Komandan Top AS Briefing Trump soal Opsi Militer terhadap Iran
Seorang komandan utama Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah telah memberikan pengarahan (briefing) kepada Presiden Donald Trump tentang opsi militer terhadap Iran. Briefing berlangsung pada Kamis, hari ketika perundingan Amerika dan Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.
Menurut laporan ABC News, Jumat (27/2/2026), komandan Komando Pusat (CENTCOM) AS Laksamana Brad Cooper memberikan pengarahan kepada Trump, dengan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine ikut hadir.
Baca Juga: Perundingan AS dan Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan, Awas Perang di Depan Mata!
Opsi-opsi tersebut dilaporkan berkisar dari serangan terbatas pada peluncur rudal balistik dan fasilitas nuklir yang bertujuan untuk menekan Teheran, hingga operasi berkelanjutan yang lebih luas yang dapat melibatkan Israel dan membawa risiko eskalasi atau perubahan rezim.
“Pada hari Kamis belum jelas apakah rencana tersebut telah diterima oleh Trump, yang dikatakan semakin frustrasi dengan penolakan Iran untuk menyetujui tuntutannya agar menghentikan pengayaan uranium dan membatasi program rudal balistiknya,” tulis ABC News dalam laporannya.Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Anna Kelly menepis spekulasi tentang niat presiden.“Media boleh terus berspekulasi tentang pemikiran Presiden sesuka mereka, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang mungkin atau tidak mungkin dia lakukan,” katanya.
Potensi perang antara AS dan Iran semakin terbuka lebar setelah kedua pihak mengakhiri perundingan terkait program nuklir Teheran di Jenewa pada hari Kamis tanpa mencapai kesepakatan. Terlebih, Washington telah mengerahkan armada pesawat dan kapal perang besar-besaran ke Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang menjadi mediator dalam perundingan di Jenewa, mengatakan telah ada "kemajuan signifikan dalam negosiasi" tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Namun, tepat sebelum perundingan berakhir, stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran bertekad untuk terus memperkaya uranium, menolak proposal untuk mentransfernya ke luar negeri, dan meminta pencabutan sanksi internasional. Ini menunjukkan bahwa mereka menolak tunduk pada tuntutan Presiden AS Donald Trump.
Trump menginginkan kesepakatan untuk membatasi program nuklir Iran, dan dia melihat peluang saat negara Islam tersebut sedang berjuang di dalam negeri dengan meningkatnya perbedaan pendapat setelah protes nasional. Iran juga berharap untuk menghindari perang, tetapi tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium dan tidak ingin membahas isu-isu lain, seperti program rudal jarak jauhnya atau dukungan untuk kelompok bersenjata seperti Hamas dan Hizbullah.
Al-Busaidi mengatakan pembicaraan teknis yang melibatkan perwakilan tingkat rendah akan berlanjut minggu depan di Wina, tempat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) berada. Badan pengawas atom PBB itu kemungkinan akan berperan penting dalam kesepakatan apa pun.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan AS adalah beberapa dari "putaran negosiasi paling intens dan terpanjang".
Araghchi tidak memberikan rincian spesifik tetapi mengatakan, "Apa yang perlu terjadi telah dijelaskan dengan jelas dari pihak kami."
Jika Amerika menyerang, Iran mengatakan pangkalan militer AS di wilayah tersebut akan dianggap sebagai target yang sah, yang membahayakan puluhan ribu anggota militer Amerika. Iran juga mengancam akan menyerang Israel, yang berarti perang regional dapat kembali pecah di seluruh Timur Tengah.
“Tidak akan ada kemenangan bagi siapa pun—ini akan menjadi perang yang menghancurkan,” kata Araghchi kepada India Today dalam sebuah wawancara yang direkam pada hari Rabu, tepat sebelum dia terbang ke Jenewa.
“Karena pangkalan-pangkalan Amerika tersebar di berbagai tempat di wilayah tersebut, maka sayangnya mungkin seluruh wilayah akan terlibat dan ikut campur, jadi ini adalah skenario yang sangat mengerikan.”









