Berawal dari Blok Ekonomi, Mungkinkah BRICS Bergeser Jadi Aliansi Militer?

Berawal dari Blok Ekonomi, Mungkinkah BRICS Bergeser Jadi Aliansi Militer?

Ekonomi | sindonews | Rabu, 18 Februari 2026 - 08:44
share

Rusia membantah kabar yang menyatakan bahwa blok ekonomi BRICS bakal berubah menjadi aliansi militer. Ditegaskan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov bahwa kabar tersebut tidak benar.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita negara TASS, Ryabkov mengatakan BRICS bukanlah aliansi militer maupun organisasi keamanan kolektif dengan kewajiban terkait bantuan militer bersama. Baca Juga: AS Makin Semena-mena, BRICS Gelar Latihan Perang

"Blok ini tidak pernah dirancang dengan semangat itu, dan tidak ada rencana untuk mengubah BRICS ke arah tersebut," kata Ryabkov.

Ia juga menerangkan, bahwa portofolio blok yang beranggotakan 11 negara itu tidak mencakup latihan militer atau pengendalian senjata. Ryabkov juga membantah bahwa latihan angkatan laut bersama belum lama ini yang diadakan di Afrika Selatan sebagai inisiasi BRICS.

Ryabkov mengungkapkan, bahwa anggota yang berpartisipasi melakukannya dalam kapasitas nasional mereka. Hal itu merujuk pada latihan "Will for Peace 2026" yang diadakan pada 9-16 Januari, yang melibatkan China, Iran, dan Rusia.

"Tidak pernah dipikirkan dengan semangat seperti itu," kata wakil menteri luar negeri itu kepada media pemerintah.

Baca Juga: Jerman Akui Keliru Jauhi BRICS, Janji Koreksi Kebijakan

Ketika ditanya apakah BRICS dapat melindungi kapal tanker milik anggota mereka dari serangan dan memastikan keselamatan mereka, Ryabkov mengatakan bahwa blok tersebut tidak memiliki potensi selain meningkatkan logistik dan memastikan perlindungan lebih besar dari sanksi, dan bahwa keamanan harus “dijamin dengan cara lain.”

Sebagai informasi BRICS dibentuk pada tahun 2009 oleh Brasil, Rusia, India, dan China, dimana setelahnya Afrika Selatan bergabung pada tahun 2010. Kemudian Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Ethiopia, Indonesia, dan Iran masuk untuk memperluas kelompok ini menjadi 11 anggota, bersama dengan 10 negara mitra.Wamen luar negeri Rusia mengatakan, bahwa pertumbuhan perdagangan antara negara-negara BRICS jauh melampaui rata-rata global, “sebuah indikasi bahwa BRICS, tanpa menjadi semacam 'tongkat ajaib,' sebenarnya bisa membantu menyelesaikan masalah,".

Ryabkov juga menekankan, bahwa BRICS bisa dan seharusnya menyatakan solidaritas dengan Iran, serta Moskow dan Beijing sedang berkomunikasi dengan negara tersebut dan bekerja untuk “memastikan lingkungan politik yang sesuai” bagi negosiasi antara Teheran dan Washington.

Menurutnya, fokus saat ini adalah “pada negosiasi yang sedang dilakukan Iran dengan mitranya, pada pekerjaan yang dilakukan Iran secara tidak langsung -terutama melalui perantara Arab- dengan Amerika,” yang diyakininya akan terus berlanjut.

AS dan Iran melakukan pembicaraan tidak langsung di Muscat pada 6 Februari dengan mediasi Oman untuk membahas program nuklir Teheran, menandai akhir dari penangguhan sekitar delapan bulan setelah AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran selama perang Iran-Israel selama 12 hari pada Juni 2025.

Washington juga telah secara signifikan meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut saat Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran, yang baru-baru ini menghadapi protes besar-besaran akibat memburuknya kondisi ekonomi.

Pengayaan uranium tetap menjadi titik perselisihan utama, ketika AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan memindahkan uranium yang diperkaya tinggi keluar dari negara itu.

AS juga berusaha memasukkan program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di wilayah tersebut dalam negosiasi, tetapi Teheran berkali-kali menyatakan tidak akan menegosiasikan isu-isu di luar program nuklirnya.

Topik Menarik