh Teluk, situs energi lainnya juga terkena dampak atau sementara ditutup, ketika produsen menghentikan sebagian operasi mereka sebagai tindakan pencegahan. Arab Saudi dilaporkan telah menghentikan aktivitas di kilang Ras Tanura menyusul serangan tersebut.
Dengan alternatif jalur pipa yang terbatas dan rute pengiriman melalui kawasan itu terhenti, para pedagang kini memasukkan risiko bahwa jalur pasokan bisa tetap terganggu dalam jangka waktu yang panjang.Para analis memperingatkan bahwa gejolak ini bisa menjadi guncangan paling serius bagi pasar gas sejak krisis energi 2022. Uni Eropa dipandang sebagai pihak yang sangat rentan terhadap gejolak ini.
Baca Juga: Negara Uni Eropa Ini Kehabisan Kayu Bakar di Tengah Musim Dingin Brutal
Blok Eropa telah menghadapi lonjakan biaya energi berulang sejak mengurangi impor minyak dan gas dari Rusia menyusul eskalasi konflik Ukraina. Beralih dari gas pipa Rusia yang relatif murah memaksa blok ini lebih bergantung pada pengiriman LNG, terutama dari AS.
Saat ini ketika musim panas mulai berakhir, namun dengan kondisi penyimpanan yang kurang penuh dari biasanya. Wilayah Eropa membutuhkan impor LNG yang substansial selama musim panas untuk membangun kembali persediaan menjelang musim dingin berikutnya.Kenaikan harga gas terjadi saat Presiden AS Donald Trump menunjukkan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlanjut selama beberapa minggu. Di sisi lain sejumlah besar perusahaan asuransi maritim besar bersiap untuk menghentikan perlindungan risiko perang bagi kapal yang memasuki Teluk Persia.
Serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu, lalu tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan intens dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior lainnya, termasuk kepala Korps Pengawal Revolusi Islam.
Sedangkan Teheran merespons dengan serangan udara terhadap Israel dan beberapa negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Sebagai tanda eskalasi regional lebih lanjut, Hezbollah Lebanon telah memasuki pertempuran dengan serangan lintas perbatasan terhadap posisi militer Israel, yang memicu serangan udara balasan terhadap infrastruktur dan situs komando kelompok tersebut.
Seperti dilansir RT, para analis termasuk Goldman Sachs memperkirakan bahwa penghentian pengiriman selama sebulan melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan harga gas Eropa hingga 130 dari tingkat saat ini. Hal itu tentunya memberi tekanan kembali pada rumah tangga dan industri.
Kirill Dmitriev, utusan presiden Rusia dan kepala dana kekayaan negara Rusia, berpendapat bahwa lonjakan harga terbaru menyoroti biaya dari keputusan Eropa untuk menjauh dari bahan bakar Rusia.
Dalam sebuah postingan di media sosial, Ia menyebutkan bahwa harga gas Uni Eropa “dapat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu dekat”. Ia juga mengklaim bahwa “kesalahan strategis blok tersebut dalam menghindari gas Rusia yang murah dan andal justru berbalik merugikan.”










