Kemen Ekraf Godok Sinewara, Bioskop Negara Pertama Siap Dibangun di Otista
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan pematangan terkait proyek pembuatan bioskop milik negara bernama Sinewara yang digagas oleh PT Produksi Film Negara (PFN).
Hal tersebut diungkapkan Irene Umar dalam sesi wawancara cegat bersama awak media di Kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta Selatan, Kamis (19/2/2026) petang. “Terakhir mungkin kalau itu sekarang lagi kita godok bersama,” ungkap Irene.
Pematangan tersebut dilakukan lantaran munculnya usulan Simewara karena permasalahan layar yang terbatas di dunia sinema. Sehingga, penambahan layar sebagai solusi dari masalah tersebut menjadi skala prioritas saat ini.
Baca Juga : Joko Anwar Sukses Bawa 'Ghost in the Cell' Menembus Berlinale 2026“Karena kan salah satu problem di sinema adalah layar yang terbatas kan. Jadi itu kami lagi godok terus supaya tamba layar,” tambah dia.
Disinggung terkait lokasi dibangunnya Sinewara, Irene masih enggan untuk membocorkannya. Ia menyebut bahwa itu akan menjadi kejutan bagi masyarakat nantinya. “Ada aja, surprise pokoknya,” tutur Irene.Sebelumnya, ide terkait pembuatan Sinewara sendiri diungkapkan langsung Direktur Utama PFN, Arief ia Fajarsyah atau akrab disapa Ifan Seventeen dalam Rapat Dengar Pendapat Panja Kreativitas dan Distribusi Film Komisi VII DPR RI pada Senin, 2 Februari 2026. Ia mengatakan, Sinewara dibuat di lahan milik PFN di Jalan Otista Jakarta Timur.
Baca Juga : Film Agak Laen: Menyala Pantiku! Tembus 10 Juta Penonton di Hari ke-35 Penayangan, Nyaris Salip KKN di Desa Penari
“Road map daripada PFN ke depan insyaallah PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara yang berlokasi di Otista (Jakarta Timur) itu di PFN,” kata Ifan.
Pembuatan Sinewara sendiri dilatarbelakangi oleh minimnya jumlah layar sinema yang ada di Indonesia. Ia menjelaskan, saat ini Indonesia hanya memiliki 2.400 layar sinema. Angka tersebut jauh dari jumlah yang seharusnya dimiliki Indonesia yaitu 20.000 layar di mana saat ini yang harus ditargetkan adalah setengah dari angka tersebut yaitu 10.000 layar.
“Dari data yang kami punya sekarang di negara kita tersedia hanya sekitar 2.400 layar. Idealnya jika dibandingkan dari India, China maupun USA, harusnya Indonesia itu mempunyai 20.000 layar. Yang menjadi target setengahnya let's say 10.000 layar,” ucap dia.Bahkan, jumlah 2.400 layar yang ada di Indonesia tidak merata di seluruh wilayah. Ia menyebut bahwa hanya 25 sampai 30 persen kabupaten kota yang mempunyai layar. “Dibalik tingkat penyebarannya sangat tidak rata, bahkan hanya 25 sampai 30 persen daripada kabupaten kota yang ada di Indonesia yang mempunyai layar. Jadi memang penyebarannya sangat tidak rata,” tutur Ifan.
Maka dari itu, Sinewara sendiri menjadi pilot project bioskop negara pertama. Ia berharap, adanya Sinewara bisa menjadi pendorong hadirnya bioskop atau layar di setiap daerah.
“Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama. Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi salah satu shareholder,” beber dia.
Lebih lanjut, ia juga meminta agar dilakukan kajian mendalam terkait ketahanan film Indonesia, di mana saat ini penayangan film lokal di bioskop hanya dilakukan setiap hari Kamis dengan daya tahan penayangannya mengikuti okupansi penonton.
“Saat ini memang film Indonesia, film lokal itu tayang di layar bioskop setiap hari Kamis saja. Dimana daya tahan penayangan filmnya itu sangat bergantung pada okupansi penonton. Balik lagi ini sudah menjadi polemik yang sangat luar biasa. Tapi kami ingin mengusulkan kajian yang lebih mendalam bagaimana jika diadakan hari penambahan untuk tayangnya film lokal dan juga sistem daripada ketahanan film tersebut yang ada di layar,” pungkas dia.










