Harta Karun Tanah Jarang AS Dilirik Taiwan, Termasuk Proyek Trump?
Taiwan berencana mengirim tim penilai untuk mengukur seberapa besar cadangan mineral tanah jarang yang dimiliki Amerika Serikat (AS). Tujuannya adalah terkait kerja sama pengolahan rare earth atau mineral tanah jarang antara Taiwan dan AS, seperti disampaikan oleh Menteri Ekonomi Kung Ming-hsin.
Seperti diketahui pemerintahan era Presiden Donald Trump telah meningkatkan upaya untuk mengamankan pasokan mineral kritissetelah China mengguncang pasar global tahun lalu dengan menahan pasokan tanah jarang yang diperlukan oleh produsen mobil Amerika dan produsen industri lainnya.
Sebelumnya, Trump meluncurkan proyek Vault sebagai upaya mengamankan cadangan strategis mineral penting milik AS. Dana awal disiapkan sebesar USD10 miliar dari Bank Ekspor-Impor AS dan USD2 miliar dari pendanaan swasta.
Baca Juga: Apa itu Proyek Vault? Ambisi Trump untuk Menguasai Mineral Tanah Jarang
Meskipun Taiwan dikenal sebagai kekuatan besar dalam bidang semikonduktor, namun secara resmi belum menjadi bagian dalam proyek tersebut. Sebelumnya ada pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang bagaimana mereka bisa membantu, mengingat kekhawatiran Taipei terhadap ketergantungan yang berlebihan pada rantai pasokan yang berpusat di China.Sementara itu China yang memandang Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, telah meningkatkan militernya. Berbicara kepada wartawan di Taipei, Kung mengatakan bahwa Badan Survei Geologi dan Manajemen Pertambangan kementerian itu akan pergi ke Amerika Serikat untuk menilai cadangan tanah jarang di sana.
"Secara spesifik, unsur tanah jarang apa yang mereka miliki dan apakah cocok. Dengan kata lain, apakah itu tanah jarang yang benar-benar kita butuhkan. Jadi kita masih perlu menyelidikinya," katanya.
Mengingat Taiwan tidak menambang unsur-unsur tersebut, Taiwan justru bisa berperan dalam memurnikan bahan-bahan dari negara lain, tambah Kung. Baca Juga: Guncang Dominasi China, Tambang Greenland Temukan Cadangan Logam Tanah Jarang Strategis Baru
"Teknologi bukanlah masalah, langkah selanjutnya adalah meningkatkan skala," katanya.
Sebagai informasi Taiwan mengonsumsi 1.500 metrik ton tanah jarang setiap tahun, angka yang diproyeksikan bakal meningkat menjadi 2.000 metrik ton seiring pertumbuhan ekonomi.
"Tujuan kami adalah memperluas kapasitas produksi untuk memenuhi setengah dari permintaan kami saat itu, sambil memperkuat rantai pasokan," ungkap Kung.










