LCGC, Mobil Sejuta Umat Itu Semakin Ditinggalkan

LCGC, Mobil Sejuta Umat Itu Semakin Ditinggalkan

Otomotif | sindonews | Sabtu, 5 September 2026 - 20:55
share

Lima puluh sembilan ribu tujuh belas unit. Itu total LCGC yang laku dijual sepanjang semester pertama 2026. Turun 13 persen dari tahun lalu. Angka wholesale-nya lebih parah lagi. Dari pabrik ke diler cuma 55.506 unit. Anjlok 18,4 persen dibanding periode sama 2025 yang masih 68.038 unit.

LCGC dulu rajanya mobil rakyat. Kini pelan-pelan tergusur. Kontribusinya ke pasar nasional pun menyusut cepat. Tahun 2024 masih 21 persen dari total pasar mobil. Tahun 2025 turun ke 15 persen. Semester pertama 2026 tinggal 13 persen saja.

Tren tiga tahun terakhir memang konsisten menurun. Wholesale LCGC 2023: 204.705 unit. 2024: 176.766 unit. 2025: 122.686 unit. Tiap tahun turun, tidak ada tanda berhenti.

Kuartal pertama 2026 malah paling parah: minus 29,9 persen, cuma 28.831 unit. Kuartal kedua membaik sedikit, tapi tetap merah. Produksinya pun ikut turun 15 persen jadi 70.845 unit sepanjang semester pertama, dari 83.367 unit tahun lalu.

Daihatsu paling kena getahnya. Penjualan LCGC-nya turun 31,4 persen jadi 18.846 unit. Pangsa pasarnya ikut menyusut ke 31,9 persen.Meski begitu, Sigra dan Calya masih jadi andalan segmen ini. Juli 2026, Daihatsu Sigra terjual 3.092 unit, setara 34 persen dari total pasar LCGC bulan itu. Disusul Toyota Calya 2.418 unit, Honda Brio 1.447 unit, Toyota Agya 1.174 unit, dan Daihatsu Ayla 996 unit.Marketing Director PT Astra Daihatsu Motor, Rokky Irvayandi, tidak mau bilang LCGC sedang sekarat. Menurutnya pasar LCGC terbelah dua: sebagian model terkoreksi, sebagian lagi relatif bertahan.

Sementara LCGC terus melorot, EV justru melesat.

Sepanjang Januari-Juli 2026, distribusi mobil listrik ke diler tembus 87.758 unit. Naik 88,6 persen dari tahun lalu yang cuma 44.404 unit. Kuartal pertama saja BEV sudah 33.150 unit, naik 95,9 persen dibanding kuartal pertama 2025 yang cuma 16.926 unit.

Juli 2026, BYD Atto 1 jadi juara segmen ini: 4.233 unit terjual sebulan. Disusul Jaecoo J5 3.155 unit dan Geely EX2 1.592 unit. Wuling Aira EV, yang baru resmi meluncur 29 Juli 2026, langsung nangkring di posisi empat dengan 721 unit.

Harganya? Aira EV dibanderol Rp155 juta sampai Rp175 juta. Persis di rentang harga LCGC. Motor listriknya 30 kW, baterai 25,1 kWh, penggerak roda belakang, klaim jarak tempuh 300 kilometer versi CLTC, radius putar 4,5 meter.Wuling Air EV, adik kandungnya, bahkan didiskon sampai Rp48 juta di GIIAS 2026. Dari Rp214 juta jadi Rp166 juta untuk varian jarak tempuh 200 kilometer berbaterai 17,3 kWh. Varian jarak jauhnya pakai baterai 26,7 kWh, harga normal sampai Rp307 juta OTR Jakarta. Harga semurah itu, wajar orang mikir dua kali sebelum beli LCGC bermesin bensin.

Yang Jarang Dibahas: Kandungan Lokal

Tapi ada satu angka yang jarang dibahas di tengah hiruk-pikuk EV murah: kandungan lokalnya.

LCGC wajib pakai komponen dalam negeri minimal 80 persen. Aturan mainnya sejak Permenperin No. 33 Tahun 2013. Kenyataannya lebih tinggi lagi. Toyota Agya dan Daihatsu Ayla sudah di angka 92 persen. Sigra dan Calya sama saja, 92 persen.

Bandingkan dengan EV. Tahun 2026 ini syarat TKDN-nya baru 40 persen, sesuai Perpres No. 55 Tahun 2019. Baru naik ke 60 persen di 2027. Baru menyentuh 80 persen di tahun 2030.

Artinya apa? Satu unit LCGC yang laku, hampir seluruh nilainya berputar di pabrik dan bengkel dalam negeri. Satu unit EV murah yang laku hari ini, sebagian besar nilainya masih lari ke luar negeri, terutama komponen baterai dan motor listrik.

Ini bukan soal nasionalisme sempit. Ini soal siapa yang dapat kerja, siapa yang dapat order, siapa yang menggerakkan roda ekonomi di Karawang, Cikarang, sampai Sidoarjo.Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki punya angka yang bikin merinding. Pasar otomotif domestik dalam tiga tahun terakhir turun dari 1 juta unit ke sekitar 800.000 unit. Ditambah lagi, makin banyak EV yang masuk dalam bentuk CBU utuh dari luar negeri, atau cuma dirakit sederhana di dalam negeri, tanpa kontribusi berarti ke industri komponen lokal. Industri komponen pun kini bekerja di bawah kapasitas.

Satu mobil ditopang sekitar 25.000 komponen individual. Ribuan perusahaan ada di rantai pasoknya, dari produsen baut, kabel, sampai jok. Begitu order dari pabrikan berkurang, order ke seluruh rantai itu ikut berkurang.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu dari ITB menyebut pangsa pasar LCGC memang diproyeksikan terus menyusut, seiring harga BEV yang makin kompetitif. Tapi tantangan sesungguhnya, katanya, ada di industri kecil-menengah pemasok komponen mesin konvensional. Sebagian besar komponen utama EV masih bergantung impor. Transisi yang terlalu buru-buru tanpa perlindungan yang matang berisiko melemahkan ekosistem manufaktur lokal yang selama ini menopang industri kendaraan bermesin bensin.

Efeknya sudah kelihatan. Produksi mobil nasional 2025 turun 4,1 persen. Wholesales turun 7,2 persen. Ancaman PHK di industri komponen jadi bayang-bayang sepanjang 2026. Untungnya, ekspor komponen otomotif Indonesia tahun 2025 masih tumbuh, tembus USD 7,5 miliar, setara Rp133,5 triliun. Ekspor jadi penyelamat, sementara pasar domestik loyo.

Latar Belakang LCGC

LCGC lahir tahun 2013. Tujuannya sederhana: bikin mobil murah, hemat energi, dan menggerakkan industri komponen dalam negeri. Selama belasan tahun misi itu berhasil. Agya, Ayla, Calya, Sigra, Brio jadi mobil pertama jutaan keluarga Indonesia. Sekaligus jadi mesin penggerak ribuan pabrik komponen di dalam negeri.

Sekarang eranya bergeser. Orang tetap mau mobil murah, tapi maunya listrik. Ini wajar juga. Cicilan lebih ringan, tidak perlu beli bensin, kelihatan lebih modern.

Tapi jangan lupa tanya: siapa yang bikin baterainya? Siapa yang bikin motor listriknya? Kalau jawabannya masih pabrik di luar negeri, maka setiap EV impor yang laku, bukan industri komponen Indonesia yang menang.

Pemerintah sudah pasang target TKDN EV naik bertahap sampai 80 persen di 2030. Itu jalan yang benar. Tinggal soal waktu, dan soal apakah industri komponen lokal masih cukup kuat bertahan sampai tahun itu tiba.

5 Fakta Kunci

● Wholesale LCGC semester I 2026 anjlok 18,4 persen jadi 55.506 unit, dari 68.038 unit pada periode sama 2025.● Kontribusi LCGC ke pasar otomotif nasional menyusut dari 21 persen (2024) menjadi tinggal 13 persen (semester I 2026).● TKDN LCGC minimal 80 persen sejak 2013, realisasi Agya-Ayla-Calya-Sigra sudah 92 persen. TKDN EV baru 40 persen di 2026, naik bertahap ke 60 persen (2027) dan 80 persen (2030).● Penjualan EV Januari-Juli 2026 melonjak 88,6 persen jadi 87.758 unit, dipimpin BYD Atto 1 (4.233 unit/bulan) dan Wuling Aira EV yang dibanderol Rp155-175 juta, setara harga LCGC.● Ekspor komponen otomotif Indonesia 2025 tembus USD 7,5 miliar (sekitar Rp133,5 triliun), jadi penopang di tengah tekanan pasar domestik dan ancaman PHK di industri komponen.

Topik Menarik