Gertak Iran, Kapal Induk Gerald R Ford Amerika Bergerak ke Israel

Gertak Iran, Kapal Induk Gerald R Ford Amerika Bergerak ke Israel

Global | sindonews | Jum'at, 27 Februari 2026 - 08:42
share

Washington terus menggertak Iran dengan kekuatan militer besar-besaran agar menuruti tuntutan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam perundingan terkait program nuklir Teheran. Kali ini, kapal induk terbesar di dunia milik Amerika, USS Gerald R. Ford, bergerak ke Israel.

Kapal tersebut berangkat dari Kreta pada hari Kamis, tempat ia berlabuh, dan diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan kekuatan tempur AS di Timur Tengah jika Trump akhirnya memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Baca Juga: Perundingan AS dan Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan, Awas Perang di Depan Mata!

Sayap udara kapal induk tersebut mencakup 75 jet tempur, termasuk pesawat F-35C, F-16, dan F/A-18. Kapal ini mampu meluncurkan hingga 150 sorti tempur per hari, dibandingkan dengan sekitar 120 sorti pada kapal induk yang lebih tua seperti USS Abraham Lincoln, yang sudah beroperasi di Teluk Oman dengan kelompok serang yang mencakup tiga kapal perusak rudal, sebuah kapal selam, dan kapal tambahan.

Sebaliknya, kelompok serang Gerald R. Ford mencakup enam kapal perusak rudal. Dinamai sesuai nama presiden ke-38 AS, kapal induk ini memiliki bobot sekitar 100.000 ton dan berukuran panjang 337 meter (1.106 kaki) dan lebar 78 meter (256 kaki) di dek penerbangan. Kapal ini dapat berlayar dengan kecepatan hingga 56 km/jam (35 mph). Kapal ini diperintahkan menuju Timur Tengah dari Karibia sekitar dua minggu yang lalu, di mana pesawat-pesawatnya telah berpartisipasi dalam operasi untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro.

Ribuan pelaut bertugas di atas kapal induk ini. Sistem pertahanannya meliputi peluncur rudal anti-pesawat, sistem Rudal Rangka Pesawat Berputar (Rolling Airframe Missile), susunan radar, dan sistem senjata jarak dekat seperti Phalanx, meriam 25 mm, dan empat senapan mesin berat M2 Browning.Selain kemampuan militernya, kapal induk ini dilengkapi dengan rumah sakit lengkap, empat gimnasium, lift yang menghubungkan dek-deknya, sebuah kapel, sebuah toko, sebuah supermarket, dan sebuah kafetaria yang menyajikan empat kali makan sehari, beserta bar jus dan salad. Kapal ini juga dilengkapi dengan lounge yang menyediakan Wi-Fi di seluruh kapal, meja biliar, konsol game, dan layar televisi besar yang menayangkan berbagai saluran TV dan film Hollywood saat berada di laut.

Pengerahan pasukan ini terjadi ketika para mediator dari Oman, serta pejabat AS dan Iran, menggambarkan putaran negosiasi tidak langsung terbaru di Swiss sebagai konstruktif.

Sebelum perundingan berakhir—yang lagi-lagi tanpa kesepakatan—, para pejabat Israel telah menilai bahwa kemungkinan serangan AS terhadap Iran dalam waktu dekat sangat tinggi.

Setelah berakhirnya perundingan tersebut, jangka waktu serangan itu mungkin telah diundur. Lebih dari seminggu yang lalu, Trump mengatakan dia memberi Iran waktu "10 hingga 15 hari" untuk membuat kesepakatan. Jika Washington menunggu putaran perundingan lanjutan yang diharapkan minggu depan, tenggat waktu itu untuk potensi serangan dapat bergeser.

Seorang pejabat AS menggambarkan perundingan di Jenewa sebagai "positif" dan mengatakan putaran lain direncanakan untuk awal minggu depan di Wina. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, diperkirakan tidak akan menghadiri sesi mendatang. “Kami terus berupaya untuk mencapai kesepakatan,” kata pejabat itu, seperti dikutip Ynet, Jumat (27/2/2026).Araghchi menyampaikan nada yang lebih optimistis di akhir perundingan di Swiss. “Kami mampu mencapai beberapa hal positif terkait sanksi dan isu nuklir. Ini adalah putaran terbaik dan paling serius,” katanya, menambahkan bahwa diskusi teknis tingkat ahli akan dimulai pada hari Senin.

“Ini menunjukkan keseriusan kedua belah pihak mengenai proses diplomatik," paparnya.

Dia mengatakan konsultasi akan menyusul, yang mengarah ke putaran keempat perundingan. “Pada isu-isu tertentu, kami hampir mencapai pemahaman. Ada isu-isu lain yang masih diperdebatkan,” kata Araghchi.

"Amerika harus memilih antara dialog atau konfrontasi dan ketegangan. Tidak ada solusi militer untuk masalah nuklir. Pihak lain telah mencoba itu di masa lalu dan gagal," ujar diplomat top Iran tersebut.

Menteri Luar Negeri Oman, al-Busaidi, yang negaranya menjadi mediator dalam perundingan tidak langsung, sebelumnya mengatakan, "Kami menyimpulkan hari ini setelah kemajuan signifikan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Kami akan segera melanjutkan setelah konsultasi.” Dia menambahkan bahwa diskusi teknis akan berlangsung minggu depan di Wina dan berterima kasih kepada para peserta, Badan Energi Atom Internasional, dan Swiss.

Terlepas dari nada positif, kesenjangan besar tetap ada. Menurut The New York Times, Trump masih lebih menyukai serangan terbatas yang menargetkan situs nuklir dan rudal Iran daripada kampanye yang lebih luas.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa terlepas dari pernyataan optimistis, kedua pihak tetap jauh berbeda pendapat mengenai isu-isu kunci.

Utusan AS mengatakan Iran harus membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya—Fordow, Natanz, dan Isfahan—dan, menurut para pejabat, telah menuntut agar Teheran mentransfer sisa persediaan uranium yang diperkaya ke Amerika Serikat. Washington juga bersikeras bahwa setiap perjanjian nuklir harus bersifat permanen.

Media Iran dan sumber yang mengetahui perundingan tersebut mengatakan Teheran menolak gagasan untuk memindahkan cadangan uraniumnya ke luar negeri dan menentang penghentian pengayaan uranium, pembongkaran fasilitas nuklir, atau menerima pembatasan permanen pada program nuklirnya.

Topik Menarik