Petrodolar Tergerus, 20 Transaksi Minyak Global Beralih ke Mata Uang Lokal
Hegemoni petrodolar dalam perdagangan energi global mulai mendapatkan tekanan seiring meningkatnya penggunaan mata uang lokal dan alternatif oleh negara-negara BRICS dan sebagian kawasan Eropa. Meski belum runtuh, pergeseran ini mulai menyoroti berkurangnya dominasi de facto dolar AS untuk penyelesaian transaksi minyak.
Data dari firma penasihat investasi Sowell Management, yang dikutip dari Watcher Guru, menunjukkan 80 perdagangan minyak masih diselesaikan menggunakan petrodolar, sementara 20 lainnya dibayar dengan mata uang lokal, terutama oleh blok BRICS dan beberapa negara Eropa. Angka 20 ini dinilai cukup besar karena berpotensi meningkat ke kisaran 25 hingga 30 dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga:Lepas Ketergantungan Dolar AS, BRICS Siapkan Arah Baru di KTT 2026
China, sebagai anggota kunci BRICS, secara agresif mempromosikan petro-yuan sebagai alternatif. Sejumlah pembelian minyak, batu bara, dan tembaga telah diselesaikan menggunakan yuan. Sementara itu, India telah membayar sebagian transaksi minyaknya dengan yuan, serta menggunakan rubel dan rupee.
Dorongan serupa datang dari Rusia dan negara BRICS lainnya yang semakin gencar menggunakan mata uang non-dolar dalam perdagangan bilateral, khususnya untuk komoditas energi. Uni Emirat Arab juga tercatat masuk dalam skema pembayaran alternatif ini.
Perubahan tersebut berpotensi signifikan mengingat blok BRICS menguasai hampir 40 produksi minyak global. Kekuatan energi utama ini secara bertahap menyiapkan perubahan besar yang dapat menggeser keseimbangan dengan mendorong mata uang lokal sebagai alat pembayaran utama.
Baca Juga:Tersangka Penembakan Jenderal Rusia Ditangkap di Dubai, Putin Beterima Kasih pada Mohammed bin Zayed
Meski pergeseran saat ini masih dalam skala terbatas, konsolidasi kekuatan mata uang alternatif terus berjalan. Tekanan terhadap dolar AS untuk mempertahankan hegemoninya dalam sistem keuangan global pun semakin nyata.
Langkah ini dinilai bukan hanya soal diversifikasi mata uang, tetapi juga bagian dari repositioning geopolitik untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang berpusat pada dolar AS.










