Bukan Hanya Pangkat Akademik, Abdul Muti Sebut Tiga Keteladanan yang Wajib Dimiliki Profesor

Bukan Hanya Pangkat Akademik, Abdul Muti Sebut Tiga Keteladanan yang Wajib Dimiliki Profesor

Gaya Hidup | sindonews | Selasa, 17 Februari 2026 - 08:10
share

Profesor tidaklah sekadar pangkat akademik, Profesor harus memiliki paling tidak tiga keteladanan, Profesor mestinya menjadi cahaya di tengah gulita, menjadi pemandu di tengah arah tak menentu.

Pesan itu dsampaikan Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat memberi arahan pada pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, sebagai Guru Besar ke-27 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan Sumatera Utara, Senin (16/2/2026)

Baca juga: UNEJ Kukuhkan 4 Guru Besar, Jumlah Profesor Tembus 101 Orang

Mengawali arahannya, Abdul Mu’ti yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menukil buku Tom Nichols Matinya Kepakaran ( The Death Of Expertise ) yang menggambarkan bagaimana ilmuwan itu semakin tersaingi oleh berbagai teknologi.

Orang ingin mencari fatwa agama tidak selalu datang kepada para ulama atau para pendeta, tapi kepada profesor google. Terkadang orang mencari fatwa di sana tidak untuk mencari kebenaran tapi mencari pembenaran. Orang mengikutinya tanpa ada yang memandunya.

“Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu, tidak lagi ditentukan oleh hukum, tapi ditentukan oleh popularitas dan viralitas, yang paling banyak mendukung itulah yang dianggap sebagai kebenaran. Padahal yang viral di media sosial itu bukan seringkali bukan aspirasi sesungguhnya, melainkan aspirasi yang digerakkan oleh robot”, jelas Mu’ti, dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (17/2/2026).

Baca juga: 14 Gelar Kehormatan Megawati, dari Waseda Jepang hingga Kampus Wanita Terbesar di Dunia

Mu’ti juga menceritakan buku Werner Herzog pembuat film legendaris Jerman dalam buku non-fiksi karyanya, "The Future of Truth" yang terbit akhir tahun 2025. Buku itu menguraikan panjang lebar mengenai dunia yang semakin tidak menentu.

Dunia di era digital ini makin sulit untuk membedakan mana yang fact dan fake, mana fakta-fakta dan fabrikasi. Mu’ti menyebutnya mana yang hak dan mana yang hoaks, mana yang benar dan mana yang salah.

Mu’ti mengupas buku itu, bagaimana AI mempengaruhi perilaku manusia, dia berbicara mengenai kebenaran yang semakin diputar balikan dan dunia yang semakin tidak menentu karena orang tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Di bab terakhir dari 11 bab berjudul The Future of Hope, akhir tulisannya hanya berisi dua kalimat, yaitu “kebenaran itu tidak punya harapan tapi kebenaran juga tidak punya masa lalu, tetapi kita tidak akan dan juga harus selalu dan tidak bisa dan tidak boleh berputus asa untuk senantiasa mencari dan menemukan kebenaran”.“Saya cari sampai halaman terakhir The Future of Truth itu ternyata penutupnya hanya dua kalimat, di kalimat terakhir bab sebelas itu dia menulis truth has no future but truth has no past either but we will not, must not, cannot give up but we will not, must not, cannot give up the search for it,” papar Mu’ti.

Di era kecemasan dan kebimbangan itulah kehadiran cendekiawan kehadiran para tokoh agama, rohaniawan tetap sangat diperlukan. Robot tidak bisa membantu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. AI tidak bisa membantu membedakan mana benar dan salah. AI bisa menjelaskan, tetapi tidak bisa mendeteksi kebenaran informasi.

Menyitir pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sebelumnya, Haedar Nashir menyebut Guru Besar sebuah capaian perjuangan akademik tertinggi insan muslim dan kader Muhammadiyah, sebagai sosok Ulil Albab, akademikus yang bukan hanya berpikir di permukaan tetapi mampu menyingkap di bawah permukaan.

Mu’ti menyampaikan dalam Al-Quran ditemukan empat istilah yang berkaitan dengan orang-orang yang cerdas orang berilmu atau cendekiawan itu. Pertama Ulul Albab, kedua Ulul Abshor, ketiga Ulul ‘Ilmi, dan keempat itu Ulul Nuha.

Meski ada perbedaan di antara keempatnya tetapi semuanya menunjukkan kepada orang yang berilmu tinggi yang punya wawasan luas. Kedalaman dan kearifannya berdasarkan ilmu itu sangat dipentingkan dan tetap saja menjadi penentu dalam banyak hal.

Allah SWT berfirman, katakan Muhammad tidak sama al-khobis dengan al-toyyib tidak sama kejahatan dengan kebaikan, tidak sama sesuatu yang kotor dengan sesuatu yang bersih walau sesuatu yang kotor itu sangat mengagumkan dan mengerikan karena jumlahnya yang sangat banyak. Pesan dari ayat itu agar orang-orang yang cerdas tidak perlu takut, teruslah konsisten walaupun kebenaran itu tidak banyak pendukungnya. Wahai orang-orang yang cerdas bertakwalah kepada Allah tidak perlu takut agar kamu menjadi orang-orang yang menang, menjadi orang-orang yang beruntung.

"Katakanlah (Muhammad), 'Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal, agar kamu beruntung'." (QS al-Ma’idah: 100)

Kehadiran ilmuwan, Ulul Albab, Ulul Abshor penting, memiliki visi jauh ke masa depan, dengan kualitas ilmunya bisa memandu umat, memandu masyarakat.

Dijelaskan, ilmu memiliki fungsi preskripsi, dengan ilmu seseorang bisa memproyeksi apa yang bakal terjadi dan bagaimana mengatasinya agar sesuatu itu tidak terjadi untuk memperkuat yang baik.

Menurut Mu’ti, kehadiran profesor tidaklah sekadar pangkat akademi, Profesor harus memiliki paling tidak 3 keteladanan. Pertama keteladanan intelektual. Gelar Profesor sebuah capaian yang tidak mudah, karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan intelektual sebagai seorang yang memiliki ilmu, mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.

Kedua keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban. Ketiga keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru. “Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar”, seloroh Mu’ti.

Terkait dengan keteladanan itu, Mu’ti berharap semua bisa memperkuat paling tidak dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama-sama.

Pertama kebenaran agama, kebenaran diniyah. Mu’ti memandang penting karena tantangannya tidak semakin ringan tapi semakin berat. Kebenaran agama yang membawa kepada keyakinan bahwa di tengah carut marut, agama menuntun kita dengan wahyu Illahi yang membuat kita yakin senantiasa berada pada jalan yang benar.

Kedua kebenaran aqliyah atau kebenaran ilmiyah. Dengan kekuatan ilmu memandu membantu masyarakat untuk maju. Inilah pentingnya para pendiri bangsa meletakkan dasar tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semuanya semakin optimistis bahwa Indonesia ini akan semakin maju Indonesia akan semakin hebat ketika pendidikan Indonesia juga pendidikan maju dan berkualitas khususnya pendidikan dasar dan pendidikan menengah”, Mu’ti optimistis.

Mu’ti mengakhiri arahannya dengan pantun, “bunga mekar di pagi hari menghias indah taman kota, guru besar berilmu tinggi sang pencerah peradaban bangsa”.

Topik Menarik