Mantan Karyawan Google Ciptakan Simulasi Perang AS-Iran Gunakan Gemini 3.1 dan Data Terbuka

Mantan Karyawan Google Ciptakan Simulasi Perang AS-Iran Gunakan Gemini 3.1 dan Data Terbuka

Teknologi | sindonews | Selasa, 3 Maret 2026 - 17:44
share

Dulu, untuk memantau pergerakan jet tempur dan satelit di zona perang, sebuah negara butuh anggaran militer triliunan rupiah dan jaringan satelit rahasia. Namun di 2026, logika itu dipatahkan telak. Lewat layar peramban (browser) biasa, Bilawal Sidhu membuktikan bahwa siapa saja kini bisa memiliki "Mata Tuhan" untuk mengawasi dunia.

Ketika eskalasi serangan Amerika Serikat ke Iran pecah, mantan Product Manager Google itu mengambil langkah tak biasa. Alih-alih menonton berita, ia melepaskan agen Kecerdasan Buatan (AI) miliknya untuk menyedot setiap sinyal data publik sebelum dihapus oleh pihak berwenang.

Hasilnya adalah "WorldView", rekonstruksi empat dimensi (4D) yang secara akurat memetakan penutupan wilayah udara, gangguan sinyal GPS, hingga berhentinya lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Proyek yang diunggah pada 24 Februari 2026 ini bahkan sukses memancing pendiri Palantir—perusahaan analisis data raksasa langganan militer AS—turun gunung untuk berkomentar di media sosial demi membela perusahaannya.

Logika di Balik "Mata Tuhan"

Apa yang membuat alat ini begitu mengerikan sekaligus mengagumkan adalah fakta bahwa ia dibangun murni menggunakan Intelijen Sumber Terbuka (OSINT). "Kebanyakan orang mengira Anda butuh jaringan satelit pribadi untuk tingkat ketajaman seperti ini," tulis Bilawal, yang sebelumnya bekerja selama 6 tahun di Google untuk membangun peta 3D global.Secara teknis, WorldView ibarat menumpuk berbagai kertas transparan di atas peta bumi. Bilawal menggunakan teknologi Photorealistic 3D Tiles dari Google sebagai peta dasarnya. Di atasnya, ia menumpuk data luar biasa: posisi lebih dari 7.000 pesawat terbang secara langsung dari OpenSky Network, data lalu lintas udara militer dari ADS-B Exchange, hingga lintasan orbit asli dari lebih dari 180 satelit milik CelesTrak.

Ia bahkan menyambungkan rekaman kamera pengawas (CCTV) publik secara langsung ke dalam peta bangunan kotanya.

Pekerja Tunggal Berpasukan AI

Hal ini menunjukkan fakta yang lebih dahsyat. Seorang pengembang tunggal kini memiliki daya komputasi setara dengan satu perusahaan besar. Bilawal mengaku tidak menulis kode programnya sendirian secara manual. Ia mempekerjakan "pasukan hantu" yang terdiri dari 8 agen AI yang bekerja secara bersamaan.

Menggunakan model bahasa pemrograman tingkat tinggi seperti Gemini 3.1, Claude 4.6, dan Codex 5.3, ia membagi tugas.

Satu AI bertugas merancang pelacak satelit, AI lainnya menyambungkan kabel data CCTV, dan sisanya mengatur tampilan visual. Pekerjaan yang di masa lalu membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi tim insinyur, kini rampung hanya dalam satu akhir pekan.

Kecerdasan Spasial: Saat AI Memahami Ruang Fisik

Untuk menyempurnakan nuansa intelijen, aplikasi ini dilengkapi filter visual militer kelas berat. Pengguna bisa melihat kota Austin pada pukul 03.00 pagi dengan mode penglihatan malam (night vision), melihat jembatan London dengan sensor pelacak panas (FLIR thermal), hingga mengubah tampilan kota dengan gaya kartun anime.

Bagi Bilawal, ini adalah awal dari "Kecerdasan Spasial" (Spatial Intelligence). Jika AI saat ini pintar mengolah teks dan gambar, AI masa depan mulai memahami ruang fisik dunia nyata, pergerakan objek, dan relasi jaraknya. Hal ini akan mengubah total wajah sistem keamanan, logistik, hingga respons bencana global.

Fitur paling menghentak dari alat yang rencananya akan dirilis ke publik pada bulan April mendatang ini adalah kemampuannya menyorot segalanya secara serentak. Ini melahirkan apa yang disebut "Panoptic view"—sebuah konsep di mana Anda bisa mengawasi semua orang tanpa mereka sadari.

"Anda bisa melihat semuanya," ujar Bilawal takjub. Sebuah penemuan luar biasa yang perlahan mengubah dunia menjadi ruangan kaca tanpa tirai penutup.

Topik Menarik